
Tanisha tersenyum puas saat melihat wajah Devan yang merah padam akibat ulah dirinya. Dia hanya ingin menguji pertahanan Devan, sampai mana pria keras kepala itu bisa bertahan dengan sikap yang tidak pernah dia perlihatkan pada Devan.
"Ya sudah yuk, Mas, kita pulang. Nanti keburu malam. Nggak enak sama paman nya Lina kalau kita ngantarnya terlalu malam," ucap Tanisha seraya berdiri. Dia tidak bisa dengan mudahnya menyentuh Viko, karena ada hati yang harus dia jaga. Siapa lagi kalau bukan Lina, meski Lina bilang tidak apa-apa.
Tanisha berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Devan. Dia seakan terlalu asik bersenda gurau dengan Lina dan juga Viko. Hal itu semakin membuat Devan geram. Karena Tanisha melewati meja Devan begitu saja.
"Tahan, jangan gegabah. Katanya mau memantaskan diri terlebih dulu? Massa gini aja udah mau nyerah," bisik Samuel mengingatkan rencana Devan. Devan pun menuruti kata Samuel.
Luntur sudah senyum Tanisha di bibirnya. Ternyata anggapan dirinya selama ini salah. Saat melihat reaksi Devan yang biasa saja tidak mengejar dirinya saat tahu dirinya sedang berjalan dengan pria lain. Apa benar kamu sudah nggak mencintaiku lagi, Mas? Tanya Tanisha di dalam hati. Tanpa ia sadari, air matanya pun menetes. Jika tahu dengan cara ini malah akan menyakiti hatinya, ia tidak akan melakukannya.
__ADS_1
Tanisha memilih pulang sendiri daripada bersama Lina dan Viko. Dia ingin menyembuhkan hatinya terlebih dulu, sebelum besok ia akan berusaha lebih keras lagi untuk meluruhkan pria keras kepala itu.
Melihat Tanisha yang pulang mengendarai mobil sendiri, membuat Devan tidak tega. Dia menyuruh Samuel pulang dengan naik taxi. Karena dirinya akan mengikuti gadisnya itu sampai tempat tujuan.
Tanisha menyalakan mesin mobil, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tidak bisa menambah kecepatan, karena jalanan masih padat oleh pengendara lain.
Saat berada di jalan yang cukup sepi oleh pengendara, tiba-tiba saja mobil Tanisha berhenti. Devan mengernyit heran, kenapa gadisnya itu berhenti di tempat yang sepi. Devan sedikit memberi jarak antara mobilnya dengan mobil Tanisha. Tidak berapa lama, Tanisha keluar dari dalam mobil dengan wajah yang nampak panik. Membuat Devan merasa khawatir.
Tanisha mengeluarkan ponselnya, jemarinya mulai memilah kontak yang tersimpan di dalam ponselnya. Untuk kemudian ia mendial nomor tersebut. Setelah sambungan tersambung dengan nomor yang dituju, Tanisha mulai membuka suaranya kembali.
__ADS_1
"Jemput aku di jalan Tamrin no. 5. Bawa sekalian temanmu, karena mobil yang aku tumpangi bannya kempes." perintah Tanisha pada seseorang yang dia hubungi melalui ponselnya.
Devan sangat penasaran, siapa yang dihubungi oleh Tanisha saat ini. Mau mendekat, takut ketahuan kalau dirinya sedari tadi membuntuti gadisnya itu. Tidak mendekat, jiwa penasarannya sangat tinggi. Namun, akhirnya dia memilih memperhatikan Tanisha dari tempatnya yang masih bisa menjangkau gadisnya itu.
Selang beberapa menit, tibalah satu unit mobil mewah berwarna hitam mendekat ke tempat mobil Tanisha berhenti. Devan menajamkan pandangannya, karena memang kondisi lampu dijalan itu tidaklah terlalu terang.
Nampak tiga orang yang keluar dari dalam mobil tersebut. Dengan tubuh yang kekar, tiga pria itu melangkah mendekat ke arah Tanisha yang sedang mengajarkan tubuhnya di kap bagian depan mobil.
Devan semakin dibuat khawatir saat ada salah satu diantara orang itu berdiri di samping Tanisha. Devan tahu, kalau itu bukanlah kakaknya Tanisha, Erlangga. Devan mengurungkan niatnya yang ingin keluar dari dalam mobilnya, dan kemudian menghampiri Tanisha, saat melihat Tanisha tertawa dengan mereka.
__ADS_1
"Siapa mereka? Ada hubungan apa Nisha dengan mereka? Sepertinya mereka bukanlah anggota dari keluarga Elajar," Devan semakin tidak mengetahui siapa Tanisha sebenarnya. Rahasia apa saja yang dia sembunyikan dari dirinya. Devan merasa belum mengenal gadisnya selama ini.
Masih mau gila lagi nggak?😌 yang sportif dong jempolnya😒