
flashback
Hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa) Raya sudah dibuat jengkel dengan salah satu murid yang telat datang kesekolah, dan tidak ikut TM (Technical Meeting) dari sabtu kemaren. karena ulah satu anak itu kini semua siswa baru yang berada satu kelas denagnya disana harus di hukum untuk berdiri di lapangan sepak bola.
Raya dan 28 siswa lainnya harus berdiri dan mendengarkan nasihat dari kakak kelas yang menyuruh mereka untuk saling mengingatkan agar tidak ada yang telat lagi besok. karena setiap ada yang telat, maka mereka akan di hukum semua dalam satu kelas tersebut.
" kalian tahu bahasa indonesia yang baik dan benarkan?" seru seorang panitia MOS di depan mereka sambil membawa pengeras suara agar semua anak dengar. " jawab! " perintah nya ketika pertanyaannya tadi tidak mendapat jawaban dari siapapun disana.
" bisa kak." jawab mereka serentak.
" bisa apa?" tanya panitia lainnya sambil mengambil pengeras suara dari temannya.
" bisa bahas indonesia kak!" jawab mereka serentak lagi.
" jadi kenapa tidak saling mengingatkan?" seketika semua hening, tidak tahu akan menjawab seperti apa, karena sebenarnya mereka semua tidak tahu siapa yang sedang telat sekarang. dia tidak datang kemaren sewaktu TM persiapan MOS dan tidak ada yang mengenal dia satupun dari kelas ini.
" punya mulutkan?, kenapa diam! jawab!" teriak panitia MOS dengan sedikit sombong, karena merasa menjadi hebat selama menjadi panitia acara MOS ini.
Hening, tidak ada yang berani menjawab. karena mereka tahu ketika menjawab pertanyaan tidak penting ini mereka akan dapat masalah lebih besar lagi.
" kak!" Raya yang mulai jengah dengan kelakuan panitia MOS di sekolah ini mengangkat tangan, berinisiatif menjelaskan kegundahan mereka.
" kenapa?" tanya panitia yang berada tepat di depan barisan Raya.
" kami semua tidak ada yang kenal orang yang telat ini, bagaimana kami mengingatkan dia kalau wajahmnya saja kami tidak tahu! " jelas Raya membela.
" o...berani jawab kamu ya!" ejek panitia yang memegang pengeras suara.
Raya berfikir kalau orang seperti ini harus di beri pelajaran jadi dia balik bertanya " kakak punya nomer HP orang yang telat ini nggak?, biar coba saya telpon siapa tahu dia lagi kena macet, atau mogok di jalan!" jawab Raya.
" darimana pulak kami punya nomernya!" hardik panitia tersebut.
" kakak yang panitia dan sebagai penanggung jawab ja nggak punya nomer HPnya, gimana kami tahu nomernya?, kamu harus tanya siapa coba?" tantang Raya balik.
mendengar jawaban Raya yang berani itu beberapa teman sekelas Raya merasa kagum dengan keberanian Raya dan juga argumennya yang dapat membalikkan keadaan.
" berani banget ya dia" bisik-bisi yang masuk ketelinga Raya.
__ADS_1
" hebat bisa buat panitia yang pada sok berkuasa ini diem seribu bahasa" ada yang memuji Raya.
" gila sich, pasti pinter debat!" bisik yang lain.
Namun ada beberapa orang pula yang mulai menganggap Raya cari perhatian dan juga sok bijak, yang nantinya akan menyulitkan mereka semua selama satu minggu kedepan.
" mentang-mentang cantik, sok pinter dia, paling juga caper!" beberapa orang yang tidak suka dengan Raya mulai menganggap Raya cari perhatian dan lainnya.
" alah paling cuman berani ngomong doang, nanti awas ja kalau gara-gara dia kita semua kena getahnya. !"
" biasalah kalau di kelas nggak ada yang gini kan nggak seru..!" bisik yang lainnya,
Raya mendengar beberapa komentar mereka yang hanya Raya anggap angin lalu saja. menurut Raya lebih baik mencoba melawan dan gagal dari pada dia harus berdiri dibawah terik matahari yang sangat tidak bersahabat pagi ini, dari pada tidak berusaha sama sekali dan berakhir dengan dia pingsan di tengah lapangan.
Raya sudah merasa pusing dari tadi, makanya dia mencoba melawan para senior yang mulai sok berkuasa, karena sepertinya tanggung jawab sepenuhnya mereka yang pegang. Tidak ada satu guru pun yang ada di lapangan sejak acara apel pagi tadi selesai dilaksanakan.
" coba kamu sini yang udah berani ngelawan!" perintah panitia yang dari tadi memegang pengeras suara di depan.
Raya berjalan kedepan sambil di apit oleh dua orang panitia lainnya, digiring menuju kedepan. ketika sampai depan Raya mulai mendapat intimidasi.
" coba ngomong kayak tadi lagi!" perintah panitia yabg meminta Raya maju kedepan tersebut.
" kamu tahu peraturan yang berlaku untuk MOS ini?" tanya senior tersebut sombong.
" nggak" jawab Raya cepat.
" coba bawa sini peraturan tertulis kita!" perintah panitia tersebut kepada panitia lainnya.
beberapa detik kemudian Raya di minta untuk membacakan peraturan selama MOS yang tertulis dalam sebuah kertas.
...peraturan...
pasal 1. senior selalu benar.
pasal 2. junior selalu salah.
pasal 3. jikalau senior salah kembali ke pasal 1.
__ADS_1
pasal 4. jikalau junior benar kembali ke pasal 2.
^^^tertanda^^^
^^^ketua panitia^^^
Raya yang melihat itu melotot dan merasa terpojok, ini bukan peraturan namanya. ini penindasan. harusnya ini MOS itu sebagai ajak perkenalan dan saling menunjukkan budaya sekolah bukan seperti ini.
" coba dibaca yang keras." perintah panitia yang meminta Raya kedepan tadi.
" hah?"
" di baca adek kelas yang cantik!" ejek nya melihat Raya syok.
" peraturan" ucap Raya dengan menggunakan pengeras suara. "pasal .....satu... senior selalu benar... pasal.... 2. junior selalu salah...pasal ....3. jikalau se...nior salah kem.." Raya menelan ludah sebentar untuk menetralkan tenggorokannya yang tersa begitu kering.
semua siswa baru yang melihat itu sudah berfikir hal terburuk apa yang akan terjadi kepada Raya.
" kemb...bali ke pasal 1. ..pa....sal 4. jikalau junior benar kembali ke pasal 2. tertanda .... ketua ...panitia" Raya membaca peraturan itu dengan sedikit terbaik-bata karena sudah pasti setelah ini dia akan mendapat hukuman yang lebih parah dari ini.
" jadi....kalian semua paham?" tanya panitia tersebut setelah mengambil pengeras suara dari tangan Raya.
seketika semua hening, mereka berfikir Raya sudah pasti akan mendapat hukuman yang lebih parah atau mungkin mereka semua yang mendapat hukuman.
" jadi, kalian faham?" ulang sekali lagi sang ketua panitia tersebut mulai geram karena tidak mendapat jawaban.
" fa..ham.. ka.." jawab mereka semua agak takut-takut.
" kamu faham?" tanya panitia tersebut kepada Raya yang sudah mulai berkeringat dengan antara menahan rasa pusing yang menderanya sedari tadi dan juga rasa pusing karena pasti nantinya dia akan kena hukum. 'mampus' teriak hati Raya.
" kamu faham nggak?" teriak panitia tersebut dengan pengeras suara tepat di depan telinga Raya.
Raya mendapat perlakuan seperti itu merasa berdenging di telinganya, dan juga tambah merasa pusing yang sudah tidak tertolong, dalam hati Raya hanya dapat berdoa ' semoga ada pertolongan yang bisa membantunya lepas dari siksaan ini' gumam Raya dalam hati.
Raya hendak mendebat lagi ketika tiba-tiba dari arah gerbang sekolah ada seorang anak laki-laki seusianya berlari dengan nafas putus-putus dan sedikit menunduk ketika sampai di depan panitia lalu menolong Raya dari masalah yang sedikit menyebalkan ini.
" maaf kak, saya telat.." kata anak tersebut.
__ADS_1
***
terkadang hanya butuh satu orang saja untuk memberikan pendapat. Namun, butuh banyak orang yang bergerak untuk melakukan pendapat tersebut.