JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
bab 6 surat cinta setelah 6 tahun bersama


__ADS_3

Setelah kembali dari acara perpisahan, Raya meletakkan barang bawaannya serta membereskan barang-barangnya. meletakkan penghargaannya di lemari yang ada di ruang tengah, nampak beberapa piala lain berjejer disana. tidak begitu banyak piala di lemari itu, tapi selalu dari jenis yang berbeda, ada olimpiade sains, olimpiade matematika, lomba bahasa inggris, lomba debat, dan juga jurnalis. semua piala jenis lomba yang mengandalkan otak jenius tanpa fisik yang kuat ada disana.


ketika Raya menutup pintu lemari itu, kedua orang tuanya menghampiri. mereka meminta Raya berdiskusi sebentar tentang pendidikan Raya selanjutnya, mereka ingin Raya melanjutkan pendidikan yang menjanjikan seperti dokter misalnya.


" ibu udah daftarkan kamu di jurusan ke dokteran. besok kamu tinggal berangkat ayah dan ibu anterin sampai ke rumah kakak ya dek." jelas ibunya tanpa boleh di bantah.


Raya menatap sang ayah meminta bantuan agar bisa menggoyahkan hati sang ibu. " Yah, adek males banget ambil jurusan itu...." rengek Raya sambil bergelayut di tangan ayahnya.


" coba dulu ja dek, ayah tau kamu bisa..."ucap sang ayah tenang sambil menasehati Raya, agar sedikit mengalah dengan sang ibu, dan mencoba menjalani dulu. " kalau emang nggak lulus, kita cari jurusan lain, oke?" tawar sang ayah, untuk mencari jalan tengahnya.


Raya cemberut mendengar perkataan sang ayah.


" emang adek mau ambil jurusan apa?" tanya sang ayah.


" ambil jurnalis, Yah." sahut Raya manja.


" nggak ada ya dek" sahut sang ibu tegas. " nanti kalau kamu ambil jurusan itu ribet, lihat thu anak jurnalis pada nggak pulang waktu hari-hari besar malah sibuk di jalanan cari berita sana sini," omel sang ibu.


" tapi kan bu..." belum selesai Raya membela diri, sang ibu sudah memotong kembali.


" nggak ada tapi tapian ya.." sahut sang ibu sambil menyerahkan kartu daftar SBMPTN yang telah di cetak sang ibu. " sana beresin barangnya, biar besok habis subuh berangkat kita.


" ibu..." rengek Raya sambil melihat saja sang ibu yang pergi ke arah dapur.


Raya masih memeluk sang ayah untuk mengadu. "udah coba dulu ya, dek." nasehat sang ayah.


" tapi Yah..." Raya ingin kembali mengadu, namun di tahannya, karena tidak ingin melihat sang ayah bersedih.


" coba dulu ya, dek" ulang sang ayah.


Raya mengangguk patuh mendengar ucapan sang ayah, lalu masuk ke kamar nya dan membersihakan diri, lalu membereskan barang-barang yang akan di bawa ke jogja nanti. Ibu mendaftarkan kuliahnya di universitas terbaik di sini, tapi Raya masih belum bisa menerimanya.

__ADS_1


ketika sedang mengepak barang-barang yang akan dia bawa nanti, tidak sengaja dia melihat kotak kado dari Rasyid yang tadi di letakkannya sembarangan di atas tempat tidur. Raya lalu bergegas mengepak barang-barangnya, agar bisa cepat membuka kotak kado itu.


karena sudah selesai membereskan barang-barang yang akan dia bawa, seperlunya saja Raya lalu membuka kotak kado dari Rasyid itu.


" ini isinya apa ya?" tanya Raya sambil mengguncang-guncangkan kotak kado tersebut di dekat telinganya. karena penasaran dan itu menemukan jawaban akhirnya Raya mengambil gunting dan mercon membukanya, setelah terbuka ternyata berisi kotak jam tangan sederhana dan juga sebuah surat yang di lipat begitu cantik.


Raya tidak begitu memperhatikan kotak jam itu, dia hanya melegakkannya di atas meja belajar sebelah tas yang akan ia bawa ke Jogja besok pagi, lalu dengan tidak sabar ia membuka surat yang ada disana, karena ini adalah pertama kalinya Raya mendapat surat dari Rasyid. Biasanya Rasyid hanya akan bicara seperlunya atau bahkan hanya sebuah senyum, anggukan, atau gelengan saja, jadi dia tidak akan membutuhkan kertas ini untuk berbicara kepada Raya.


Raya membuka perlahan surat itu dengan penuh rasa penasaran dan juga cemas.


^^^dear : Naraya Nadira^^^


^^^ di tempat^^^


sebelumnya aku akan meminta maaf terlebih dahulu kepadamu. yang selalu mengabaikan rasa kita, selalu mementingkan perasaan orang lain. Tidak bisa ku pungkiri begitu banyak waktu yang kita habiskan bersama, pasti akan menumbuhkan rasa cinta yang tak bisa terbendung.


Aku tau kita memiliki rasa yang sama, mungkin bukan dari mulutmu langsung, ataupun dari kata yang ku ucap, kita sama-sama tau akan hal itu dalam diam.


aku sangat ingin mengungkapkannya dulu, tapi mungkin itu bukan hal terbaik yang bisa kita lakukan. aku cukup bahagia bisa berjalan beriringan bersamamu, melihat senyummu hampir di setiap waktu selama enam tahun kita bersama menghabiskan waktu di sekolah.


aku hanya ingin mengucapkan itu.


Tidak perlu menungguku, karena mungkin aku akan pergi dalam waktu yang lama. kalau memang kita berjodoh akan ada jalan untuk kita bertemu kembali dalam keadaan siap untuk memulai sesuatu yang lebih baik dari hanya sekedar mengungkapkan rasa.


ingat jangan menungguku, nikmati waktumu. aku akan menghubungi mu nanti.


semangat kuliahnya, pilihan orang tua kadang kala adalah yang terbaik, meski harus penuh dengan air mata.


I love you Naraya Nadira.


^^^M. Rasyid^^^

__ADS_1


Setelah membaca surat itu air mata Raya mengalir deras dan tidak bisa terbendung lagi. Raya bingung harus bagaimana, dia bahagia cintanya yang awalnya ia kira hanya bertepuk sebelah tangan ternyata tidak seperti itu. Namun, dia juga sedih. karena cintanya pergi tanpa pamit setelah menitipkan surat cinta yang dia tunggu selama bertahun-tahun lamanya.


Raya sangat ingin marah dan memukul Rasyid sekarang ini. Rasyid begitu pintar membuat hatinya terombang-ambing seperti berada di roller coaster, setelah dibuat bahagia dengan ungkapan cinta yang begitu di tunggunya, di situ juga dia harus menerima kenyataan bahwa cintanya akan pergi jauh dan lama tanpa kabar.


Sebenarnya Rasyid masih bisa di hubungi melalui skype. tapi, perbedaan waktu disana dan indonesia yang sangat jauh, pasti akan menyulitkan komunikasi mereka, belum lagi Rasyid akan tinggal di asrama yang pasti punya peraturan yang cukup ketat.


setelah agak tenang Raya mencoba menghubungi Rasyid menggunakan ponselnya. setelah berdering beberapa kali, panggilan itu di angkat oleh Rasyid.


selang beberapa hampir 1 menit berlalu hanya ada keheningan dalam telpon itu, hingga akhirnya Rasyid bertanya terlebih dahulu kepada Raya.


" sudah di buka kadonya, Ay?" tanya Rasyid untuk memecah keheningan.


" sudah" jawab Raya sambil menahan isak tangisnya.


" suka sama jamnya?" tanya Rasyid lagi.


" Rasyid jahat, nyebelin." bukanya menjawab pertanyaan Rasyid ,Raya malah mulai mencaci-maki Rasyid.


" Ay, jangan nangis..." tenang Rasyid.


Raya masih sesegukan, ia sudah tidak bisa mengontrol tangisnya lagi.


" Ay, sekolah yang bener ya, wujudkan mimpi yang pernah Ay pengen dari dulu. " Rasyid menoleh nafas sejenak. " dulu Ay pernah bilangkan pengen jadi Dokter?" tanya Rasyid lagi.


Raya hanya mengangguk meskipun ia tau Rasyid tidak akan bisa melihatnya, tapi Rasyid pasti paham apa yang ia jawab.


" ibu cuman inget apa yang Ay, pengen dulu. jadi ibu nyuruh Ay buat jadi dokter sesuatu mimpi Ay. kadang mimpi kita suka berubah seiring banyaknya kritikan orang lain. Ay semangat ya" jelas Rasyid.


hanya hening beberapa saat, hingga akhirnya Rasyid pamit, karena sebentar lagi dia harus cek in untuk penerbangan yang panjang.


"Ay, Rasyid tutup dulu ya.? nanti Rasyid hubungi lagi kalau sudah sampai di sana ya.jangan lupa paswoad yang udah Id buatin aku sosial media nya ya." tutup Rasyid, walupun Raya masih diam saja, tandanya dia masih marah kepada Rasyid.

__ADS_1


***


kadang kala perpisahan itu bukan akhir segalanya. namun, malah perpisahan itu menjadi awal dari segalanya yang lebih besar.


__ADS_2