
5 tahun kemudian
Raya sudah menyelesaikan pendidikannya di kampus pilihan sang ibu yang ternyata juga impiannya dulu sebelum banyak mendengar komentar orang lain. Membantu anak-anak dan orang-orang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, meskipun mereka berada di pelosok negri ini.
Raya sempat memilih hal lain karena terlalu banyak mendengar perkataan orang lain dan juga karena dia bingung dengan kemampuan yang dia miliki. Raya merasa tidak begitu pantas untuk mencapai mimpinya yang begitu tinggi.
berkat dorongan sang ibu yang begitu kuat akhirnya Raya dapat menikmati masa-masa kuliah yang penuh dengan praktikum. Harus pulang pergi kerumah sakit dan bertemu dengan begitu banyak orang yang begitu butuh pertolongan.
Beberapa kali juga Raya pernah mengikuti kegiatan sosial untuk melakukan pelayanan kesehatan di pedalaman indonesia. Disana Raya melihat begitu banyak kesenjangan dalam madalah pelayanan kesehatan di pinggiran Indonesia dengan di ibu kota. Bahkan, fasilitas sederhana pun kadang tidak ada sama sekali. Di beberapa tempat yang Raya kunjungi bahkan tempat untuk kegiatan kesehatan hanya di lakukan di bawah tenda darurat. Pelayan kesehatan dalam 1 kecamatan hanya beberapa bidan dan hanya 1 dokter saja.
Untuk mencapai tempat kesehatan warga harus berjalan cukup jauh. Raya pernah bertanya kepada beberapa penduduk disana, bahwa mereka harus menempuh waktu hingga 4 jam perjalanan. menggunakan perahu dengan melawan arus dan harus berjalan cukup jauh lagi menggunakan mobil atau motor dengan medan yang cukup terjal. Belum lagi jika air sedang pasang atau musim hujan mereka tidak berani keluar, karena akan sangat beresiko sekali.
Dulu pernah terjadi kecelakaan perahu hilang di bawa arus ketika seorang keluarga membwa anaknya pergi berobat. ada salah seorang anak sakit parah, sudah seminggu tidak sembuh, suhu badan yang tinggi dan mengeluarkan bintik merah. waktu mendengar itu Raya berfikir mungkin itu demam berdarah.
Keluarga itu akhirnya di temukan satu minggu kemudian dalam keadaan meninggal dengan jarak yang cukup jauh dari tempat kejadian. miris. Raya sempat meneteskan air mata mendengar cerita itu. Ketika melihat begitu nampaknya kesenjangan fasilitas kesehatan di tempat ini.
Namun, disini warganya sangat ramah dan masih mengutamakan gotong royong. Raya pernah melihat orang pindah rumah yang tidak biasa menurutny. Yaitu, dengan benar-benar mengangkat rumah lama mereka dan di pindahkan ke lahan yang berbeda oleh para pria di desa itu. sedang para ibu-ibu dan gadis disana memasak makanan untuk para pria. Ketika siang hari mereka akan makan bersama menikmati makanan yang telah disiapkan. Raya juga melihat beberapa orang menggunakan piring dengan daun pisang yang dibentuk sedemikian rupa agar bisa untuk tempat nasi, karena mereka tidak memiliki cukup piring untuk semua warga yang membatu.
Raya yang baru sekali disini sudah begitu dekat dengan para warga, ada beberapa anak yang juga mengajak Raya untuk melihat sungai di ujung desa atau pun bermain di alam yang masih asri.
Raya mengenang 1 bulan lalu pernah di ajak main ke suatu tempat oleh anak-anak desa
" dokter..."
__ADS_1
" dokter..." panggil anak-anak dari luar tempat Raya beristirahat.
Raya dan kedua temannya (Beni dan Yana ) keluar ketika mendengar panggilan mereka.
" Ya?" jawab Raya sambil tersenyum ke arah anak-anak tersebut.
" kak ikut ke Dam ?" ajak salah satu anak yang paling tinggi di antara yang lainnya.
Raya yang tidak mengerti artinya mengerutkan keningnya terlebih dahulu menetap kedua temannya bergantian ingin menanyakan artinya, tapi kedua temannya hanya menggelengkan kepalanya. dan mengangkat bahu. Tapi karena Raya ingin menyenangkan mereka.
" tunggu sebentar ya!" pinta Raya, sambil mengajak kedua temannya untuk mengikuti saja mereka, setelah mengambil tas kecil dari dalam rumah, membawa kotak P3K. siapa tau di butuhkan.
ketika sampai di depan anak-anak itu, Raya merasa ada yang menarik celana panjangnya. seorang anak meminta gendong Raya, sambil merentangkan tangannya.
Mereka berjalan sekitar 20 menit menyusuri jalan setapak kecil yang hanya bisa di lewati oleh 2 orang saja, di kiri dan kanan masih penuh dengan pohon-pohon rindang yang begitu besar dan kokoh.
" ini masih jauh nggak Ra?" keluh Yana sambil mengurut kakinya yang mulai sakit, karena tidak biasa berjalan jauh.
" nggak tau" jawab Raya cuek.
" ish!" gerutuh Yana sambil memainkan Ranting yang terjatuh di sekitar jalan itu.
" kalau kamu tanya aku, aku tanya siapa yan?" ledek Raya sambil bercanda.
__ADS_1
"tanya sama mereka!" sungut Raya.
" kan bisa tanya sendiri." goda Raya, yang tau Yana sudah mulai lelah.
" nikmati ja Yana cantik." goda Beni, sambil menggandeng salah satu anak untuk bergrlantung di lengannya.
Setelah sampai di tempat tujuan, Raya baru tau apa yang di maksud anak-anak dengan 'DAM' tadi, itu adalah sebuah bendungan irigasi yang di bangun oleh warga secara swadaya. mereka membendung sungai besar untuk mengaliri sawah dan ladang di pinggiran sungai ini, sehingga di bawah aliran ada seperti air terjun serta suangi yang begitu jernih dengan bebatuan alam yang besar dan juga sangat memanjakan mata.
Mereka bermain disana dengan cukup asyik menikmati pemandangan alam yang menyejukkan. Raya memandikan anak gadis kecil yang sedari tadi di gendongnya. setelah selesai mandi Raya mengambil sisir dan juga tali rambut yang juga dibawa dalam tas tadi, mengikat rambut nay dengan begitu cantik. Melihat itu, beberapa anak yang lain juga meminta hal yang sama.
Raya dengan telaten membatu mereka mengikat rambut satu persatu. karena kewalahan Raya meminta bantuan Yana untuk menolongnya. Yana membantu meskipun dengan sedikit wajah cemberut, namun hasilnya lebih bagus dari milik Raya. sehingga, anak-anak lebih suka di ikat rambutnya dengan Yana. melihat itu Yana begitu semangat mengikat Rambut anak-anak itu, Yana merasa seakan di butuhkan disana.
Raya tersenyum melihat Yana yang mulai akrab dengan anak-anak di desa ini. Yana memang sulit beradaptasi karena Yana memang tidak pernah berfikir akan di tempatkan di daerah terpencil tanda sinyal seperti ini. Yang membuat Yana menggerutu berkali-kali awalnya.
ketika Raya hendak berdiri karena sudah lelah duduk di atas batu di pinggir sungai, Raya merasa tangannya ditarik oleh anak yang berada disampingnya.
" kenapa?" tanya Raya sambil melihat anak itu, ketika di perhatikan Raya melihat anak itu terluka di telapak kakinya, karena terpelset batu.
Dengan sigap Raya mengambil kotak P3K yang ia bawa tadi, dan mengobati luka sang anak. Membalutnya dengan kain kasa, dan menepuk kelapa anak itu agar tidak menangis, karena Raya melihat dia menahan air mata.
****
bahagia itu terkadang cukup sederhana, dengan hati yang tenang dan menikmati hidup tanpa mengeluh.
__ADS_1