
"Pemiliknya takut razia polisi?" Tanya Raya yang sudah faham dengan maksud dari sopir yang duduk tepat di depannya itu.
"Ya seperti apa yang ada dalam kepala ibu dokter saja!" Jawab sopir itu.
***
Raya hanya menggelengkan kepalanya pusing dengan tingkah beberapa oknum orang-orang yang berkuasa dan beruang di negri tercintanya ini. Yang hanya mementingkan keuntungan untuk dirinya sendiri.
Dengan orang-orang yang bertindak sesuka hati mereka sendiri untuk memperoleh ke untungan bagi diri mereka sendiri dengan uang maupun kekuasaan yang mereka miliki.
"Berapa banyak kerusakan lingkungan dan fasilitas umum yang telah mereka korbankan untuk diri mereka sendiri?" Gumam Raya prihatin sambil menghela nafas panjang dan berat.
Raya memandangi jalanan yang rusak parah akibat mobil-mobil tambang dengan kapasitas di atas standar, melalui jalanan umum ini.
Gumaman Raya masih bisa di dengar oleh sopir yang duduk di depannya, dari kaca spion tengah mobil.
"Jangan terlalu di pikirin bu dokter?" Jawab sopir itu menenangkan.
"Nggak bisa pak, seharusnya ini PR kita semua!" Ucap Raya.
Belum sempat sopir menjawab mobil berhenti karena mobil yang berjalan di depan mereka berhenti.
"Kenapa pak?" Tanya Raya sambil melihat ke arah depan.
"Sepertinya mobil depan rusak!" Jawab sopir sambil memperhatikan orang yang turun dari mobil depan, yang berjalan ke arah kap mesin.
"Lihat ja dulu pak, siapa tahu ada yang bisa bapak bantu di depan sana." Ucap Raya.
Karena jalanan yang rusak parah, tidak ada jalan untuk mobil yang di tumpangi Raya bergerak maju, ketika mobil yang berada di depannya berhenti. Jadi dari pada menunggu lebih baik lihat apa yang terjadi.
"Kenapa berhenti?" Tanya bu Darsih yang baru saja bangun dari tidurnya sepanjang perjalanan ini.
"Mobil yang di depan sepertinya rusak!" Jawab Raya sambil menunjuk mobil di depannya menggunakan tangan kanannya.
Bu Darsih melihat ke arah yang di tunjuk oleh Raya. "Udah dari tadi?" Tanya bu Darsih.
"Belum bu, baru saja!" Jawab Raya.
Raya dan bu Darsih melihat sopir itu berbicara dengan orang dari mobil di depan cukup lama, lalu dia kembali ke mobil dengan cukup panik dengan muka lumayan cemas.
"Kenapa?" Tanya Raya yang juga ikut panik melihat muka si sopir.
"Itu bu, ada pasien darurat di mobil depan!" Jelas sopir itu.
"Sebentar!" Pinta Raya.
Dengan sigap Raya mengambil beberapa peralatan medis yang telah ia bawa dalam tas jinjingnya. Lalu Raya cepat keluar dari mobil dan berlari ke arah mobil depan.
__ADS_1
Raya dengan sigap hendak membantu pasien yang ada di dalam mobil. Namun, di cegah oleh seorang pria yang mengaku sebagai kakek dari pasien yang sakit di dalam mobil itu.
"Saya tidak mau cucu saya di tolong orang tidak jelas!" Caci sang kakek sambil mengangkat tangannya.
"Saya dokter pak!" Ucap Raya.
"Mana buktinya?" Tantang lelaki tua itu.
"Sebentar!" Ucap Raya sambil merogoh saku bajunya.
Raya mencari dari saku kanan ke saku kiri, tapi tidak di dapatnya. Lalu kembali mencari di saku celananya.
"Mana?" Tantang sang Kakek dengan tidak sabar melihat tingkah Raya.
Tanpa menjawab, Raya berlari ke arah mobilnya. Raya mencari KTA (Kartu Tanda Anggota) ikatan dokter yang ia letakkan di dompet.
"Bu Darsih lihat dompet saya?" Tanya Raya agak panik.
"Itu coba di tas baju bu dokter!" Tunjuk bu Darsih yang memang membatu Raya mengemas keperluannya tadi pagi.
"Nggak ada bu!" Ucap Raya panik.
"Di tas bagian samping kiri!" Jelas bu Darsih sambil menunjuk letak dompet Raya.
Raya mengikuti petunjuk dari bu Darsih dan mendapatkan dompetnya. Raya berlari lagi ke mobil depan sambil membuka dompet dalam genggamannya mengambil apa yang dia perluka, dan menunjukkannya kepada lelaki tua yang mengaku sebagai kakek dari anak yang sedang sakit di dalam sana.
"Tunggu, ini bisa saja palsu!" Hardiknya tidak memperbaiki Raya mendekati cucunya.
Raya yang sudah mulai frustasi dengan tingkah orang di depannya ini dengan berani menantangnya.
"Gini ja kalau saya tidak bisa membantu anda bisa langsung tuntut saya, ini dompet saya!" Ucap Raya menyerahkan dompetnya. "Di situ ada KTP saya anda bisa dengan mudah mencari saya!" Ucap Raya.
Ketika kakek itu hendak menjawab lagi, seorang wanita tua yang sedari tadi hanya mendengarkan pertengkaran Raya dan sang kakek, akhirnya turun dari mobil.
"Kek, biar di coba dulu!" Ucap Wanita tua itu lembut. "Daripada tidak ada tindakan sama sekali!" Wanita tua itu mengelus lengan sang kakek untuk menenangkan.
Sang kakek akhirnya diam, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lalu mengangguk, memberi Raya izin untuk menolong cucunya di dalam mobil.
Dari tindakan keduanya, Raya dapat menenbak bahwa mereka berdua adalah sepasang suami istri.
Raya lalu bergegas kedalam mengecek kondisi sang anak yang Raya perkirakan sekitar umur 9 atau 10 tahun itu.
Raya memberi alat bantu pernafasan kecil yang ada di dalam tas medis yang selalu di bawanya. Raya lalu mengintruksi orang untuk menjauh dari pintu mobil, agar si anak dapat bernafas dengan lebih nyaman.
"Tolong yang tidak berkepentingan menjauh sedikit!" Perintah Raya.
Beberapa orang yang memang terjebak macet di sini dan tadi mendengar pertengkaran Raya dan juga Kakek, menjauh sedikit, tapi masih mencoba melihat apa yang sedang Raya kerjakan.
__ADS_1
"Nek, bantu saya melonggarkan pakaian!" Ucap Raya meminta bantuan sang nenek yang berada tepat di sebelah anak ini.
Lalu perempuan tua itu memegangi cucunya, membantu membuka kancing baju cucu sedikit untuk membuat cucunya lebih nyaman.
Raya juga membatu anak itu duduk bersandar di kursi itu dengan senyaman mungkin.
"Sudah nyaman?" Tanya Raya pada gadis kecil itu,
Pertanyaan Raya hanya di jawab dengan anggukan kecil oleh anak itu.
Sang nenek sesekali mengusap kepala gadis kecil itu dengan sangat sayang.
"Tarik nafas dalam-dalam dari hidung!" Perintah Raya sambil mencontohkan kepada gadis kecil itu.
Perintah Raya di ikuti dengan benar oleh sang gadis kecil sesuatu intruksi.
"Tahan sebentar!" Perintah Raya.
Raya sambil menghitung kapan waktunya untuk menghembuskan nafas, agar sesaknya berkurang.
"Hembuskan lewat mulut!" Perintah Raya, Raya juga sambil memberi contoh.
Beberapa menit metode tarik nafas dari hidung dan ditahan sebentar, lalu di keluarkan dari mulut ini di lakukan hingga sang anak dapat bernafas dengan lebih baik walaupun dengan masih tersengal-sengal.
Gadis kecil itu sudah bisa mulai berbicara dengan lancar dan mengucapkan terimakasih kepada Raya.
"Terimakasih kakak cantik!" Ucap gadis kecil itu sambil memuji Raya.
***
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (12 bab)
Brondong Meresahkan (12 bab)
__ADS_1