JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
60. Rencana


__ADS_3

Raya yang ketakutan seketika kehilangan kekuatan dan juga keberanian untuk hanya sekedar melihat atau siapa yang sudah menarik tangannya tersebut.


Beralu beberapa saat tapi tidak ada pergerakan apapun dari orang yang telah menaiknya itu. Raya akhirnya sekuat tenaga memberanikan diri untuk melihat ke arah orang yang telah menariknya itu, dengan sedikit mendongakkan kepalanya.


Setelah melihat wajah orang itu Raya menangis dengan cukup kencang dan sesegukan.


"Hiks...hiks..." Suara tangis Raya.


Sosok di hadapan Raya hanya diam dan sesekali mengelus kepala Raya dengan sayang.


"Kan sudah ketemu kok nagis?" Tanya suara yang begitu Raya rindukan.


***


Raya mendongakkan kepalanya menatap pemilik suara tenang dan lembut yang begitu membuat hati Raya tenang.


Mata Raya besitatap dengan mata elang yang meneduhkan itu. Raya tidak dapat berkedip menatap mata teduh di depannya.


"Id?" Tanya Raya memastikan dengan suara bergetar.


Rasyid yang berada di hadapan Raya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu mengusap kepala Raya pelan.


"Kamu jangan tinggalin aku!" Titah Raya tanpa mau di bantah oleh Rasyid.


"Iya." Jawab Rasyid sambil menghela nafas pelan. "Kan yang kemaren ninggalin kamu, Ay!" Ingat Rasyid.


"Maaf.." Pinta Raya dengan terbata-bata.


Setelah drama yang cukup lama Rasyid mengajak Raya duduk di halte bis depan sekolah itu.


"Ai, mau nikah sama aku kan?" Tanya Rasyid sambil memandang ke depan, menatap beberapa kendaraan yang masih berlalu lalang di depan sana.


"Kamu ngelamar aku?" Tanya Raya.


"Menurut kamu gimana?" Rasyid tidak menjawab pertanyaan Raya, dan balik bertanya kepada Raya.


"Nggak romantis banget...." Omel Raya yang mendengar ajakan menikah Rasyid seperti tawaran pulang sekolah bersama ketika mereka masih SMA dulu.


"Kamu pas aku mau romantis dengan semua persiapan udah mantep banget malah kabur..!" Ucap Rasyid sambil memencet hidung Raya.


"Hehe...maaf, Kamu mau ngelamar nggak ngomong bikin salah paham aja!" Bela Raya tidak mau di salahkan.


"Ya kalau nggak gitu bukan kejutan dan sisi romantisnya romantisnya dimana Ai?" Ucap Rasyid.


Raya diam sejenak. Raya sudah tahu bahwa ia memang salah dengan mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya dulu. Dia masih sangat egois.


"Jadi kamu, nggak mau nikah sama aku, Ai?" Tanya Rasyid lagi.


"Mau" Jawab Raya cepat, takut akan terjadi salah faham lagi di antara mereka.


"Aku telpon orang tua kita dulu buat ngabarin mereka." Ucap Rasyid sambil mengeluarkan ponselnya.


Beberapa saat Rasyid sibuk dengan ponselnya yang berbicara dengan kedua orang tuanya. Raya hanya mendengarkan beberapa kata saja yang bisa ia tangkap.

__ADS_1


"Ia, nanti sesuai dengan jadwal awal saja." Ucap Rasyid.


"..."


"Nanti biar Raya, Rasyid yang ngurus." Rasyid menjawab pertanyaan dari sebrang telpon.


"..."


"Ibu aja yang ngurus nanti sama orang tua Raya." Ucap Rasyid


"...."


"Nanti di dibicarakan lagi kalau Rasyid sampai jakarta"


Hanya itu yang bisa Raya dengar dari pembicaraan Rasyid dengan orang tuanya yang berada di Jakarta.


Mereka berjalan menuju Hotel tempat menginap, karena hari sudah malam. Dan mereka butuh waktu untuk istirahat dengan semua drama yang mereka buat hari ini.


"Terus orang yang sama kamu pas di desa itu siapa?" Tanya Rasyid tiba-tiba dengan penasaran dan juga cemburu.


"Siapa?" Tanya Raya yang tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Rasyid.


"Orang yang sama kamu waktu aku jemput kamu di pinggir sungai." Jelas Rasyid.


"Iqbal?" Tanya Raya memastikan.


"Mungkin" Jawab Rasyid dengan jengkel karena sedari tadi ia sengaja tidak menyebut nama orang itu karena masih merasa cemburu.


"O.." Raya yag merasa tidak perlu menjelaskan apapun hanya ber'o' saja.


Raya tersenyum mendengar Rasyid seperti menuntut jawaban darinya.


"Kenapa senyum?" Tanya Rasyid curiga. "Kamu senyum karena inget dia?" Tuduhnya.


"Aku senyum karena kamu, kenapa aku harus senyum karena dia?" Tanya Raya menggoda Rasyid.


"Jadi dia siapa?" Tanya Rasyid lagi.


"Dia itu guru di desa sebrang, dan tinggal di desa tempat aku tinggal." Jelas Raya seperlunya.


"Terus ngapain kamu ke kabupaten di anter dia waktu itu?" Tanya Rasyid penuh selidik.


Raya mengerutkan kening berfikir tahu dari mana Rasyid tentang masalah itu. 'Pasti si biang kerok ini yang buat laporan aneh-aneh' Pikir Raya.


"Aku ke kabupaten bareng dia karena dia memang kerja sampingan jadi sopir kalau nggak ada jadwal ngajar, untuk memenuhi kebutuhan hidup katanya." Jelas Raya.


"Kata siapa?" Tanya Rasyid yang ingin tahu Raya dapat informasi tentang Iqbal dari siapa.


"Itu dia cerita waktu kami ketemu di desa sebrang." Jawab Raya.


"hm..." Rasyid hanya berdehem mendengar penjelasan Raya tentang siapa Iqbal.


"Kenapa bisa deket gitu?" Tanya Rasyid.

__ADS_1


"Nggak deket juga, cuman kebetulan aku beberapa kali harus ketemu dia." Jawab Raya. "Balik ke topik, jadi kapan kita nikah?" Tanya Raya mengalihkan pembicaraan.


"Sesuatu dengan jadwal awal 3 bulan lagi." Ucap Rasyid tenang sambil memainkan jari jemarinya.


"Gimana?" Tanya Raya kaget mendengar jawaban Rasyid yang sesuka hatinya sendiri.


"Sesuai jadwal yang sudah aku diskusikan dengan orang tua kita harusnya sekitar 3 bulan lagi!" Ucap Rasyid mengulang kata-katanya tadi dengan lebih jelas.


"Aku nggak bisa Izin lama, dengan kondisi sekarang ini!" Ucap Raya tidak terima dengan keputusan yang tidak melibatkan dia.


"Masuk kamar sana!" Ucap Rasyid setelah sampai di depan kamar hotel milik Raya.


"Id...!" Rengek Raya.


"Besok kita bicara lagi, Ai!" Ucap Rasyid menenangkan.


"Sekarang aja!" Pinta Raya dengan wajah memelas.


"Udah malam, dan aku juga udah capek." Rasyid mencoba menjelaskan kondisi mereka yang memang butuh istirahat.


"Terus ngomongnya kapan?" Raya cemberut dan ingin bicara dengan Rasyid sekarang, ia ingin menyelesaikan semuanya malam itu juga.


Raya pasti akan susah tidur bila banyak hal yang masih ada di dalam kepala yang tidak sesuai dengan ke inginannya.


"Besok pagi sayang...." Ucap Rasyid sambil tersenyum dan membukakan pintu kamar untuk Raya.


"Besok pagi pas sarapan?" Raya memastikan waktu tepatnya kapan mereka akan bicara tentang masalah pernikahannya.


Rasyid mengangguk dengan yakin. "Masuk sekarang dan tidur!" Perintah Rasyid mendorong Raya untuk masuk kedalam kamarnya dengan lembut.


Raya masuk kamarnya dengan memasang wajah yang cemberut.


****


bersambung


Cerita kita mungkin tak seindah kisah romantis yang begitu menyejukan hati, atau tak perlu air mata yang begitu menggoreskan luka di jiwa hingga membuat orang lain ikut menangis. Tapi kisah kita indah dan perih bagi kita yang menjalankan bersama dan tetap bergandeng tangan.#RR


Maaf sudah lama nggak up, dunia nyata lagi nggak baik-baik saja.


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (15 bab)




Brondong Meresahkan (15 bab)

__ADS_1




__ADS_2