
Iqbal geram sendiri dengan Raya yang sudah begitu cerewet dengan semua pertanyaannya. Iqbal sebenarnya tidak benar-benar geram, hanya saja kadang ketika Raya sudah banyak bicara seperti sekarang ini, Iqbal seperti ingin sekali mengajak Raya berdebat. Agar mereka bisa terus bersama untuk meributkan sesuatu yang tidak penting.
***
Sepanjang perjalanan pulang Iqbal melihat Raya yang terus berjalan dengan tidak tenang di sampingnya.
Sesekali Iqbal melihat Raya yang menggaruk lehernya, atau pipinya. Bahkan sesekali mulai mengusap matanya.
"Bu dokter nggak apa-apa?" Tanya Iqbal khawatir dengan Raya yang terus tidak berhenti-berhenti mengusap leher hingga wajahnya.
"Nggak tahu juga ini kenapa!" Ucap Raya malas.
Mereka masih berjalan di trotoar, untuk kembali ke hotel. Dari sebrang, Iqbal melihat ada Apotik yang buka dua puluh empat jam di sebrang jalan sana.
Iqbal yang melihat Raya terus mengusap dan menggaruk-garuk lehernya merasa harus membawanya ke apotik.
"Ibu dokter ada alergi sesuatu?" Tanya Iqbal lagi.
"Ng...nggak" Jawab Raya ragu.
"Yakin?" Tanya Iqbal.
"Aku alergi seafood!" Jawab Raya akhirnya.
Iqbal menarik tangan Raya untuk berjalan ke apotik yang ada di sebrang sana.
"Kita mau kemana?" Tanya Raya.
Hotel yang mereka tempati tinggal beberapa langkah lagi di depan sana, tapi malah Iqbal menariknya menjauh, bukan malah cepat kesana.
"Alerginya harus di obati, bu dokter!" Jawab Iqbal.
"Biasanya bentar lagi juga berhenti kok!" Ucap Raya menenangkan.
"Jangan di sepelekan!" Ucap Iqbal.
Iqbal menuntun Raya memasuki apotik yang memang sepi ketika sudah jam malam seperti ini.
Setelah sampai di apotik, Iqbal dapat melihat dengan jelas bahwa Raya tidak sedang baik-baik saja. Leher serta wajah Raya memerah seperti kepiting rebus, sedang kedua mata Raya membengkak.
"Obat yang sering kamu pakai untuk meredakan alergi bisanya apa?" Tanya Iqbal.
"Apa aja.. Obat yang ada disini saja!" Ucap Raya masih sibuk menggaruk lehernya yang masih gatal.
Leher hingga wajah Raya memerah, karena afek alergi. Mata Raya juga sudah membengkak hingga di kelopak mata.
"Sebentar, bu dokter duduk dulu disini!" Perintah Iqbal.
Iqbal memesan obat kepada penjaga apotik yang sudah mengantuk. Ia menjelaskan kondisi Raya yang gatal-gatal akibat salah makan.
Setelah mendengar penjelasan Iqbal dan melihat kondisi Raya dari jarak yang cukup dekat, penjaga apotik itu memberikan obat untuk Raya sesuai arahan apoteker yang ada disana.
"Ada alergi bahan kimia?" Tanya apoteker itu.
"Tunggu sebentar, Saya tanya dulu ke dia!" Ucap Iqbal, sambil menuju Raya.
__ADS_1
Iqbal menghampiri Raya yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri, untuk menanyakan apakah Raya memiliki alergi dengan bahan-bahan kimia pada obat.
"Bu dokter, ada alergi obat nggak?" Tanya Iqbal sambil memegangi tangan Raya yang sibuk menggaruk leher dan wajahnya.
"Nggak!" Jawab Raya cepat.
Raya hendak menarik lagi tangannya yang masih dalam genggaman Iqbal, namun di tahan dengan cukup kuat oleh Iqbal. Pegangan tangan Iqbal cukup kuat, meskipun tidak sampai melukai tangan Raya.
"Lepas, gatel ini!" Ucap Raya sambil memohon.
"Jangan di garuk lagi, bekasnya akan lama sembuh!" Larang Iqbal.
"Tapi gatel banget!" Rengek Raya.
"Sabar sebentar saja!" Jelas Iqbal menenangkan.
Iqbal lalu dengan cepat kembali ke depan etalase apotik itu, mengatakan bahwa Raya tidak memiliki alergi obat apapun.
"Dia tidak punya alergi obat apapun!" Jelas Iqbal.
"Kalau begitu, ini obatnya!" Apoteker di apotik itu memberikan obat yang di butuhkan oleh Raya.
Iqbal mengeluarkan uang sesuai dengan harga obat yang di sebutkan oleh sang apoteker, agar tidak harus menunggu kembalian.
"Terimakasih!" Jawab Iqbal cepat.
"Di minum..." Penjelasan si apoteker di potong dengan cepat oleh Iqbal.
"Dia dokter!" Jelas Iqbal sambil menunjuk Raya. "Jadi dia pasti tahu harus meminum obat yang mana dan dengan dosis berapakan?" Lanjut Iqbal.
"Kamu tunggu sebentar disini!" Perintah Iqbal sambil memberikan bungkusan obat alergi yang sudah di belinya tadi.
"Kamu mau kemana lagi?" Tanya Raya takut.
"Kamu harus minum obat, saya beli minum di toko samping sana dulu!" Tunjuk Iqbal pada toko yang tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
"Saya ikut saja?" Tanya Raya dengan pandangan mata memelas.
"Baiklah!" Iqbal tidak tega meninggalkan Raya disana sendirian, akhirnya mengajak Raya.
Iqbal berjalan di samping Raya yang seperti sangat ingin menggaruk tubuhnya yang mulai gatal.
Iqbal yang tahu Raya sedang berusaha untuk menahan diri agar tidak menggaruk tubuhnya, memilih untuk menggandeng tangan Raya.
Ketika tangan Raya berada dalam genggaman Iqbal, seketika Raya kaget bukan main. Dan hendak menarik kembali.
"Biar kamu nggak garuk-garuk terus!" Ucap Iqbal.
"Kenapa?" Tanya Raya sebal.
"Saya risih lihat bu dokter tiba-tiba kayak monyet!" Jawab Iqbal sambil tersenyum.
"Enak saja di bilang monyet!" Raya yang tidak terima dengan ledekan Iqbal memukul Iqbal menggunakan tangan satunya yang sedang memegang kantong plastik berisi obat.
"Aduh....!" Ucap Iqbal kesakitan, sambil memegangi lengannya yang di pukul oleh Raya.
__ADS_1
"Rasain!" Ucap Raya puas.
"Ah.. sakit sekali!" Ucap Iqbal seperti benar-benar menahan sakit.
" Beneran sesakit Itu?" Tanya Raya yang panik melihat Iqbal seperti benar-benar kesakitan.
Iqbal tidak menjawab pertanyaan Raya, hanya terus memegangi lengannya.
"Panik bu dokter, cantik?" Tanya Iqbal sambil tersenyum jahil.
"ish...menyebalkan!" Ucap Raya yang tahu bahwa Iqbal sedang mengerjainya.
Mereka sampai di toko kelontong yang tepat berada di depan hotel.
"Pak air mineral satu!" Ucap Iqbal sambil mengacungkan jarinya memberi angka 1.
"Yang merk apa?" Tanya penjaga toko.
"Apa yang ada aja pak!" Jawab Iqbal.
"Ini?" Bapak penjual itu memberikan botol air mineral berukuran sedang ke pada Iqbal.
" Berapa pak?" Tanya Iqbal.
"10 ribu" Jawab nya.
Setelah membayar air meneral yang di belinya, Iqbal mengajak Raya duduk sebentar di kursi yang ada di depan toko itu.
"Duduk sini dulu bu dokter, minum obatnya dulu!" Perintah Iqbal sambil membukakan botol air mineral yang di belinya tadi.
Iqbal memberikan botol air mineral yang sudah di bukanya kepada Raya, lalu mengambil kantong plastik yang berisi obat yang ada dalam tangan Raya.
Raya hanya memperhatikan saja apa yang sedang dilakukan oleh Iqbal. Iqbal lalu dengan sigap membuka bungkus obat yang di ambilnya dari kantong plastik tadi. Mengeluarkan satu butir pil dari kemasannya, dan memberikannya kepada Raya. Agar segera di minum oleh Raya.
***
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (14 bab)
Brondong Meresahkan (14 bab)
__ADS_1