JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
55.


__ADS_3

Rasyid sudah bersiap menunggu Raya di ruang tengah. Rasyid duduk dengan menikmati secangkir kopi dan ponsel di tangannya.


Ketika Raya keluar dari kamar dengan muka bangun tidur dan rambut kusut.


Rasyid tersenyum ketika melihat Raya keluar dari kamar. Raya yang sadar bahwa mukanya yang tidak bisa di kondisikan. Kembali ke kamar.


Rasyid yang melihat Raya seperti itu tersenyum.


'Kamu cantik, Ay!' Ucap Rasyid dengan senyum yang memenuhi paginya. Rasyid salah tingkah sendiri.


***


Setelah selesai sarapan Rasyid mengikuti Raya yang hendak pergi ke puskesmas. Rasyid hanya ingin meluruskan masalah yang terjadi di antara mereka berdua.


"Ay, aku cuma butuh kamu dengerin ja apa yang aku bilang!" Ucap Rasyid yang berjalan di samping Raya.


Raya yang di minta mendengarkan saja hanya melirik Rasyid sekilas dan kembali fokus ke jalan yang memang sedikit licin, karena jalan yang mereka lewati jalanan berbatu.


Rasyid menghela nafas panjang untuk menguatkan hatinya, untuk bicara dengan Raya. Rasyid akan menerima apapun hasil dari usahanya untuk bicara dengan Raya.


"Aku nggak tahu apa yang membuat kamu nggak balik ke Jakarta." Ucap Rasyid menarik nafas sejenak. "Kalau memang kamu mau pergi kesini seharusnya kamu bisa bicara waktu aku akan pergi dari desa itu!" Lanjut Rasyid.


"Untuk apa?" Tanya Raya.


"Jadi selama ini kamu anggap hubungan kita apa?" Tanya Rasyid balik.


"Memang kita ada hubungan apa?" Tanya Raya yang masih terus berjalan.


"Aku kira dengan aku sudah bilang kalau aku suka sama kamu, dan kita terus komunikasi selama aku di luar negri sana... Hubungan kita lebih dari sekedar teman...." Ucap Rasyid gamang.


Raya berhenti sejenak merasa kaget, menoleh sebentar ke arah Rasyid yang masih terus berjalan tanpa melihat Raya.


Raya lalu berjalan sedikit cepat menyusul Rasyid.


"Jadi Rasa ini hanya aku yang punya?" Tanya Rasyid pelan.


Raya hanya diam, tanpa suara. Dia memperhatikan wajah Rasyid yang seperti udah berlinang air mata.


"Aku pikir kamu juga punya rasa yang sama dengan aku, Ay!" Ucap Rasyid sambil menghela nafas lelah. Rasyid berhenti menatap Raya sejenak.


Rasyid menarik Raya dalam pelukannya. Membawa Raya dalam depannya dengan cukup erat, menyalurkan Rasa kecewa yang begitu dalam dari hatinya.


Raya yang sadar bahwa mereka berada di jalanan kampung yang masih memegang adat istiadat yang kental dan menganggap perbuatan seperti ini tabu, mencoba melepaskan diri dari pelukan Rasyid.


Namun, perbuatan Raya membuat Rasyid semakin salah faham dan beranggapan bahwa Raya memang tidak pernah mencintainya.


"Kemaren aku sempat mempersiapkan kejutan untuk kamu, Ay!" Ucap Rasyid penuh dengan nada kecewa. Rasyid melepaskan pelukannya pada Raya. Menuduk dengan penuh luka.

__ADS_1


Raya mengerutkan kening tidak mengerti maksud Rasyid.


"Aku ingin membuat pesta pertunangan untuk kita, tanpa memberitahu kamu terlebih dulu." jelas Rasyid sambil menatap Raya.


Raya yang mendengar perkataan Rasyid terkejut bukan main.


'Jadi aku salah faham?' Pikir Raya, tanpa bisa mengeluarkan kata-kata sedikitpun.


"Aku kira kamu akan terharu dengan apa yang sudah aku persiapkan, kamu akan menangis bahagia ketika aku membawa kamu ketempat yang memang sudah menjadi mimpi dulu sewaktu kita masih duduk di bangku SMA, dengan semua imajinasi kamu!" Jelas Rasyid panjang lebar sambil menerawang ke atas, menjaga agar air matanya tidak jatuh.


"Ma..." Belum sempat Raya mengeluarkan kata-katanya, ada panggilan dari arah puskesmas.


"Bu dokter, ada korban kecelakaan yang harus segera di tangani!" Ucap salah satu perawat yang menyusul Raya dengan nafas yang terputus-putus.


Raya menatap Rasyid sejenak, lalu melihat ke arah perawat yang memanggilnya.


Raya di buat dilema dengan pilihan ini. Tapi, dengan berat hati Raya harus memilih pasien di banding Rasyid.


"Id, kita bisa bicara nanti lagi ya?" Tawar Raya akhirnya, menyudahi pergelutan pikirannya. Raya memilih untuk mementingkan pengabdiannya daripada hatinya.


Rasyid tersenyum kaku, lalu menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan Raya untuk bicara lagi nanti. Tapi di dalam hati Rasyid hanya ada Rasa kecewa yang mendalam.


Rasyid memadang punggung Raya yang menjauh darinya dengan berlari, dan dia hanya bisa melihat dari jauh saja.


"Ini memeng mungkin akhirnya?" Ucap Rasyid penuh tanya pada dirinya sendiri.


Rasyid berbalik, kembali ke rumah dinas Raya yang di tempati olehnya tadi malam.


Rasyid memasuki rumah itu, langsung mencari Gunawan yang baru selesai mandi.


"Kita pulang!" Perintah Rasyid.


"Ah?" Ucap Gunawan kaget. "Gimana?" Tanya Gunawan takut alah dengar.


Mereka baru saja sampai disini kemaren sore, badan nya saja masih begitu capek yang hanya melakukan perjalanan dari kabupaten ke desa ini, apalagi Rasyid yang lebih jauh perjanannya.


"KI-TA PU-LANG!" Ulang Rasyid penuh penekanan


"Kamu yakin?" Tanya Gunawan khawatir.


"Iya." Jawab Rasyid singkat.


"Jangan gila kamu!" Hardik Gunawan. "Kamu bahkan belum bicara dengan Raya!" Lanjut Gunawan tidak habis fikir.


"Aku sudah bicara dengan Raya sebentar tadi!" Ucap Rasyid.


"Lalu?" Tanya Gunawan meminta penjelasan hasil dari pembicaraan kedua orang sahabatnya itu

__ADS_1


"Kita pulang, sekarang Gunawan !" Tekan Rasyid.


"Kamu yakin?" Tanya Gunawan meyakinkan Rasyid.


"Iya!" Rasyid lalu dengan cepat membereskan semua barang bawaannya.


Rasyid dan Gunawan mencari bu Darsih ke dapur untuk berpamit pulang ke kota.


"Bu kami pamit ya!" Ucap Gunawan sambil menyalami bu Darsih.


"Kenapa cepat-cepat pulang?" Tanya bu Darsih penasaran. "Ibu sudah belanja banyak ini, buat makan siang sama makan malam nanti!" Jelas bu Darsih sambil menunjukkan kantong belanjanya yang memang belanja lebih banyak dari bisanya.


"Em..." Gunawan bingung harus menjawab apa.


"Maaf bu, saya barus ja di telpon untuk kembali ke Jakarta. Ada pekerjaan!" Jelas Rasyid, agar tidak membuat bu Darsih tidak kecewa.


"Yakin?" Tanya Bu Darsih meyakinkan.


"Iya bu!" Jawab Rasyid yakin.


***


Di dalam perjalanan pulang, Rasyid masih sempat melihat puskesmas yang sepertinya memang cukup ramai hari ini di banding hari kemaren ketika dia baru saja datang.


"Id, aku tahu kamu. Memang cinta dalam diam itu bagus banget, bahkan jadi kisah cinta yang dahsyat. Tapi kadang kala perempuan butuh kepastian akan hubungan mereka. Agar tahu arahnya akan di bawa kemana!" Nasehat Gunawan, masih tetap fokus mengemudikan mobilnya.


***


Kadang kala puncak tertinggi dari mencintai seseorang mungkin adalah diam dan mengikhlaskannya bersama orang lain.


Tapi ada kalanya cinta itu harus di ucapkan dan di perjuangkan agar kita tahu layakkah dia untuk kita.


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (14 bab)




Brondong Meresahkan (14 bab)

__ADS_1




__ADS_2