
Saat Tanisha ingin menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba saja mamanya tidak jadi keluar dari mobil. Karena ada barang yang tertinggal di jok bagian belakang kemudi. Barang itu yang akan Karina berikan pada temannya itu. Setelah berhasil mengambil barang itu, Karina beranjak turun dari mobil.
Namun, belum sempat pintu tertutup kembali, pintu gerbang rumah teman Karina itu terbuka dari dalam. Munculah sosok pria yang sangat Tanisha kenali.
"Eh, Nak Tama," sapa Karina. "Mau kemana, Nak?" tanya Karina begitu ramah. Sedang, orang yang dipanggil Tama tersebut menganggukkan kepalanya dengan sopan. Lalu meraih tangan Karina, untuk kemudian ia cium penuh takzim.
"Ada perlu dengan teman, Tante. Tante ke sini sama siapa?" tanya orang yang bernama Tama tersebut seraya melirik ke arah mobil yang ditumpangi Tanisha.
"Dengan putri Tante, Nak," jawab Karina.
Kemudian Karina membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Tanisha yang masih setia di dalam mobil.
Tanisha nampak bingung dengan sebutan pria itu. Sejak kapan nama pria tersebut berubah? Dan bagaimana bisa mamanya kenal dengan pria itu?
__ADS_1
"Sayang, turun dulu, gih. Sapa dulu putranya Tante Diva, Nak Tama namanya," kata Karina. Dengan malas, mau tidak mau Tanisha menuruti perintah mamanya.
Devan nampak memperhatikan orang yang tengah disuruh turun oleh teman mamanya itu. Sama halnya dengan Tanisha tadi, Devan juga nampak terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini. Gadis yang mampu mengacaukan pekerjaannya dua hari belakangan ini.
Karena pikirannya selalu mengarah ke gadis ini, membuat Devan tidak bisa mempercepat pekerjaannya di sini. Tentu saja Langit tidak akan mengijinkan Devan pergi, sebelum Devan menyelesaikannya dengan sempurna. Karena itu merupakan perjanjian yang mereka buat sebelum Devan resign dari perusahaan Bagaskara Corp.
Tanisha keluar dari dalam mobilnya, lalu melangkah dengan malas menuju mamanya. Matanya tak menatap ke arah Devan sedikitpun.
"Nak Tama, kenalin ini putri Tante," kata Karina seraya menarik tangan Tanisha agar lebih dekat lagi dengannya.
"Tama," ucap Devan memperkenalkan diri pada Tanisha. Aneh rasanya jika memperkenalkan dirinya kembali kepada mantan kekasihnya itu.
"Nisha," jawab Tanisha ketus. Tentu saja dia mendapat peringatan dari Karina.
__ADS_1
"Sayang, yang sopan dong jawabnya," tegur Karina.
Bukannya Karina tidak mengetahui kalau Devan itu adalah kekasih putrinya. Dia sudah menyelidiki sebelumnya, apa penyebab putrinya itu berubah murung akhir-akhir ini. Lebih parahnya lagi, dua hari belakangan putrinya itu selalu menangis setiap malam.
Karina juga menggali informasi dari Erlangga, putra sulungnya. Tentu saja Erlangga menceritakan semua perjalan asmara sang adik kepada mamanya. Tanpa dia tutupi sedikit pun.
"Masuk dulu, Tan. Mama sudah menunggu kedatangan Tante dari tadi," ucap Devan mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumahnya. Akan sangat tidak sopan jika mereka ngobrol lebih lama di depan gerbang.
"Ayo, Sayang. Kita masuk dulu. Sapa Tante Diva terlebih dulu, baru kamu pergi ke butik GN," kata Karina seraya menarik tangan Tanisha. Sementara tangannya yang satu lagi ia gunakan untuk membawa barang oleh-oleh buat diberikan kepada Tante Diva.
Agak berat Tanisha melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Devan, tapi dia tidak bisa pergi begitu saja. Dia tidak mau mempermalukan mamanya.
Devan tersenyum melihat wajah Tanisha yang terpaksa seperti itu. Lalu dengan tingkah jahilnya, Devan menyentuh tangan Tanisha yang berjalan di depannya. Tentu saja hal itu membuat Tanisha menoleh ke belakang. Ia mendapati wajah Devan yang menyengir tanpa rasa bersalah. Tanisha memutar bola matanya jengah. Hal itu membuat Devan tertawa tanpa suara. Devan begitu merindukan masa-masa seperti ini.
__ADS_1
Kemudian mereka semua masuk ke dalam rumah, diiringi tingkah Devan yang tak berhenti menjahili Tanisha di sepanjang perjalanan mereka menuju ruang tamu.
Jangan nanya Devan kok dipanggil Tama🙄 ingat lagi, siapa nama belakang Devan😉