
Setelah menelpon beberapa kali akhirnya panggilan telpon itu dia angkat juga oleh orang di sebrang sana.
"Gun, kalian dimana?" Ucap Raya cepat. "Aku mau ngomong sama Rasyid sebentar!" Jelas Raya.
"Ngomong aja!" Suara di sebrang sana begitu dingin membuat Raya membeku seketika, mendengar suara itu.
***
Raya mencoba mencari mobil yang bisa mengantarkannya menuju kabupaten malam ini juga. Sekarang dia yang harus meluruskan apa yang sebenarnya terjadi.
Semua karena kebodohannya sendiri yang selalu menyimpulkan semua atas apa yang ia lihat dan dengar, tanpa mau bertanya langsung kepada Rasyid.
Raya berangkat dari desa sekitar pukul 15.00, menggunakan mobil pick up, kebetulan ada orang yang hendak mengantarkan hasil pertanian dan juga belanja untuk mengisi toko kelontong ke kabupaten.
Raya duduk di kursi depan bersama pemilik mobil dan juga istrinya. Raya tahu mereka hendak pergi dari bu Darsih yang kebetulan pulang belanja dari warung mereka.
Raya duduk di kursi mobil itu dengan begitu gelisah, meremas jari jemarinya dengan cemas, sesekali ia melihat layar ponselnya. Raya mencoba tetap menghubungi Gunawan yang sedang bersama Rasyid, Raya meminta tolong kepada Gunawan untuk swbisa mungkin menahan Rasyid agar tidak langsung pulang ke Jakarta dengan jadwa penerbangan malam ini juga.
Namun, Raya tidak mendapatkan jawaban apapun dari permintaannya kepada Gunawan. Pesan yang Raya kirim kepada Gunawan hanya di baca saja sejak 30 menit yang lalu. Hal itu membuat Raya semakin gelisah dan juga duduk dengan tidak nyaman di mobil yang memang sesak untuk dinaiki oleh tiga orang itu.
"Bu dokter nggak nyaman ya naik mobil ini, atau sempit?" Tanya istri pemilik mobil yang merasakan Raya terus saja bergerak sejak tadi.
"Bukan bu, saya nyaman saja naik mobilnya!" Ucap Raya cepat, Raya takut pemilik mobil dan istrinya akan tersinggung. "Saya sedang cemas dengan tujuan saya ikut ibu dan juga suami ke kabupaten." Jelas Raya.
"Minum dulu saja bu!" Tawa sang pemilik mobil dengan masih fokus menyetir. Pemilik mobil itu memberikan isyarat kepada istrinya untuk memberikan botol air mineral yang ada di dalam laci mobil kepada Raya.
"Ini bu dokter!"
"Terimakasih" Raya tersenyum menerima uluran botol air mineral yang di berika orang-orang baik ini.
Setelah minum, Raya merasa lebih tenang. Selain itu pemilik mobil yang ia tumpangai dan istrinya cukup baik dan ramah. Sepanjang perjalanan Raya di ajak bercerita tentang hal-hal menarik yang ada di sekitar desa tempatnya mengabdi yang belum Raya ketahui.
Di tengah perjalanan ketika mereka sedang asyik bercerita banyak hal, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi terperosok kedalam jalan yang berlubang. Beberapa kali mobil di gas dengan sangat kuat, namun tidak juga bisa.
Akhirnya pemilik mobil dan juga Raya keluar dari mobil, melihat apa yang terjadi.
"Pak, ban sebelah sini dalam sekali!" Ucap Raya memanggil pemilik mobil.
__ADS_1
Pemilik mobil mengecek ban yang dimaksud dokter cantik tersebut.
"Aduh, mana sepi lagi jalanannya !" Keluhnya sambil melihat ke kiri kanan jalanan yang sepi tanpa ada satu mobil pun yang melintas.
"Tanahnya lembut nggak pak kira-kira?" Tanya Raya sambil melihat tanah sedang ia pijak.
"Sepertinya lumayan keras bu dokter!" Jawab pemilik mobil tersebut.
"Gimana pak?" Tanya istrinya yang hanya mengeluarkan kepalanya saja dari dalam mobil.
"Nggak tahu ni bu, gimana!" Keluh pemilik mobil itu bingung.
"Ibu bisa nyetir?" Tanya Raya kepada sepasang suami istri di depannya.
"Memang kenapa?" Tanya si suami heran dengan pertanyaan Raya.
"Kalau ibu bisa nyetir, ibu saja yang nyetir. Biar saya dorong mobil dengan bapak, Kalau tenaga bapak kan seharusnya lebih kuat." Jelas Raya.
"Saya nggak bisa nyetir bu!" Jawabnya sambil turun melihat ban mobil yang hanya terlihat setengahnya saja.
"Kita tunggu orang lewat saja kalau begitu bu dokter!" Pasrah si bapak pemilik mobil.
"Saya bisa nyetir, gimana kalau saya yang pegang kemudi?" Tawar Raya. "Tapi sebelum itu sepertinya kita butuh balok atau kayu yang cukup besar untuk membantu mengeluarkan ban dari lubang ini. " Jelas Raya meneliti.
Raya sering melihat kejadian seperti ini, jadi dia sudah bisa tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Raya juga mencoba untuk tidak terlalu panik, agar bisa mencari solusi terbaik.
Mereka bertiga melihat sekitar dan mencari balok atau kayu dari pepohona di sekitar sana yang bisa mereka gunakan untuk membantu.
"Segini bisa nggak?" Tanya si istri pemilik mobil memperhatikan kayu pohon yang cukup besar, dan sepertinya bisa di gunakan.
"Bisa!" Jawab Raya cepat.
Raya dan pemilik mobil membantu untuk mengangkat balok kayu dan menyelikannya di bawah ban yang terperosok kedalam jalan yang berlubang itu.
Setelah di rasa persiapan dan berdiskusi apa saja yang harus di lakukan Raya duduk di kursi kemudi untuk bermanufer dengan setir mobil itu, agar mereka bisa langsung melanjutkan perjalanan.
Beberapa kali Raya dan sepasang suami istri pemilik mobil yang terperosok itu mencoba untuk keluar dari lubang, tapi gagal. Hingga keluar asap dari bawah ban mobil, karena terlalu panas ban mobil yang terus bergesekan dengan tanah.
__ADS_1
Mereka sudah mulai putus asa, hingga Raya memberi semangat kepada keduanya.
"Kita coba sekali lagi!" Ucap Raya. "Kita pasti bisa!"
"Ayok lah!" Jawab keduanya.
"Brem...brem..." Akhirnya mobil itu keluar juga dari jalanan yang berlubang itu.
"Alhamdulillah" Raya beseru dengan sangat keras ketika sudah berhasil.
Mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan yang lumayan menguras energi ini. Kaki dan juga tangan pasangan suami istri tersebut sudah penuh dengan lumpur jalan yang lumayan banyak. Sedang Raya yang tidak ikut mendorong mobil dari belakang, hanya kakinya sudah penuh dengan lumpu.
Bahkan alas kaki yang di gunakan Raya sudah hampir putus karena tidak bisa diangkat lagi dan lengket dengan tanah.
Mereka tidak lagi berhenti untuk makan ataupun sekedar membersihkan diri. Pasangan suami istri itu harus cepat sampai ke tujuan mereka sebelum tempatnya tutup karena sudah terlalu malam.
Raya berterimakasih kepada pasangan suami istri yang telah berbaik hati memberi dia tumpangan menuju kabupaten ini, sebelum masuk ke dalam hotel tempat Rasyid dan Gunawan menginap malam ini.
"Raya?" Panggil orang dari balik punggung Raya sambil menepuk pundaknya.
***
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (14 bab)
Brondong Meresahkan (14 bab)
__ADS_1