
Raya masih gundah gulana dengan hatinya sendiri. Raya tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang.
'Apa sebenarnya mau kamu, Rasyid!' Geram Raya pada dirinya sendiri.
Raya memandangi layar ponselnya yang di hidupkan lalu di matikan lagi oleh Raya. Kacau itu yang Raya rasakan sejak tadi. Sejak menerima panggilan telpon dari Rasyid.
***
Raya sedang menikmati sarapan pagi di rumah makan yang berada di samping hotel tempatnya menginap semalam, bersama bu Darsih dan juga Iqbal.
Hotel yang Raya tempati memang hanya hotel sederhanya yang berbintang 2, hotel yang hanya memiliki fasilitas seadanya saja. Tidak ada restoran ataupun fasilitas pendukung lainnya.
Hotel ini sudah termasuk hotel paling bagus yang ada di daerah ini. Meskipun bukan termasuk hotel yang mewah, hotel ini cukup nyaman bagi Raya.
"Raya!" Tepukan di pundak Raya, cukup membuat Raya kaget dan ingin memaki orang yang melakukan tindakan tidak menyenangkan tersebut.
Raya sudah berbalik, hendak memaki orang tersebut. Disana Gunawan tersenyum dengan wajah khas jahilnya kepada Raya, yang tidak pernah berubah sejak masih sekolah dulu.
"Mari makan sama-sama, nak!" Ajak bu Darsih menawarkan Gunawan untuk bergabung bersama mereka, karena bu Darsih tidak melihat Gunawan bersama seorang pun.
"Boleh?" Tanya Gunawan menoleh pada Raya dan juga Iqbal yang berada di meja itu.
"Silakan!" Jawab Iqbal mempersilakan Gunawan duduk di kursi kosong di sebelahnya, tepat di hadapan Raya.
Raya yang malas dengan kedatangan Gunawan, memang wajah jutek dan tidak bersahabat dengan teman lamanya ini.
"Kenapa lagi kamu kesini si pembuat onar?" Tanya Raya yang curiga dengan kesatangan Gunawan ke meja makan yang di tempatinya. Rumah makan ini cukup sepi, jadi Gunawan masih bisa duduk dimanapun.
"Aku kan disini sendiri, jadi aku gabung disini aja ya Ray!" Ucap Gunawan, dengan panggilan khasnya kepada Raya.
Raya yang mendengar penggilan Gunawan tidak pernah berubah dari sejak sekolah menengah dulu, merasa sangat ingin memukul manusia satu ini. Tapi, itu adalah panggilan yang cukup membekas di benak Raya hingga kini.
"Kebiasaan!" Omel Raya.
"Suka deh, kalau kamu mulai ngerutuk gitu!" Ucap Gunawan mencolek dagu Raya.
Raya yang di perlakuan seperti itu, seketika memundurkan kepalanya, lalu melotot tidak suka ke arah Gunawan.
"Bercanda kali, Ray!" Ucap Gunawan di iringi tawa jahil.
"Kerja dimana nak?" Tanya bu Darsih yang begitu suka dengan pembawaan Gunawan dan juga parasnya yang lumayan tampan jika di sandingkan dengan Raya akan sanga cocok pikirnya.
" Kebetulan saya kerja di perusahaan tambang dekat sini bu!" Jawab Gunawan dengan sopan sambil sedikit menunuduk dan menyalami bu Darsih. "Maaf belum sempat kenalan semalam, bu..."
"O.. Iya panggil bu Darsih saja kayak dokter Raya dan juga Iqbal!" Ucap Darsih mengenalkan diri.
"Saya Gunawan" Ucap Gunawan memperkenalkan diri.
"Kenal dokter Raya dimana?" Tanya bu Darsih lagi
"Saya teman Raya dari zaman masih sekolah dulu, bu!"
Gunawan menarik kembali tanganmu dari bu Darsih lalu memanggil pelayan rumah makan itu untuk memesan makanannya sendiri.
__ADS_1
"Nak Gunawan ini temen dokter Raya atau calonnya?" Tanya bu Darsih tiba-tiba setelah pelayan rumah makan itu pergi untuk menyiapkan pesanan Gunawan.
"Huk" Raya dan juga Iqbal batuk bersamaan mendengar pertanyaan bu Darsih kepada Gunawan.
"Ini" Gunawan dengan sigap menuangkan air putih kenalam gelas, lalu memberikannya kepada Raya.
Raya menerima gelas yang di berikan oleh Gunawan, lalu dengan cepat meminumnya.
"Terimakasih" Ucap Raya setelah meletakkan gelas di atas meja makan.
Sedang Iqbal mengambil minum sendiri yang memang dari awal ia makan sudah ia sediakan sendiri di samping piringnya.
"Kalian kompakan sekali batuknya!" Ucap bu Darsih.
"Kebetulan saja, bu!" Ucap Iqbal.
"O.." Bu Darsih hanya ber'o' saja mendengar jawaban dari Iqbal.
"Jadi bu Darsish masih penasaran tidak saya siapanya Raya dulu?" Tanya Gunawan sambil melirik ke arah Iqbal, meneliti ekspresi Iqbal.
"Jadi?" Tanya bu Darsih penasaran.
"Perkenalkan saya mantan dokter Raya!" Ucap Gunawan penuh percaya diri.
"Wah, serius?" Tanya bu Darsih. "Kenapa putus?" Tambah bu Darsih penasaran.
"Sejak kapan kita pacaran Gunawan?" Tanya Raya tidak terima.
Raya melempar sendok yang di pegangnya ke arah Gunawan, yang asal mengarang cerita saja sejak dulu.
"Sering ngajak pacaran tolong di garis bawahi, bukan pacaran. Itu beda Gunawan!" Ucap Raya.
"Jadi dokter Raya ini banyak penggemarnya ya?" Tanya Iqbal ikut menimpali.
"Ibu percaya, kalau dokter Raya banyak yang suka!" Ucap bu Darsih.
Ketika Gunawan hendak menjawab lagi, pelayan rumah makn itu datang membawakan pesanan Gunawan.
"Ini pesanannya!" Ucap pelayan itu sopan. "Ada yang bisa di bantu lagi?" Tanyanya menawarkan.
"Tidak, terimakasih!" Ucap Gunawan sambil tersenyum ke arah pelayan itu.
"Tebar pesona!" Ejek Raya yang sudah tahu kelakuan Gunawan dari dulu.
"Nggak usah cemburu gitu, Ray!" Ucap Gunawan santai. "Cinta yang aku miliki ini hanya untuk dirimu seorang!" Gombal Gunawan.
"Jadi kalian putus karena dokter Raya cemburu dengan tingkah kamu?" Tanya Iqbal memastikan.
"Kami tidak pernah pacaran!" Ucap Raya tegas.
"Bisa di bilang begitu!" Ucap Gunawan, lalu menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Gunawan, tolong jangan usil terus!" Ucap Raya.
__ADS_1
"Hahaha...." Gunawan tertawa melihat Raya yang sudah mulai jengkel dengannya.
"Kebiasaan kamu, Gun! " Sungut Raya.
Raya sudah tidak selera lagi untuk menghabiskan makanan yang ada dalam piringnya. Pikiran Raya yang memang sedari tadi sudah tidak tenang, di buat lebih tidak karuan dengan kelakuan Gunawan yang aneh.
"Jadi kalian habis ini mau kemana?" Tanya Gunawan.
"Kami akan ke dinas!" Ucap Iqbal akhirnya setelah menunggu Raya tidak juga menjawab pertanyaan Gunawan.
"Habis dari situ?" Tanya Gunawan lagi.
"Kemungkinan langsung pulang, karena kami kesini untuk mengambil keperluan Puskesmas saja!" Jelas Iqbal.
"Kenapa tidak sekalian jalan-jalan saja?" Tanya Gunawan.
"Aku bukan kamu yang bisa kerja dengan santai Gunawan!" Ucap Raya.
"Di bawa santai aja, Ray!" Ucap Gunawan sambil mengejek.
"Masalahnya aku ngurus nyawa orang secara langsung, Gun Gun!" Ucap Raya balik mengejek Gunawan.
"Kalian memang pasangan yang cocok ya!" Ucap Bu Darsih tiba-tiba.
"Terimakasih, bu!" Ucap Gunawan santai, lalu mengambil gelas yang ada di sebelah kanannya, dan meminumnya.
"Gun, kita nggak akan jadi pasangan bu!" Ucap Raya.
"Dulu kamu tolak aku karena Rasyid, sekarang siapa?" Tanya Gunawan tiba-tiba.
"Apa maksud kamu?" Ucap Raya kaget, Gunawan membahas Rasyid.
Kenapa tiba-tiba Gunawan membahas Rasyid sekarang ini. Raya hanya ingin pergi jauh dari nama Rasyid, itu saja.
***
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (14 bab)
Brondong Meresahkan (14 bab)
__ADS_1