
Pagi ini, cuaca sedikit mendung. Langit terlihat sedikit gelap, di sertai semilir angin yang terus berhembus menusuk hingga ketularan. Matahari belum akan menampakkan cahayanya dari ufuk timur, masih sembunyi di balik awan-awan hitam yang akan menurunkan air ke tanah kering kota ini.
Raya kembali menarik selimut tebalnya untuk menutupi untuk menghangatkan tubuh yang mulai mengigil di terpa angin yang terus berhembus menembus ke dalam ruang kamar Raya. Rintik hujan mulai terdengar di luar rumah, menambah hawa dingin dan membuat betah Raya bergulung di atas kasur. Karena, semalam Raya tidak bisa tidur. menangisi surat cinta yang baru didapatnya setelah penantian panjang.
" Ra, bangun udah pagi. ayok siap-siap lagi!" ibu membangunkan Raya dengan menggedor pintu kamar. sesekali mencoba membuka pintu kamar Raya yang sengaja dikunci. " ini pintu tumben di kunci." omel sang ibu.
Pintu kamar sengaja Raya kunci karena takut ibu atau ayahnya akan masuk kedalam kamar nya tadi malam. ketika, dia sedang menangis tersedu-sedu.
" Ra!" teriak ibu sekali lagi.
" iya bu, bentar!" sahut Raya malas, sambil membuka selimut yang melilit tubuhnya.
" cepet mandi, terus turun sarapan." perintah sang ibu sambil meninggalkan pintu kamar Raya.
Raya dengan malas berjalan ke arah kamar mandi dengan mata masih begitu lengket dan sedikit sembab. Raya melihat cermin sebentar untuk melihat seberapa sembab matanya karena menangis semalam, 'aduh gimana cara ngilanginnya ya?' fikir Raya, sambil menggosok matanya. ' masak dingin-dingin begini harus mandi keramas sich.' omelnya Raya kepada diri sendiri.
setelah selesai dengan semua aktifitas dan persiapannya. Raya turun kebawah, untuk sarapan. Mereka makan dengan tenang sesekali ayah bergurau dengan Raya, agar Raya tidak begitu tegang, takut sang anak dan istri akan berdebat lagi masalah kuliah anak mereka.
" anak ayah, nanti kalau sudah disana sering-sering telpon ayah ya, dek." ucap ayah
" siap komandan!" jawab Raya sambil memberikan sikap hormat dan tegap menghadap sang ayah.
" nanti kalau libur wajib pulang." tambah sang ibu.
" oke ibu bendahara negara." sahut Raya sambil menghadap sang ibu lalu " yang penting ini, " kata Raya seraya mengangkat jari telunjuk dan jempol membuat tanda uang.
Setelah acara makan yang penuh canda-tawa selesai, dan hujan juga sedih mulai mereda mereka bersiap-siap pergi mengantarkan Raya menuju ke Kota para pelajar. Nantinya Raya akan tinggal menempuh pendidikan disana. Tinggal bersama sang kakak yang juga sekolah disana, agar Raya ada yang menjaga dan tidak membuat kedua orang tuanya khawatir harus berpisah dengan anak gadisnya.
***
__ADS_1
Ketika masih di perjalanan hujan kembali turun, semilir angin kembali menusuk melalui celah jendela mobil. menyebabkan jarak pandang yang minim, serta kendaraan yang mulai memadat, di jam orang pulang kerja. ayah memelakan laju kendaraan, mercoba mencari tempat peristirahatan, ataupun rumah makan untuk di jadikan tempat beristirahat sejenak, perjalanan masih sekitar 3 jam lebih, dan langit sudah tidak bersahabat lagi.
Raya mencoba mengeratkan jaket rajut yang dipakainya, karena dingin yang menusuk dan juga lelah menempuh perjalanan yang cukup panjang.
" Yah, masih lama ya?" tanya Raya sambil sedikit mengigil sambil memeluk dirinya sendiri.
" sekitar 3 jam lagi dek" jawab ayah. "ini ayah mau cari tempat istirahat dulu." ayah menjelaskan rencananya untuk menepi sejenak, mungkin sambil mengisi perut yang mulai di demo oleh para penghuninya.
Raya hanya manggut-manggut, sambil membuka Hp nya siapa tau ada pesan dari sang pujaan hati, yang berada nanjauh disana. atau mungkin masih berada diatas udara?. Ntahlah, Raya belum dapat kabar lagi Rasyid sudah sampai tempat tujuannya tau belum. semoga saja Rasyid sampai dengan selamat. doa Raya dalam hati.
Mobil yang dibawa ayah Raya berhenti di sebuah lestoran sederhana di pinggir jalan, nuansanya sangat hangat di tengah hujan deras yang terus menghantam sepanjang perjalan mereka.
"ayo turun, Ra!" ajak sang ibu yang mengembalikan Raya ke dunia nyata, setelah asyik dengan pikirannya sendiri. Raya tidak begitu memperhatikan ketika sang ayah sudah turun terlebih dahulu.
dengan agak berlari kecil Raya mengikuti ibunya menuju kedalam lestoran tersebut, menuju ke belakang. kamar mandi. hanya sekedar untuk mencuci muka ataupun membuang urin yang sudah di tahan selama dalam perjalan ini.
" ayah capek?" tanya Raya tiba-tiba.
" nggak,? jawab sang ayah sambil menyeruput teh hangat di depannya. " kamu capek?" tanya ayah balik sambil memberikan roti kepada Raya untuk mengganjal perut sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.
Raya menolak roti pemberian sang Ayang sambil menggeleng, " kasian ayah, nyetir jauh." kata Raya sambil memijat lengan sang ayah.
" ayah nggak pa-pa, kamu thu dari tadi pagi ayah perhatiin pucet, kucel, kayak orang nggak semangat hidup.!" ejek sang ayah sambil bercanda.
Raya yang mendengar ejeken sang ayah hanya cemberut dengan menggegmbungkan kedua pipinya, dan membuang muka ke arah kamar mandi.
" ibu kamu mana kok lama banget di kamar mandinya?" tanya ayah sambil celingukan mencari sang istri.
" istri ayah tercinta itu paling juga mandi dulu." sahut Raya sekenanya. " istri ayah kan gitu, mau hujan badai pun kalau sudah waktunya mandi, ya mandi..." cengir Raya.
__ADS_1
" heh gitu-gitukan juga ibu kamu, dek." sahut ayah.
" ya kan istri ayah tercinta...." balas Raya sambil mengejek kearah sang ayah.
pembicaraan mereka terpotong karena kedatangan pelayan yang mengantarkan makanan ke meja mereka, dan juga sang ibu yang benar saja sudah berganti pakaian dan sepertinya juga sudah mandi sambil membawa plastik baju kotor di tangan kirinya serta handuk dan peralatan mandi di tangan kanannya.
" ibu habis mandi, dingin-dingin gini?" tanya Raya sambil begidik.
" kamu tadi nggak mandi dek?" tanya ibu balik sambil melotot.
"hehehe" bukannya menjawab pertanyaan sang ibu Raya hanya nyengir kuda.
" gadis kok jorok." ejek sang ibu.
" ayah, ibu..." adu Raya ke pada sang ayah.
ayah hanya tersenyum sambil mengelus kepala Raya.
Sambil menunggu hujan agak reda mereka makan dengan tenang. namun, Raya yang seperti tidak nafsu makan akhirnya sesekali di suapi oleh sang ayah yang khawatir kalau Raya nanti kena mag. karena selama perjalanan Raya belum makan apapun, hanya sarapan tadi pagi, serta minum air putih saja, padahal perjalanan mereka cukup panjang dan juga melelahkan.
Padahal besok pagi Raya harus mengikuti selesksi tes ujian masuk kampus tujuannya. yang pasti butuh energi yang lebih besar dan sangat menguras otak, karena jurusan yang di pilihankan sang ibu cukup membuat orang berfikir dua kali, di kampus sekelas itu pula.
" makan dikit ja dek!" perintah sang ayah sambil menyodorkan nasi ke mulut sang anak.
Raya dengan terpaksa menerima suapan itu dan mengunyahnya dengan sangat pelan, untuk mengulur waktu agar tidak begitu banyak makanan yang nantinya masuk di dalam perutnya. Ayah yang melihat itu hanya tersenyum.
***
tempat ternyaman seorang anak perempuan adalah sang ayah. tempat mengadu dan berkeluh kesah.
__ADS_1