JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
bab 23 pengantin baru kena julid


__ADS_3

Raya nampak sangat bahagia berjalan berdampingan dengan Rasyid mengelilingi pasar dadakan tersebut, biasanya orang di daerah ini menyebut pasar seperti ini dengan nama pasar kalangan. Raya memilih beberapa sayuran dan menawarkannya kepada Rasyid ingin makan sayur itu atau tidak.


"Id, mau makan apa?" Tanya Raya sambil memilih tomat untuk membuat sambal.


" Kamu bisa masakan apa aja?" Rasyid takut salah memilih makanan yang belum bisa Raya masak. Rasyid tidak ingin Raya terlalu memaksakan diri.


" Em, Rasyid mau makan capcay?" Tanya Raya setelah berfikir apa yang mungkin di sukai Rasyid.


Rasyid memberikan dompetnya kepada Raya, agar Raya membayar dengan uang yang ada di dompet tersebut.


" Boleh, Id suka itu!" Ucap Rasyid sambil mengambil alih kantong belanja yang di berikan penjual itu.


" Kalau lauknya mau apa, Id?" Tanya Raya sambil berjalan ke arah lebih masuk kepasar, untuk mencari Ikan ataupun daging ayam.


" Masakan khas daerah sini kamu ada yang bisa masaknya nggak?" Tanya Rasyid ingin mencoba masakan khas daerah yang sedang ia kunjungi.


" Raya pernah di ajarin mak ngah buat macam-macam masakan daerah sini." Ucap Raya menjelaskan.


" Terus kamu bisa masakan semua makanan khas daerah sini dong?" Tanya Rasyid sambil menarik Raya lebih ke tepi, karena ada kendaran yang hendak lewat hampir menyerempet Raya.


" Makasih." Ucap Raya setelah menyadari apa yang terjadi.


" Kamu nggak pa-pa?" Tanya Rasyid sambil melihat lengan dan kaki Raya, kalau mungkin ada yang terluka.


" Nggak !" Ucap Raya seraya menggelengkan kepala.


Raya dan Rasyid kembali berjalan lalu berhenti di tempat orang menjual ikan segar.


" ini sekilo berapa?" Tanya Raya sambil memilih ikan dengan warna mata yang masih terang.


" 60 ribu" Ucap penjual ikan tersebut sambil melayani pembeli yang sudah hendak pergi.


"Jadi Ay, bisa masak makanan khas sini?" Ulang Rasyid, yang belum mendapat jawaban tadi.


"nggak !" Jawab Raya sambil tersenyum.


" Tetus kamu mau masak apa sekarang?" Tanya Rasyid melihat Raya memilih ikan.


" Kalau Ay, masak ikan asam pedas kamu mau nggak?, bukan khas sini sih. Tapi pernah di ajarin sama orang sini!" Tawar Raya.

__ADS_1


" Boleh, asal nggak bikin keracunan aja Ay!" Ucap Rasyid sambil membetulkan poni Raya yang mulai mengganggu.


" Keracunan sih nggak, paling ketagihan!" Goda Raya.


" Beli ikan 1 kg ya!" Ucap Raya meminta pedagang tersebut menimbang ikan yang telah Raya pilih.


Raya memberikan uang pas kepada pedang tersebut. " makasih" Ucap Raya.


"Wah pengantin baru ya?, belanja di temenin gini!" Goda penjual ikan tersebut sambil menyerahkan kantong plastik yang berisi ikan kepada Rasyid.


" Iya bang, doakan cepet dapat momongan ya!" Rasyid malah menimpali si penjual ikan itu dengan ucapan yang membuat Raya melotot seketika.


" Id!" Raya mencubit lengan Rasyid kuat-kuat.


" Apa sayang?" Goda Rasyid sambil menarik lengan Raya menjauh dari tempat itu.


" Kita lanjut kemana ini?" Tanya Rasyid bingung, harus jalan kemana lagi.


" Makanya jangan asal tarik orang sembarangan!" Omel Raya sambil berjalan terlebih dahulu, berbalik arah.


Raya berhenti di tempat orang berjualan bermacam-macam sayur, lalu memilih sayur apa saja yang bisa dia campur kedalam capcay yang akan ia masak nanti.


" Id, suka kapri?" Tanya Raya, sambil memperlihatkan beberapa macam sayuran.


" Gombal buat ngelap meja kotor mas!" Ledek Raya mendengar gombalan Rasyid.


" Pengantin baru ya dek?" Tanya ibu-ibu yang ada disamping Raya.


" Kalau masih baru gitu dek, suka romantis!" Ucap ibu penjual sayur.


" Nanti tunggu udah kaya, pasti nggak akan begitu lagi, udah nggak mungkin romantis lagi, paling cari yang baru!" Sahut ibu-ibu beejilbab cukup menor dengan banyak perhiasan di tangan dan jarinya, serta kalung besar keluar dari jilbabnya. 'itu toko emas berjalan?' pikir Raya dalam hati.


Masih banyak lagi komentar lainnya dengan bahasa daerah yang tidak begitu Raya mengerti, tapi Raya cukup faham bahwa mereka sedang bergunjing tentang Raya dan juga Rasyid.


" Doain yang baik-baik ja ibu-ibu!" Sahut Rasyid yang mulai merasa risih mendengarkan ibu-ibu mulai jilid kepadanya dan juga Raya. Padahal mereka tidak saling kenal.


Lalu Rasyid mengambil belanjaan Raya dari si pedagang, kemudian meminta Raya membayar belanjaan tersebut tanpa mengambil kembaliannya. "Ay, dopet Id masih ada uangnya banyak kan?, kembaliannya nggak usah diambil!" Ucap Rasyid meminta Raya mengambil kunci mobil dari saku kemejanya. "Ay, ambil kunci mobil kita di saku kemejak, tangan Id udah penuh!" Ucap Rasyid manja dan sok romantis.


Raya yang sudah tahu kelakuan Rasyid sering aneh kalau dia sudah mulai tersinggung mengerti harus membalas seperti apa.

__ADS_1


" Nggak mau... Id suka modusin, Ay!" Ucap Raya sambil mengerucutkan bibirnya dan menggandeng lengan Rasyid.


"Terus kita nanti naik mobilnya gimana sayang?" Ucap Rasyid sambil memandang Raya, tanpa beranjak dari tempat ibu-ibu yang sedari tadi menggosipi mereka.


"Jalan ja, mobilnya buang ja!" Ucap Raya sambil menarik-narik lengan kemeja Rasyid.


" Kok gitu?"


" Nanti beli mobil baru ja, uang Id kan banyak!" Ucap Raya pamer kepada ibu-ibu julid disana.


Ketiak Raya dan Rasyid masih berakting sok romantis, datang kedua temannya yang juga membeli beberapa kebutuhan untuk dirumah.


" Pasangan satu ini, ini pasar nggak usah pamer keromantisan bisa kali!" Ucap Yana.


" udah selesai belanjanya belum? " Tanya Beni lagi.


" Udah sih kayaknya, tinggal pulang ja!" Ucap Rasyid memperlihatkan belanjaan mereka.


" Ya udah pulang yok, keburu sore!" Ajak Yana sambil berjalan di depan mereka.


Ketika sudah cukup jauh dari para ibu-ibu julid Raya melepaskan pegangannya pada lengan Rasyid.


" Ay, kok di lepas?" Ucap Rasyid kecewa.


" Ibu-ibu itu udah jauh!" Raya melotot sambil berkecak pinggang.


" Eh, maksudnya gimana?" Tanya Yana mendengar perdebatan mereka.


" Tadi itu biasa ada ibu-ibu julid ngira kami pasangan muda, bukan ngomong yang baik-baik kok malah ngatain.!" Jelas Raya sebal.


" Ibu-ibu yang tadi belanja sama kalian?" Tanya Yana penasaran.


" Iya, yang pas di sebelah kiri tadi, sama yang jualan juga!" Ucap Raya emosi.


Rasyid yang melihat itu hanya tersenyum sambil terus berjalan disisi Raya. Rasyid rindu sikap Raya yang seperti ini. Manja.


" Emang dibilang apaan?, kok kamu sampai emosi gitu, Ra?" Tanya Yana meminta cerita lengkapnya dari Raya.


" Cerita lengkapnya nanti ja di rumah!" Ucap Beni, sambil menarik Yana menuju ketempat mereka parkir motor, yang ajak jauh dari tempat Rasyid melahirkan mobilnya.

__ADS_1


***


Terkadang cukup menutup telinga saja, untuk tidak mendengarkan kata-kata orang lain yang menyakiti hati. Bukan malah berusaha membungkap mereka dengan tangan yang pasti tidak akan mampu.


__ADS_2