
"Dan kalau kamu berani memasukinya sekarang, aku akan membencimu seumur hidupku, Mas. Karena kamu telah berani menghancurkan ekspetasiku tentang malam pertama kita nanti," sahut Tanisha menatap tajam ke arah Devan yang tengah berada di atas tubuhnya.
"Malam pertama kita? Itu artinya kamu mau menikah denganku? Lalu tadi yang kamu bilang akan menikah itu...," Devan dibuat bingung dengan perkataan Tanisha. "Kamu nggak jadi nikah sama calonmu itu?" Tanyanya lagi. Ada rasa bahagia di dalam hati Devan saat melihat gelengan kepala Tanisha.
"Yang mau nikah itu Lina, bukan aku. Udah, sekarang Mas minggir. Kasian Lina udah menungguku dari tadi," ucapan Tanisha kali ini membuat Devan semakin frustasi. Bagaimana bisa gadisnya ini menyuruh dirinya untuk minggir, sementara yang di bawah sana sudah siap bertempur.
"Lalu nasibnya 'ini' bagaimana, Sayang? Masa kamu tega membiarkan dia merasakan sakit yang teramat sangat," Devan mencoba membujuk Tanisha kembali.
Tanisha tidak mempedulikan Devan. Dia berusaha menggeser tubuh Devan, tapi gagal. Karena pria itu kini mengunci pergerakan tangan Tanisha.
"Mas...," panggil Tanisha dengan suara yang lembut serta menampilkan tatapannya yang memohon.
__ADS_1
Terlihat begitu imut dan menggemaskan di mata Devan. Bagaimana dia bisa melepas gadisnya dalam keadaan seperti ini. Sekarang tubuh mereka sama-sama polos. Hanya tinggal satu langkah lagi untuk bisa menyatu.
"Jika kamu seperti itu, aku tidak bisa melepasmu begitu saja, Sayang." Ucap Devan. Sekuat tenaga dia mencoba menahan insting pemangsanya.
Belum sempat Tanisha berucap, Devan langsung menyesap bibirnya sangat kuat, lalu turun ke bawah hingga di bagian leher. Devan kembali membuat prakarya nya di sana. Menambah stempel kepemilikannya di tubuh Tanisha. Bisa dipastikan setelah keluar dari ruangan ini, Tanisha membutuhkan kain untuk menutupi lehernya.
"Mas, jangan buat aku memakai kekerasan untuk memperingatkanmu," peringatan pertama Tanisha layangkan pada Devan.
Meski di dalam hatinya Tanisha sangat takut jika Devan akan benar-benar melakukan penyatuan dengannya, apalagi keadaan mereka yang tanpa penghalang, tapi dia berusaha menampilkan sikap yang biasa saja. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan pria ini. Bisa-bisa dirinya di makan sungguhan oleh Devan.
"Kamu beneran nggak kasihan sama 'dia' Sayang?" Tunjuk Devan pada miliknya dengan matanya. Kemudian Devan menempelkan 'itunya' ke milik Tanisha. Sontak saja membuat Tanisha memekik kaget.
__ADS_1
"Mas!" Pekik Tanisha dengan tatapan penuh amarah.
Devan tersenyum, lalu malah mendekatkan wajahnya ke area tubuh Tanisha bagian depan. Di mana terdapat dua aset yang menjadi kesukaan Devan sekarang. Devan menyesapnya dengan sangat kuat salah satu ujungnya, kemudian tangan yang satunya memilin dengan begitu menggoda pada ujung yang lainnya.
Hal itu membuat Tanisha melenguh tertahan. Tangannya meremas kain seprei dengan begitu erat, matanya terpejam. Antara menikmati sensasi yang dihasilkan, dan meluruskan kembali cara kerja otaknya yang sempat belok sebentar.
Dengan satu tarikan napas, Tanisha memusatkan tenaganya pada kakinya. Untuk kemudian langkah yang dia ambil ialah menendang milik Devan dengan sangat keras. Membuat sang pemilik pun langsung menggulingkan tubuhnya ke samping tubuh Tanisha.
"Sayang...!!!" Pekik Devan tertahan, seraya menutup miliknya dengan kedua telapak tangannya. "Kenapa kamu tega menghancurkan kenikmatan masa depanmu ini," lanjutnya diiringi rintihan kesakitan yang keluar dari mulutnya.
Hai... pa kabar kalian? Maaf ya, aku menghilang beberapa hari ini🙏🏻 biasalah... dipermainkan level lagi. Aku sehat-sehat saja kok. Makasih udah khawatir ma aku. Sebenarnya aku masih mau ngambek lama, tapi yasudahlah aku nggak tega sama kalian yang nanyain aku terus.
__ADS_1
Kalian pasti tau, kan? cara kerjaku gimana? aku selalu menyelesaikan apa yang aku mulai. Ya... meski dihiasi adegan kabur-kaburan, sih🤣