JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
59. cinta kembali


__ADS_3

"Temenku tadi sih, kayaknya nagis kejer, karena di tinggal pacar...hahaha...!" Ejek Gunawan puas.


"Ish!" Raya mendesis tidak terima.


"Sudah cepet mandi, nanti aku ajak kamu ketemu pujaan hati yang ganteng itu!" Ucap Gunawan menenangkan!"


"Janji?" Tanya Raya meyakinkan perkataan Gunawan.


"Janji!" Janji Gunawan sambil menutu sambungan telpon.


***


Raya membersihkan diri di Kamar hotelnya memakan waktu cukup lama sekitar 1 jam lebih. Hingga membuat Gunawan yang menunggunya merasa kesal sendiri.


Beberapa kali Gunawan melihat jam yang ada di dinding lobi hotel yang tepat berada di depannya, sambil sesekali melihat kearah tangga. Tapi belum juga ada tanda-tanda bahwa Raya akan menunjukkan batang hidungnya.


Gunawan mengambil ponselnya lalu menelpon Raya yang sedang di tunggunya itu.


"Cepet tuan putri!" Perintah Gunawan tanpa mengucapkan salam setelah Raya mengangkat telponya.


"Iya, sebentar lagi turun!" Jawab Raya sambil sibuk sendiri dari sebrang telpon itu.


"Lagi ngapain?" Tanya Gunawan tidak sabar.


"Lagi OTW ini!" Jawab Raya sambil menutup telponnya.


"OTW?" Tanya Gunawan pada layar ponselnya. "Mari kita lihat OTW yang kamu maksud itu apa?" Ucap Gunawan sambil melihat jam yang ada di ponselnya lalu mengatur stopwatch di ponsel dalam genggamannya tersebut.


Detik demi detik berlalu, Raya nampak menuruni tangga di lobi hotel itu telat pukul 8 malam. Lebih tepatnya Raya sampai di lobi hotel tersebut setelah 15 menit dari sejak dia bilang sedang OTW.


Gunawan yang melihat Raya berjalan mendekatinya, lalu mematikan stolwatch yang sudah ia putar itu, sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Raya.


"Jadi kamu sudah berubah jadi siput ya?" Sindir Gunawan.


"Hehe..hehe.." Raya hanya tertawa tidak enak mendengar sindiran Gunawan tersebut.


"Kamu bilang OTW dari lantai 2 ke lantai 1 yang hanya berjarak LIMA PULUH METER saja seharusnya itu bisa di tempuh hanya dalam 5 menit pa...li....ng lama!" Tekan Gunawan yang kesal sendiri menunggu Raya.


"Maaf" Ucap Raya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Gunawan menghela nafas malas.


"Ya...ya sudah, ayo berangkat!" Ajak Gunawan menarik tangan Raya agar mengikuti langkahnya.


Raya hanya mengikuti langkah Gunawan yang membawanya keluar hotel dengan diam saja.

__ADS_1


Raya yang sudah mengikuti langkah cukup jauh, namun tidak ada tanda-tanda Gunawan akan berhenti akhirnya bertanya dengan tidak sabar.


"Ini kita mau kemana sich?" Tanya Raya dengan nafas yang mulai lelah.


"Udah ikut ja!" Perintah Gunawan masih sambil terus berjalan dan menggandeng tangan Raya.


"Aku capek, Gun!" Keluh Raya sambil memijat pahanya yang sudah mulai sakit.


"Mau ketemu pujaan hati kamu yang kamu cintai setengah mati itu nggak?" Tanya Gunawan.


"Nggak Gun!" Jawab Raya cepat.


"Kamu udah nggak mau ketemu sama Rasyid lagi?" Tanya Gunawan panik sambil berbalik ke arah Raya yang berada di belakangnya.


"Masih cintalah!" Jawab Raya cepat.


"Kok bilang nggak tadi?" Tanya Gunawan meminta penjelasan dari kata-kata Raya barusan.


"Nggak setengah mati cintaku ke Rasyid, tapi kalau bisa sampai maut memisahkan kami berdua, Gun." Jawab Raya sambi mermonolog.


"Dasar budak cinta" Ejek Gunawan, jijik mendengar kata-kata Raya yang mulai mendramatisir keadaan.


"Biarin, wekk!" Jawab Raya.


Gunawan kembali berjalan tanpa menggandeng tangan Raya lagi. Gunawan berjalan dengan cepat membiarkan Raya berjalan dengan sedikit berlari di belakangnya.


Raya yang bingung melihat Gunawan berhenti di tempat ini, hanya diam dan memperhatikan sekitar dengan sedikit bergidik ngeri. Pasalnya tempat pemberhentian bis ini sangat sepi, karena memang sudah malam yang pasti sekolah juga sudah berakhir dari tadi siang.


Disekitar halte itu hanya ada beberapa sekolah dari SD, SMP hingga SMA yang saling bergadang-hadapan.


"Kenapa berhenti disini Gun?" Tanya Raya.


"Duduk dulu ja disini!" Jawab Gunawan sambil menunjuk kursi yang ada di halte itu.


Raya mengikuti perintah Gunawan dan duduk di kursi yang ada disana tanpa banya bertanya. Raya takut nantinya Gunawan kesana padanya dan memilih untuk membiarkan dirinya berada disana sendirian saja.


"Mau kemana?" Tanya Raya sambil menarik tangan Gunawan yang seperti hendak pergi meninggalkannya disana sendirian.


Raya sudah berfikir jelek tentang berada disana sendirian tanpa siapapun sejak tadi, dan sekarang Gunawan hendak meninggalkannya sendirian di sini.


"Aku beli minum dulu di warung itu!" Tunjuk Gunawan pada warung yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri, warung yang menggunakan lampu berwarna kuning yang sudah mulai redup itu.


"Aku ikut ja!" Pinta Raya dengan suara bergetar.


"Sini bentar ja!" Perintah Gunawan pada Raya sambil menyuruhnya untuk duduk kembali. "Bentar lagi Rasyid sampai." Ucap Gunawan mengingatkan bahwa mereka sedang menunggu orang lain.

__ADS_1


"Kenapa disini?" Tanya Raya bingung.


"Kamu tunggu disini sebentar atau apapun nanti yang terjadi, sampai Rasyid memilih untuk kembali ke Jakarta malam ini itu bukan urusan aku lagi. Atau apapun yang terjadi sama kamu, aku nggak akan tanggung jawab!" Ancam Gunawan sambil mengangkat jari telunjuknya.


"Oke, jangan lama-lama ya!" Ucap Raya sepakat.


Raya memandangi Gunawan yang berjalan ke arah warung itu dengan santainya, tapi ketika tepat berada di depan warung Gunawan tidak berhenti sama sekali.


Gunawan melewati warung yang tadi di tunjuknya dan berjalan dengan cepat, menghilang di kegelapan malam.


Raya yang menyaksikan itu serasa ingin menangis, dan hendak mengejar Gunawan. Tapi, ketika ia hendak berlari tangan kirinya ditarik denga kuat oleh orang yang ada di belakangnya dengan kuat sehingga membuat Raya berbalik badan dan membentur orang yang menariknya itu.


Raya yang ketakutan seketika kehilangan kekuatan dan juga keberanian untuk hanya sekedar melihat atau siapa yang sudah menarik tangannya tersebut.


Beralu beberapa saat tapi tidak ada pergerakan apapun dari orang yang telah menaiknya itu. Raya akhirnya sekuat tenaga memberanikan diri untuk melihat ke arah orang yang telah menariknya itu, dengan sedikit mendongakkan kepalanya.


Setelah melihat wajah orang itu Raya menangis dengan cukup kencang dan sesegukan.


"Hiks...hiks..." Suara tangis Raya.


Sosok di hadapan Raya hanya diam dan sesekali mengelus kepala Raya dengan sayang.


"Kan sudah ketemu kok nagis?" Tanya suara yang begitu Raya rindukan.


***


bersambung


Aku melihatmu bukan dengan mata, namun dengan hati. Aku memujamu bukan dengan kata, namun dengan jiwa. Aku mencintaimu bukan dengan logika, namun dengan rasa. Aku memilih bersama kamu bukan karena rupa, Tapi dengan caramu yang luar biasa. #RR


Maaf sudah lama nggak up, dunia nyata lagi nggak baik-baik saja.


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (14 bab)




Brondong Meresahkan (14 bab)

__ADS_1




__ADS_2