
Sudah 2 hari ini Raya hanya berada di dalam kamar, karena kakinya bengkak dan susah untuk di gerakkan, ketika hendak ke kamar mandi ataupun keluar sebentar Raya harus di papah oleh Yana. karena peralatan yang kurang tidak ada kruk, serta kaki Raya hanya di rawat dengan alat seadanya saja oleh kedua temannya.
Raya sudah bosan hanya berada dikamar saja. Tadi ketika Raya ingin keluar untuk mencari udara segar Yana sudah ada di depan pintu dengan muka judes memarahi Raya untuk istirahat saja di dalam kamar.
" ngapain kamu?" tanya Yana dengan muka judes seperti ibu yang sedang memarahi anaknya yang bandel.
" em.. itu ak....u mau am..bil air minum." gagap Raya seperti anak kecil ketahuan mencuri.
" tunggu di dalam biar aku ambilkan semua kebutuhanmu, untuk satu hari ini!" titah Yana sambil berlalu menyiapkan kebutuhan Raya yang akan mereka tinggal untuk melakukan cek kesehatan keliling di desa sebelah yang harus menyebrangi sungai dengan melawan arus sekitar 1 jam perjalan menggunakan perahu kecil.
Padahal ada banyak kegiatan yang sudah mereka agendakan yang harus mereka tangani. karena ini adalah bulan terakhir mereka bersama disini, bulan depan ada perpindahan tempat untuk mereka. sebenarnya bukan karena tugas mereka sudah selesai tapi masih banyak desa yang sangat membutuhkan tenaga medis di tempat lain. sedangkan, di daerah tersebut masih bisa di tangani oleh dokter baru yang berasal dari daerah itu juga.
" ini semuanya sudah aku tarok di atas meja" jelas Yana." kira-kira ada yang kurang nggak?" tanya Yana pada Raya.
" kayaknya nggak Yan. makasih ya. maaf udah ngerepotin." pinta Raya yang merasa bersalah kepada teman-temannya.
" santai ja.." jawab Yana sambil berlalu.
Tidak berapa lama Yana kembali lagi kedalam bersama Beni untuk berpamit kepada Raya, karena meraka hendak pergi.
" kamu di rumah nggak usah bandel, Ra!" perintah Beni.
" iya ." jawab Raya memelas.
" kasihan Yana udah kayal emak-emak anak satu thu lihat kamu sakit gini..." ejek Beni sambil bercanda. "kemaren ja dia nangis sendirian di pojokan lihat kamu di urut sama dukun pijet.." tambah Beni menggoda Yana yang sempat tidak tega melihat Raya kesakitan ketika di urut.
Sebenarnya Raya tidak mau di urut tapi kepala desa sudah dan warga yang tau Raya jatuh dengan cepat memanggil dukun pijat tanpa sepengetahuan mereka dan membawanya ke rumah. untuk menghormati dan menghargai bantuan warga desa, Raya akhirnya mau di urut meskipun sudah menangis kesakitan sejak awal di pegang saja.
" siapa juga yang nagis?" omel Yana sambil memukul lengan Beni sekeras yang dia bisa.
" alah, sok nggak perduli padahal yang paling takut Raya kenapa-kenapa..." ejek Beni ke Yana.
" ya..kan kalau Raya sakit nggak ada yang bantuin aku.." jelas Yana.
__ADS_1
"kan ada aku?" jawab Beni sombong.
" kamu thu bisa apa?" tanya Yana menantang Beni.
" aku bisa semuanya kok..!" jawab Beni sombong.
" contohnya?" tanya Yana meminta penjelasan.
" aku bisa masak nas..." belum sempat beni menjelaskan sudah di potong oleh Yana.
"gosong!" potong Raya.
" aku bisa nya..."
" masih kotor dan di bawah meja nggak kamu sapu" potong Yana lagi.
" jemur pa..."
" jatuh semua...bukannya selsai malah nambah kerjaan." jawab Yana yang memang pernah menyuruh Beni membantu menjemur pakai malah harus menyuci pakai lagi untuk kedua kalinya.
" Sudah sana pada berangkat, nanti kalian telat..." kata Raya menengahi.
" kamu jangan kemana-mana, kalau butuh apa-apa tunggu mak ngah datang, paling sekitar jam 9 dia kesini." titah Yana. Yana sebenarnya orang yang sangat perhatian dan perduli dengan orang lain. namun, dia adalah orang yang sangat sulit untuk beradaptasi ataupun mengungkapkan perasaannya.
" siap komandan" jawab Raya sambil mengambil sikap hormat kepada Yana agar Yana tidak terlalu khawatir.
" biar besok cepet sembuh Ra.... biar Yana nggak ngomelin aku muluk.." pesan Beni sambil pura-pura berbisik.
"kamu kalau mau bisik-bisik yang bener, Ben.. aku masih denger ya...!" Oceh Yana sambil menjewer kuping Beni dan menariknya keluar dari kamar tempat Raya beristirahat.
" i..ya ma..af.....a...duh...sa...kit...Yan.." permintaan maaf Beni masih terdengar sampai ke dalam kamar Raya.
Raya sudah mulai bosan berada di dalam kamar sendirian. padahal, sedari tadi Raya sibuk membaca buku dan mencoba membuat draf laporan untuk bulan terakhir mereka agar besok tidak terlalu sibuk di akhir bulan.
__ADS_1
Karena bosan Raya mencoba melihat isi chat di Hpnya siapa tau saja ada sinyal dengan ajaibnya datang ke Hpnya. harap Raya.
Benar saja ketika Raya mengatifkan pakai datanya, ada beberapa pesan masuk di chatnya yang membuat Raya bingung sekaligus ragu apakah dia mulai berhalusinasi karena sudah merasa kesepian disini. Akhirnya Raya mercon menepuk pipinya agar sadar kalau ini hanya halusinasinya saja, tapi pipinya hanya terasa sakit dan sinyal Hpnya masih saja baik-baik saja. malah ada pesan masuk lagi dari ibunya.
Raya yang masih agak bingung di kagetkan dengan kedatangan mak ngah yang masuk ke kamar Raya tanpa di suruh. Karena Raya dari tadi tidak menjawab panggilan mak ngah.
" mak ngah kok disini?" tanya Raya.
" tadi sudah di pangg tapi tak jawab." jelas mak ngah . " Mak kira Raya kenapa-kenapa."
" em...mak ini coba lihat Hp saya!" pinta Raya sambil menyerahkan Hpnya kepada mak ngah.
" Hpnya kenapa?" tanya mak ngah bingung membolak-balikan Hp Raya.
Raya menepuk jidatnya sendiri karena tau mak ngah tidak faham cara menggunakan Hp tersebut. "Hpnya kok ada sinyal?" tanya Raya.
mak ngah berfikir keras mendengar pertanyaan Raya, mengingat kata-kata sinyal yang baru saja Raya sebutkan. " sinyal itu yang buat nelpon pakai Hp kan?" tanya mak ngah ragu.
Raya yang tidak begitu berharap hanya mengangguk pelan sambil membolak-balikan Hpnya.
" o...itu.. pak kepala desa di bantu si Andi anak sini yang kerja di kota. anaknya orang paling kaya didesa, itu masang tiang tinggi, katanya buat sinyal. kalau nggak salah gitu dok." jelas mak ngah.
Raya yang mendengar penjelasan mak ngah hanya menganguk kan kepala, memahami situasinya.
" Kan anak kepala desa sekolah di kabupaten, jarang pulang. Jadi, kalau ada apa-apa suka telpon lewat Hp, terus kemaren bu dokter kan jatuh karena nyari sinyal jadi ibu kepala desa ngomel terus minta pindah saja atau gimana caranya buat nanti kalau nelpon anaknya biar mudah." jelas mak ngah.
"o.." Raya hanya ber 'o' saja memahami situasinya.
" kan bu dokter tau sendiri kalau bu kepala desah mah cerewetnya ngajakan kereta api...berisik banget kayak nyamuk ngumpul kalau maunya belum di turutin. kebetulan itu Andi pulang ya bantu calon mertua masang antena. itu kan si Andi mantu idamannya pak kepala desa." mak ngah yang memang suka bergosip jadi bercerita panjang kali lebar tentang seluk beluk siapa dan asal usul dari si penegak tiang.
Raya yang mendengar itu sengaja mengangguk-angguk kepala saja sambil memakan cemilan yang disiapkan oleh Yana. Daripada sepi mendingan dengerin gosip dari mak ngah yang sebenarnya Raya tidak begitu tau siapa saja orang yang di ceritakan oleh mak ngah, karena Raya seorang yang pelupa dengan nama dan wajah orang. butuh waktu yang lama agar Raya dapat mengingat nama dan wajah orang lain.
***
__ADS_1
---