
"Besok pagi sayang...." Ucap Rasyid sambil tersenyum dan membukakan pintu kamar untuk Raya.
"Besok pagi pas sarapan?" Raya memastikan waktu tepatnya kapan mereka akan bicara tentang masalah pernikahannya.
Rasyid mengangguk dengan yakin. "Masuk sekarang dan tidur!" Perintah Rasyid mendorong Raya untuk masuk kedalam kamarnya dengan lembut.
Raya masuk kamarnya dengan memasang wajah yang cemberut.
****
Raya sedang mengajukan surat cuti untuk beberapa hari agar ia dapat melaksanakan pernikahannya, walaupun sebenarnya ia ingin sekali cuti dengan waktu yang cukup panjang. Namun semuanya tidaklah memungkinkan.
Puskesmas di desa ini masih sangat kekurangan tenaga medis, Jika Raya memilih untuk mengajukan cuti dengan waktu yang lama pasti akan membuat tenaga medis di sini kewalahan. Apalagi kemari ia dan sang calon suami sempat berdebat bahwa Raya harus berhenti bekerja saja dari tempat ini.
Setelah perdebatan cukup lama dan panjang, akhirnya mereka mengambil jalan tengah dari permasalahan mereka berdua.
Raya akan benar-benar berhenti dari puskesmas itu jika memang kontak kerjanya habis sekitar 15 bulan lagi.
Jadi selama 15 bulan kedepan, walaupun mereka sudah menikah. Raya dan juga Rasyid terpaksa harus tetap menajalankan hubungan jarak jauh seperti sebelumnya.
Raya membuka ponselnya karena ada panggilan video masuk dari Rasyid. Dengan cepat Raya menggeser layar untuk menerima panggilan telpon tersebut.
"Sayang kamu lagi dimana?" Tanya Rasyid dari sebrang telpon.
"Ini lagi nunggu kepala puskesmas untuk pengajuan cuti pernikahan kita!" Jawab Raya sambil mengganti kamera dengan kamera belakang menunjukkan ruangan yang sedang dia tempati.
Setelah menunjukkan keberandaannya Raya mengganti kameranya menjadi kamera depan kembali.
"Kamu lagi dimana?" Tanya Raya yang asing dengan tempat yang sedang di tempati Rasyid.
"Lagi di ..." Sambung telpon mereka agak terputus ketika Rasyid sedang menyebut tempat keberadaannya.
"Dimana?" Tanya Raya mengulangi.
"hotel...." Jawab Rasyid kembali.
Meskipun tidak tahu pasti di hotel mana, Raya tahu Rasyid sedang berada di hotel.
"Acara apa?" Tanya Raya lagi.
"Janjian sama .... Orang Wedding organizer!" Jelas Rasyid.
"Sendiri?" Tanya Raya lagi.
"Sa... Ibu dan mama!" Jawab Rasyid, meskipun terputus-putus Raya dapat mengerti bahwa Rasyid sedang bersama kedua ibu mereka untuk survei lokasi wedding mereka.
"Kamu pulang kesini kapan?" Tanya Rasyid.
"Kalau hari ini selesai, besok pagi aku berangkat dari desa ini. Perkiraan sampai Jakarta sekitar Lusa!" Jelas Raya.
__ADS_1
"Tinggal apa yang belum selesai?" Tanya Rasyid.
"Tanda tangan kepala puskesmas aja sayang, tenang ya!" Jawab Raya menenangkan.
"Acara pernikahan kita itu tinggal 3 hari lagi Ay, dan kamu masih jauh di sana." Keluh Rasyid. "Bagaimana aku bisa tenang?" Tanya Rasyid lagi.
"Kamu yang sendiri yang salah buat acara dadakan!" Keluh Raya balik.
Raya memang masih kesal dengan Rasyid yang menentukan tanggal pernikahan mereka tanpa meminta pendapat kepadanya sebagai mempelai wanita.
Dan sekarang setelah semua rencana Rasyid berjalan sesuai keinginannya, Raya yang harus ke sana dan ke sini untuk mengurus surat cuti pun masih terus di salahkan.
"Salah kamu kabur waktu mau aku lamar!" Ucap Rasyid samb tersenyum.
Rasyid senang sekali mengungkit kepergian Raya ke desa yang jauh dengan kedok pengabdian diri sebagai dokter untuk pergi dari Rasyid karena patah hati.
"Salah siapa yang ngelamar tapi pakai acara bikin orang salah faham?" Tanya Raya balik.
"Oke nggak usah di lanjutkan, aku di panggil sama mama." Ucap Rasyid memotong perdebatan mereka. Karena pasti akan bertambah panjang jika di teruskan.
"Hm..." Jawab Raya dengan memasang wajah cemberut.
"Aku tutup dulu ya, Ay?" Pamit Rasyid.
"Iya. " Jawab Raya sambil menutup panggilan telpon mereka berdua.
Walaupun sering terjadi perdebatan diantara ibunya dan juga calon ibu mertuanya, Rasyid selalu berdiri di tengah sebagai wasit yang baik.
Terkadang Rasyid yang lelah memilih untuk menepi sejenak dan menelpon calon istrinya untuk sekedar menenangkan hatinya.
"Rasyid kamu pilih warna navi atau warna tosca tanya sang mama dan calon ibu mertua secara bersmaaan.
Rasyid menelan ludahnya sejenak mendengar pertengkaran kedua wanita di hadapannya ini. Rasyid takut jika ia salah mengambil pilihan, pasti akan kena semprot oleh salah satunya nanti.
"Ehm ..." Rasyid berfikir sejak sambil menatap bunga yang di pegang kedua wanita paruh baya di hadapannya.
"Bunda Raya suka warna navi kan?" Tanya Rasyid bertanya kepada calon ibu mertua yang sedang memegang bunga warna tosca.
"I..iya " Jawab wanita paruh baya itu.
" Oke, kalau gitu kita pakai warna kesukaan Raya saja!" Ucap Rasyid memberi pilihan.
"Tapi tosca lebih lembut!" Bela wanita paruh baya itu tidak setuju dengan pilihan warna dari sang calon menantu.
"Bunda, kita pertimbangkan juga warna kesukaan calon istriku yang sedang tidak ada di sini ya?" Tawar Rasyid.
"Okelah kalau begitu." Ucap bunda Raya mengalah akhirnya.
"Hupf, aman!" Ucap Rasyid sambil memegang dadanya selamat dari omelan kedua wanita paruh baya di depannya ini.
__ADS_1
Sebenarnya Rasyid hari ini masih ada begitu banyak pekerjaan yang harus di selesaikan di kantor sebelum ia mengambil cuti untuk menikah. Tapi, pagi-pagi sekali sang mama sudah mencegahnya untuk pergi ke kantor, dan menyeretnya ke hotel ini.
Rasyid akhirnya mengalah dan ikut terjebak di antara perdebatan sang mama dan juga calon ibu mertuanya yang mempermasalahkan hal-hal kecil sekalipun itu hanya warna bunga di sepatu yang akan di pakai oleh Raya. Yang menurut Rasyid itu sangat tidak penting.
"Ma, Rasul boleh ke kantor sebentar?" Tanya Rasyid yang melihat persiapan gedung sudah hampir selesai.
" Buat apa?" Tanya mamanya khawatir.
"Ada beberapa berkas yang harus Rasyid selsaiakan hari ini, sebelum Rasyid cuti." Jelas Rasyid kepada sang mama.
"Cuma sebentarkan?"
"Kalau sudah selasai, Rasyid akan langsung pulang ma!" Jawab Rasyid cepat.
"Oke, hati-hati ya nak!" Pesan sang ibu.
"Mau kemana?" Tanya sang calon ibu mertua Rasyid ketika Rasyid hendak melangkah pergi dari tempat duduknya.
"Ini bu, Rasyid ada urusan di kantor bentar!" Jawab Rasyid sopan.
"Hati-hati, kalau bisa bawa supir aja!" Pesan calon ibu mertuanya.
"Iya bu." Rasyid lalu berpamit dan menyalami kedua wanita paruh baya yang bersamanya itu sebelum melangkah pergi.
****
bersambung
Melangkah itu berdua saling beriringan, kanan dan kiri bukan sendiri. Seperti sepasang sepatu, meski tak sama akan terus bersama. Karena ketika engkau memilih melangkah sendiri pasti akan berat dan terpincang. Lumpuh atau cacat dan tak akan berirama. #RR
Maaf sudah lama nggak up, dunia nyata lagi nggak baik-baik saja.
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (21 bab)
Brondong Meresahkan (17 bab)
__ADS_1