JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
Bab 25. Membantu


__ADS_3

Rasyid yang merasa sidikit aneh dengan sikap Masuk yang tidak bersahabat dengannya, karena penasaran Rasyid bertanya kepada Yana yang kebetulan juga berada di dapur bersamanya. Kenapa Mansur seperti memusuhinya.


"Yan, itu bocah satu kenapa ya?" Tanya Rasyid.


" Siapa?" Tanya Raya


" Siapa yang kamu maksud?" Tanya Yana bersamaan dengan Raya.


Raya yang baru masuk kedapur tidak sengaja mendengar pertanyaan Rasyid, dan ikut bertanya.


" Itu yang nggak mau ikut aku ke warung depan tadi!" Jelas Rasyid. Rasyid belum begitu hafal nama ketiga anak itu.


" Mansur?" Tanya Raya meyakinkan.


" Iya kali!" Jawab Rasyid.


"Hahahah..." Yana tertawa mendengar hal itu.


" Kok ketawa?" Tanya Rasyid lagi, sambil melirik Raya meminta penjelasan.


" Biasa Yana emang begitu, suka gila sendiri." Ejek Raya.


" Gak cuman kamu yang di jutekin sama Mansur, semua cowok di desa ini yang deketin Raya juga gitu. Di jutekin bahkan di kerjain sama satu bocah itu. Biasany malah ngajakin the gang nya!"" Jelas Yana.


Rasyid yang mendengar penjelasan Yana mengerutkan keningnya bingung. Dan melirik Raya meminta penjelasan.


" Nggak usah di dengerin, Id. Mau kopikan?" Ucap Raya sambil membuatkan Rasyid kopi.


" Makasih, Ai" Rasyid tersenyum kepada Raya.


Rasyid menerima gelas kopi yang diberikan Raya.


" Mansur cinta mati sama pujaan hati mu, jadi dia emang suka musuhin siapapun yang deket-deket sama Raya." Jelas Yana lagi.


" Yan, nggak usah aneh-aneh deh!" Pinta Raya pelan takut Mansur mendengar pembicaraan mereka.


" O.. Gitu...!" Ucap Rasyid, yang mulai faham duduk permasalahannya.


" Nggak usah di dengerin, Id!"


Rasyid hanya tersenyum lalu membawa kopi buatan Raya menuju ruang depan. Menyusul Beni dan yang lainnya.


Beni dan 3 bocah. Mereka yang sedang belajar menggunakan laptop milik Beni. Rasyid melihat Mansur masih saja seperti memusuhinya, mencoba untuk duduk di sebelahnya dan mengajak anak kelas 6 SD ini untuk mengobrol.


Mansur yang di dekati oleh Rasyid merasa risih dan menjaga jarak dengannya.


" Mansur kelas berapa?" Tanya Rasyid memulai basa-basinya.


" Kelas 6" Jawab Mansur cuek.


" Mansur mau jadi apa besok kalau sudah besar?" Tanya Rasyid lagi ingin dekat dengan anak ini.

__ADS_1


Mansur tidak menjawab, hanya melirik Rasyid tidak suka dan kembali melihat teman-temanmu bermain games dalam laptop.


Mereka bermain games di ajari oleh Beni, Beni selalu mengajari hal aneh kepada neraka. Agar tidak terlalu gaptek katanya.


" Nggak ikut sama yang lain main laptop?" Tanya Rasyid lagi.


" Laptop?" Mansur bingung apa yang di maksud Rasyid, setahunya semua banda itu adalah komputer.


" Itu yang lagi di pakai kedua teman Mansyur, namanya laptop!" Jelas Rasyid lagi lembut.


"Terus kalau komputer yang seperti apa?" Tanya Mansur penasaran.


Belum sempat Rasyid menjawab pertanyaan Mansur, datang beberapa orang kerumah.


" Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam." Jawab Beni dan Rasyid serempak.


Beni lalu berdiri dan mempersilakan tamu-tamu itu masuk kedalam. Lalu meminta tolong Raya dan Yana membuatkan minuman untuk tamu didepan, yang ternya kepala desa dan juga kepala sekolah.


" Syid, ikut kedepan yok!" Ajak Beni sambil menepuk pundak Rasyid.


" Tunggu disini dulu ya, nanti saya jelasin bedanya apa!" Ucap Rasyid.


Rasyid tidak banyak bicara ikut saja Beni kedapan menemui para tamu. Walaupun sebenarnya Rasyid bingung harus berbuat apa.


" Jadi ada apa Pak?" Tanya Beni kepada kedua orang di depannya.


" Maaf, ini siapa?" Tanya Pak kepala desa yang belum berkenalan dengan Rasyid.


" O iya saya lupa mengenalkan, ini teman saya. Rasyid!" Jelas Beni.


" Rasyid" Ucap Rasyid memperkenalkan diri kepada keduanya.


" Kebetulan dia ini arsitek, jadi bisa bantu untuk rencana pembangunan dan denahnya!" Jelas Beni.


" Tapi, cuman di kasih waktu sampai besok!"


" Aman Rasyid ahlinya!" Jawab Beni asal.


Rasyid yang mendengar Beni asal Bicara hendak marah. Namun ditahannya, karena Raya datang membawaka minuman untuk mereka.


" Tolong ambilin Kopiku di meja deket anak-anak ya, Ai!" Bisik Rasyid ketika Raya hendak masuk.


" Diminum dulu pak!" Tawar Beni.


Raya menyerahkab gelas kopi Rasyid, lalu kembali masuk.


" Boleh lihat lokasinya dulu?" Tanya Rasyid.


" Ini peta lokasi sekolahnya dek!" Ucap kepala desa sambil mengeluarkan sertifikat tanah yang dia bawa.

__ADS_1


Rasyid memperhatikan sebentar denah lokasinya, lalu berfikir bagaimana bangunan yang cocok untuk tanah seperti ini.


" Biasanya bajet pembangunan berapa?" Tanya Rasyid lagi, dia harus tahu agar bisa memaksimalkan semua sumber daya yang ada.


Pak kepala sekolah menyebutkan dana yang akan cair kepada Rasyid, dan itu membuat Rasyid sangat frustasi. Dengan dana yang minim harus bisa membuat bangunan sebagus mungkin.


" Pembangunan biasanya disini gotong royong, jadi kita bisa meminimalisir dana di tengah kerjanya!" Jelas Beni.


Beni tahu Rasyid sedang memikirkan bagaimana cara untuk meminimalisir pengeluaran dengan dana seadanya.


" Beberapa bahan disini juga bisa di ambil dari kebun atau suangi?" Tanya Rasyid meyakinkan.


" Pasir biasanya ambil langsung dari penambang!" Jelas Kepala sekolah.


" Kalau batu bata?" Tanya Rasyid lagi.


" Ada pengrajin batu bata didesa!" Jawab kepala desa.


" Oke!" Rasyid mengambil pena dan kertas dari dalam.


Ketika Rasyid keluar dari kamar dan menemui kembali Kepala sekolah dan juga kepala desa. Mansur mengikuti. Dia mencuri dengar apa yang sedang orang-orang dewasa itu bicarakan.


" Kita bisa menekan beberapa bahan, tapi juga kita memiliki bahan yang akan sangat mahal sekali. !" Jelas Rasyid.


" Maksudnya gimana?" Tanya Beni kepada Rasyid.


" Harga besi dan harga semen di desa pasti jauh lebih mahal, apalagi dengan medan yang cukup sulit dilalui mobil besar. Kita harus menggunakan mobil yang lebih kecil, dengan biaya operasional jauh lebih mahal!" Jelas Rasyid.


" Tapi masih aman kan?" Tanya Beni lagi.


" Saya butuh daftar harga dan jasa angkut bahan-bahan yang kita butuhkan!" Jelas Rasyid lugas.


" Kalau denahnya bagaimana?" Tanya kepala sekolah.


" Denah aman, saya bisa gambar malam ini!" Jelas Rasyid, sambil sesekali meminum kopinya.


" Besok pagi bisa diambil jam berapa?" Tanya kepala desa.


" Saya butuh listrik tetap menyala sampai pagi bisa?" Tanya Rasyid balik.


" Nanti saya suruh anak saya antar solar kesini, supaya listrik disini tetap hidup." Jelas kepala sekolah, penuh semangat.


" Kalau begitu jam 6 pagi silakan ambil apa yang anda sekalian butuhkan!" Jelas Rasyid.


" Kami harus bayar berapa untuk jasa denahnya?" Tanya kepala sekolah.


" Tidak perlu sungkan, saya hanya membantu!" Jelas Rasyid.


Dari yang semua didengarnya, Mansur hanya mengambil kesimpulan bahwa Rasyid orang yang baik. Dia mau membantu sekolah Mansur. Mansur mulai simpatik kepada Rasyid.


****

__ADS_1


__ADS_2