Jerat Ex Pacar

Jerat Ex Pacar
Menolak Lamaran


__ADS_3

Tanisha baru saja selesai memakai pakaiannya kembali. Kemudian mengikat rambutnya dan di arahkan ke atas. Matanya melebar saat melihat prakarya yang dibuat Devan pada kulit lehernya.


"Maassss!!!" Pekik Tanisha begitu melengking di pendengaran Devan.


Dengan langkah menahan nyeri di bagian pangkal paha, Devan menghampiri Tanisha dari arah kamar mandi.


"Kamu kenapa sih, Sayang? Teriak-teriak begitu," tanya Devan.


Mata Tanisha menyipit ketika melihat langkah kaki Devan yang aneh, menurutnya.


"Kamu kenapa jalannya seperti itu, Mas? Nggak gagah banget," karena memang Devan berjalan seperti pinguin.


Devan mendengus kesal, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Tanisha. Mengecup permukaan kulit leher, sehingga membuat Tanisha merasa kegelian.


"Lagian ini gara-gara siapa?" Ucap Devan dengan bibir cemberut.


Tanisha tersenyum melihat ekspresi wajah Devan dari pantulan cermin, tangannya mengusap lembut rahang tegas prianya itu. Tidak ada sosok jahil yang biasa mengganggu dirinya saat ini. Prianya ini terlihat seperti anak kecil yang sedang kesal dengan ibunya.

__ADS_1


"Lagian kamu sendiri yang bandel, Mas. Udah aku peringati, tapi kamu nggak dengerin ucapanku," Tanisha merasa bersalah telah membuat Devan seperti jtu. Tapi dia tidak menyesal, karen itu sebagai peringatan untuk Devan agar tidak macam-macam padanya.


"Kan nanggung banget, Sayang. Tinggal masuknya aja, masa iya disuruh tidur lagi. Kan sakit kalo di PHP-in," Devan ngeles atas tindakannya tadi.


"Iya, Mas. Sakit banget memang kalau di PHP-in itu. Seperti kamu yang selalu ngasih harapan palsu ke aku," ucap Tanisha menyindir Devan.


Devan menyengir, menyadari kesalahannya selama ini. Kemudian tangannya melingkar di perut Tanisha, memeluknya dengan sangat erat dari belakang. Bibirnya tak berhenti menciumi leher Tanisha.


"Maafkan aku, Sayang. Mulai saat ini, aku tidak akan melepasmu lagi. Aku akan ke rumahmu dan memintamu pada orang tuamu," ucap Devan dengan nada tegas. Dia sudah memantapkan tekatnya untuk melamar Tanisha, sebelum dirinya pergi ke luar negeri.


Tanisha terdiam tidak langsung merespon. Dia nampak memikirkan sesuatu. Membuat Devan mengernyit heran, kenapa gadisnya tidak merespon ucapannya.


Bayangannya tentang pernikahan dirinya bersama Tanisha hancur sudah, ketika gadisnya itu menolak lamaran yang bahkan belum ia laksanakan.


"Kenapa, Sha? Bukannya Kita sama-sama saling mencintai?" Devan tidak mengerti apa yang diinginkan gadisnya ini yang sebenarnya.


"Aku ragu, Mas," jawab Tanisha singkat.

__ADS_1


"Apa yang kamu ragukan, Sha? Apa kamu ragu kalau aku nggak bisa mencukupi kebutuhanmu nanti?" Devan melepas rengkuhannya pada Tanisha. Lalu melangkahkan kakinya ke belakang. Membuat jarak antara dirinya dengan Tanisha. Tangannya menyugar rambutnya dengan kasar. Pikirannya menjadi kacau sekarang.


"Mas...," Tanisha mendekati Devan yang kini berdiri agak jauh dengannya.


"Apa maumu, Sha?" Devan nampak frustasi karena penolakan Tanisha.


Tanisha terus melangkahkan kakinya ke depan. Hingga ia sampai tepat di depan Devan. Mengalungkan tangannya ke leher pria itu, meski pria itu sempat menolaknya, tapi Tanisha tetap mengalungkan tangannya ke leher Devan.


Dengan sedikit mengangkat kakinya dan tertumpu pada ujung kakinya, Tanisha mengecup sekilas bibir pria yang kini menampilkan raut muka yang memerah, karena menahan suatu amarah.


Devan tetap tak bergeming saat Tanisha menatapnya dengan penuh kasih sayang. Percuma gadis ini bersikap seperti itu pada dirinya, jika lamarannya saja ditolak.


"Mas... Bukannya aku menolak lamaranmu. Tapi...," dengan sengaja Tanisha tidak melanjutkan ucapannya. Dia ingin melihat rekasi Devan terlebih dulu. Sangat menyenangkan menjahili prianya ini.


"Tapi apa Sha? Apa?" Emosi Devan mulai tersulut, apalagi dengan santainya Tanisha tersenyum kepadanya.


Tanisha tetap terdiam, dia terus mengecup bibir Devan berkali-kali agar emosi prianya itu mereda. Dan hal itu terbukti ampuh. Setelah dirasa Devan mulai tenang, Tanisha melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


Seperti biasa, mohon untuk kerja samanya. Like, komen, gift dan vote. Biar aku semangat lagi, meski cuman level tiga😥


__ADS_2