
Gadis kecil itu sudah bisa mulai berbicara dengan lancar dan mengucapkan terimakasih kepada Raya.
"Terimakasih kakak cantik!" Ucap gadis kecil itu sambil memuji Raya.
****
Raya yang mendengar ucapan terima kasih dari gadis kecil yang berada di depannya sangat senang dan bersyukur, dapat membuatnya.
"Jangan terlalu banyak pikirkan!" Ucap Raya mengusap kepala gadis kecil itu sayang. "Kamu cukup nikmati hidup yang kamu jalani saja!" Nasihat Raya.
"Apa di sakit karena banyak masalah di rumah?" Tanya sang nenek khawatir dengan kondisi sang cucu.
"Bisa jadi!" Jawab Raya sambil memberikan obat kepada gadis kecil di hadapannya.
"Apa kamu mau bercerita?" Tanya Raya lembut.
Anak perempuan itu menatap Raya, lalu menatap sang nenek seperti meminta persetujuan.
Sang nenek menggeleng pada sang cucu, lalu tersenyum kepedean Raya.
"Terimakasih bu dokter!" Ucap sang nenek.
"Iya sama-sama nek, kalau ada masalah tolong jangan sampai adeknya tahu ya nek!" Pinta Raya sopan sambil berbisik pelan, agar sang gadis kecil itu mendengar pembicaraannya.
"Akan saya usahakan!" Ucap nenek sambil tersenyum.
"Sepertinya gejala asma yang di alaminya karena stres, atau biasa di sebut Asma Induksi-stres" Jelas Raya.
(Stress menimbulkan perubahan psikologis pada tubuh seseorang. Perubahan tersebut kemudian akan memaksa tubuh mereka memproduksi histamin dan leukotrin dalam jumlah besar. Reaksi inilah yang kemudian akan menyebabkan penegangan otot-otot di sekitar saluran nafas yang memicu timbulnya serangan asma)
"Apakah berbahaya?" Tanya Sang nenek cemas deng kondisi cucunya.
"Tidak begitu parah asal di tangani dengan benar." Jelas Raya.
"Apakah butuh penanganan khusus?" Tanya Nenek lagi.
"Kalau memungkinkan bisa konsultasi ke dokter spesialis ja." Saran Raya. "Saya kembali ke mobil saya dulu!" Pamit Raya sopan.
"Terimakasih sekali lagi!" Ucap nenek.
"Kakak cantik, terimakasih!" Ucap gadis kecil itu sambil memberikan gelang yang tadi di pakainya.
Raya menerima gelang pemberian gadis kecil itu, lalu mengusap rambut depannya dengan penuh rasa sayang.
"Kamu punya nenek yang sayang banget sama kamu, dan Kakek yang akan selalu menjaga kamu. Jangan sakit-sakit lagi ya!" Ucap Raya memberi semangat.
Di jawab dengan anggukan oleh gadis itu, lalu tersenyum.
Raya lalu keluar dari mobil lalu di sambut oleh sang kakek dengan wajah yang begitu tegang.
__ADS_1
Raya sudah cemas saat melihat wajah sang kakek itu. Raya yang sudah lelah malas untuk berdebat lagi dengannya memilih hanya akan diam saja dan pasrah dengan semua apa yang terjadi nanti.
Raya berniat hanya mendengarkan saja ocehan sang kakek dari gadis kecil itu.
"Te...teri..ma..kasih" Ucap kakek itu dengan terbata.
Raya yang mendengar ucapan sang kakek yang tadi begitu sombong, sedikit kaget. Raya lalu mendongak melihat wajah tua yang masih cemas itu.
"Sama-sama." Ucap Raya. "Ini memang sudah tugas saya!" Ucap Raya tenang.
"Bagaimana kondisi mobil yang rusak di depan?" Tanya Raya pada Kakek itu.
"Sedang di coba untuk di dorong atau di tarik, tapi sepertinya ada yang patah dari bagian bawah mobil. Dan itu tersangkut di aspal yang rusak." Jelas Kakek itu panjang lebar.
Raya melihat beberapa orang mendorong mobil. Namun mobil itu tidak sedikit pun bergerak, malah hanya mengeluarkan asap hitam yang cukup tebal dari knalpot mobil itu.
"Apakah selalu seperti ini?" Tanya Raya pada kakek itu.
"Maksudnya bagaimana?" Tanya kakek balik.
"Apakah setiap lewat jalan ini, selalu seperti ini?"
"Iya." Jawab Kakek sambil melihat Raya sekilas. "Kamu bukan asli orang sini?" Tanya kakek.
"Iya!" Jawab Raya.
Raya tidak begitu fokus dengan obrolan kakek. Raya melihat gotong-royong orang-orang disini masih begitu baik. Disana beberapa orang laki-laki menaiki belakang mobil, agar mobil bagian depan lebih tinggi. Sedang beberapa orang lagi mendorong di sebelah kanan dan kiri mobil.
Mereka menarik dan mendorong mobil itu bersama-sama. Tapi setelah beberapa saat mobil itu tidak juga bergerak.
Orang-orang disana berdiskusi sebentar. Lalu mereka kembali mencoba untuk menarik keluar mobil itu.
"1 2 3 Do...rong... Do..rong..." Ucap mereka bersama-sama.
"1 2 3 do..rong..."
"Do...rong...!" Teriak mereka bersama-sama.
Cukup lama mereka mendorong mobil itu bersama-sama asap keluar dari ke empat ban mobil, karena terlalu panas bergesekan dengan aspal.
Setelah beberapa lama di dorong, akhirnya mobil itu bisa keluar dari jalanan rusak itu.
"Alhamdulillah.." Teriak orang-orang itu bersama-sama setelah mobil itu bisa berjalan kembali.
Semua orang terlihat bahagia dengan mobil orang lain yang bisa selamat dari mobil rusak itu.
Raya bahagia dengan pemandangan yang dia lihat di depannya. Tak terasa senyum bahagia terbit di wajah Raya.
"Mari bu dokter, saya kembali ke mobil dulu." Pamit kakek kepada Raya.
__ADS_1
"O... Iya, Kek!" Jawab Raya.
Raya lalu kembali ke mobil yang di tumpanginya. Raya berjalan cukup hati-hati karena jalanan yang cukup licin.
"Tadi perasaan nggak kayak gini dech, jawabannya!" Pikir Raya sambil melihat jalanan yang sangat licin.
"Bu dokter!" Tegur sopir yang membawa mobil yang Raya tumpangi.
"Pak ini perasaan tadi nggak selicin ini deh!" Ucap Raya sambil meminta tolong untuk menuntunnya sa sampai ke mobil mereka. "Tolong!"
"Dari tadi sudah kayak gini bu dokter!" Ucap sopir itu sambil tersenyum mengingat tadi melihat Raya yang berjalan begitu lancar di jalanan yang sama ini. Tapi, sekarang malah berjalan pelan pun seperti akan terpeleset.
"Pak, jangan tertawa!" Perintah Raya.
"Hahaha...!" Setelah mendengar ucapan Raya, sopir itu malah tertawa terbahak-bahak.
Si sopir tertawa hingga memegangi perut. Raya yang melihat itu jengkel dan menghempaskan pegangan tangannya. Dan berjalan sendiri dengan hati-hati.
Baru berjalan beberapa langkah Raya yang masih merasa jengkel, dan tidak hati-hati, malah terpeleset tepat di kubangan air.
"Aduh...!" Teriak Raya kesakitan.
"Hahaha.." Suara tawa dari sopir di belakang Raya yang bahagia melihat Raya terjatuh.
"Mari bu, saya bantu!" Tawar sang sopir sambil mengulurkan tangannya kepada Raya.
Raya yang jengkel dengan suara tawa si sopir menerima uluran tangan si sopir, dan dengan sekuat tenaga Raya menarik sopir itu hingga terjatuh juga ke dalam kubangan air di jalan yang berlubang itu.
Sopir itu terjatuh tepat di samping Raya dan bajunya basah dengan air kotor yang membuat Raya bahagia melihat itu.
"Hahahaha" Tawa Raya bahagia, lalu Raya berdiri dan juga menolong si sopir yang terjatuh karena ulah yang di buatnya.
***
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (12 bab)
Brondong Meresahkan (12 bab)
__ADS_1