JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
24. makan malam bersama


__ADS_3

Kini Raya, Yana, Beni dan Rasyid duduk berempat di atas tikar yang terbentang di lantai dapur, Rasyid duduk bersebelahan dengan Raya dan juga Beni disisi satunya. Suasana tampak begitu hangat penuh tawa.


Karena Rasyid adalah orang yang mudah berbaur dengan orang, meskipun dia sedikit pendiam. Beni dengan iseng bertanya tentang bagaimana Rasyid bisa dekat dengan Raya.


" Kamu kenal Raya dimana?" Tanya Beni.


" Temen dari SMP!" Sambil menyendok sambal asam pedas yang di masak Raya ke piringnya, Rasyid hanya menjawab singkat.


" Sukanya juga dari SMP?" Tanya Beni lagi.


" Kalau suka dari pertama ketemu!" Jawab Rasyid sambil menggoda Raya.


" Pacarannya udah dari SMP, lama amat?" Tanya Beni heran. " Berapa tahun thu?"


" Ya nggak pacaran juga Bambang, emang kamu!" Omel Raya yang memanggil Beni bambang karena kesal. Sambil melempar sendok ke arah Beni, tapi dengan sigap di tangkap oleh Beni.


" Cewek satu ini, bar-bar sekali!" Oceh Beni sambil meletakkan kembali sendok tersebut ke tempatnya.


"Salah sendiri resek!" Bela Yana.


" Ayang mah, bukan belain aku!" Rajuk Beni ke Yana.


" Nggak usah alay, gua cocol sambal juga tu mulut!" Ucap Yana sambil mengambil sendok sambal.


" Cewek kalau marah serem ya?" Ledek Rasyid kepada Beni, berbisik.


" Banget!"


" Syukur cinta, kalau nggak mah udah kabur?"


" Bukan kabur, malah aku ajak nikah" Ucap Beni agak keras hingga terdengar oleh Raya, dan Yana.


" Mau ngajak nikah siapa?" Tanya Raya.


" Ngajak nikah Yana, masak kamu?" Ucap Beni, yang langsung di pukul oleh Rasyid.


" Nggak usah macem-macem ya!" Omel Rasyid.


Beberapa anak yang suka bermain bersama mereka, datang bersama mak ngah.


" Dokter.... Dokter!" panggil mereka dari luar.


Beni dengan sigap pergi kedepan untuk membuka pintu dan menyuruh anak-anak dan juga mak ngah bergabung untuk makan bersama.


" Masuk ayok, makan sama-sama!" Ajak Beni sambil berjalan kearah dapur.


"Ayo makan!" Ajak Raya mengambilkan piring untuk ketiga anak (Mansur, Ali, dan Bayu) yang membuatkan Raya kruk kemaren.


Beni duduk di tengah ketiga anak tersebut.

__ADS_1


" Mak ngah, ini makan di samping saya!" Ajak Yana, sambil agak bergeser sedikit lebih dekat ke Raya.


" Emak lah makan!" Jawab mak ngah sambil mengambil piring untuk meletakkan ubi rebus ke dalam piring.


Mak ngah biasa membawa makan untuk di berikan kepada dokter-dokter yang tinggal di sebelah rumahnya ini. Biasanya dari hasil panen sendiri di kebun yang di garap sang suami, yang tinggal di ladang.


" Dak boleh nolak mak, Nanti kepunan!" Ucap Beni.


Yana mengambilkan piring untuk mak ngah, dari rak piring yang tidak terlalu jauh, karna yang ada di depan mereka sudah dipakai oleh anak-anak.


" Cicip masakan Raya ni mak!" Ucap Beni.


" Bu dokter udah cantik, pinter, pandai masak pula!" Puji mak ngah.


" Masak sama Yana mak, kalau Raya sendiri nggak bisa!" Ucap Raya merendah.


" Bu, ini siapa?" Tanya mak ngah pada Yana berbisik sambil melirik ke arah Rasyid.


" Kenalan sendiri ja mak!" Ucap Yana agak keras sampai terdengar oleh semua yang ada disana.


"Temennya ganteng banget bu dokter!" Ucap Ali sepontan kepada Mansur yang tepat ada disebelahnya.


Mansur yang mendengar itu hanya melihat Rasyid dengan pandangan tajam, seperti tidak suka.


" Rasyid bu!" Ucap Rasyid sambil mengulurkan tangan ke arah mak ngah.


" Panggil mak ngah ja, kayak yang lain!" Ucap mak ngah terpesona dengan Rasyid yang tampan dan juga sopan.


" Mansur, pak"


" Bayu, pak".


Mereka bertiga bergantian menjabat tangan Rasyid dan menciumnya.


" Rasyid, panggil kak Rasyid ja!" Ucap Rasyid yang agak aneh dipanggil pak oleh anak-anak itu.


"Tapikan temennya pak dokter, sama bu dokter!" Ucap Mansur.


Rasyid yang mendengar ucapan Mansur agak mengerutkan kening, merasa aneh dengan kelakuannya.


" Udah terima ja kalau kamu udah tua, dan udah wajar di panggil bapak!" Ledek Raya agak berbisik di telinga Rasyid.


" Iya ngak pa-pa di panggil bapak, kalau yang manggil anak kita Ay!" Ucap Rasyid tepat di telinga Raya.


Wajah Raya langsung bersemu merah mendengar ucapan Rasyid yang membuat hatinya berbunga-bunga dan juga salah tingkah.


" Nggak usah aneh-aneh!" Ucap Raya sambil memutar bola matanya jengkel dan mencubit paha Rasyid dengan keras, namun tidak bisa di cubit.


" Kamu kenapa Ra, alergi?" Tanya Yana yang melihat pipi Raya memerah.

__ADS_1


Hingga semua orang yang ada disana melihat kearah Raya, dan melihat pili Raya yang memerah seperti kepiting tebus.


" Nggak pa-pa, cuman kepedasan!" Ucap Raya sambil salah tingkah, sambil mengkipas-kipas pipi dengan tangannya.


Raya melirik Rasyid untuk meminta bantuan, namun Rasyid hanya diam sambil terus memakan makanan yang ada dalam piringnya.


" Kamu yakin, Ra?" Tanya Beni yang melihat pipi Raya semakin memerah karena memang kepedasan dan juga malu dengan kelakuan Rasyid.


"Iya bu dokter, sakit?" Tanya Mansur menimpali.


Rasyid yang mendengar Mansur perhatian kepada Raya merasa agak aneh, menurut Rasyid anak itu agak berlebihan. Jadi Rasyid akhirnya bersuara.


" Raya emang gitu, nggak bisa makan pedas." Bela Rasyid sambil merilik kearah Mansur, yang menatapnya tajam.


Tidak sengaja Rasyid melihat gerak bibir mansur yang seperti mengatainya 'Sok tau'.


'Anak ini ada masalah apa?' Pikir Rasyid aneh, seketika Rasyid melihat arah pandang Mansur kepada Raya yang menurutmu agak aneh.


Setelah menyelesaikan makannya Rasyid lalu bertanya kepada apakah mereka memiliki es batu.


" Yan, ada es batu nggak?"


" Buat apa?" Tanya Yana bingung.


" Kalau mau es batu paling di warung depan, yang tadi sore rame banget itu.!" Sahut Yana.


" Ada yang bisa anterin kesan nggak?"


" Aku aja, Pak!" Tawar Ali, yang kebetulan makan dengan sangat lambat dan masih duduk di ruang makan, sedang yang lain sudah pergi ke depan bersama Beni.


" Ayok!"


" Kita naik mobil yang bagus di depan?" Tanya Ali girang.


" Ajak yang lain juga boleh!" Tawar Rasyid.


" Hore...!" Ali langsung berlari ke ruang depan mengajak teman-temanmu ikut ke warung depan.


Rasyid pergi bersama Ali, dan juga Bayu. Mansur seperti sangat tidak suka dan enggan untuk bicara ataupun berdekatan dengan Rasyid.


Mereka pulang membawa banyak makanan dan juga es batu yang dibutuhkan oleh Rasyid. Rasyid langsung pergi ke dapur, dan menyiapkan kompres untuk Raya yang pipinya masih memerah. Raya hanya akan sembuh kalau pipinya sudah si kompres dengan es batu.


" Ini!"


Rasyid memberikan es batu yang sudah di balut dengan sapu tangan milik Rasyid, dan itu masih sapu tangan yang sama beberapa tahun lalu. Sapu tangan kembar yang mereka beli ketika SMP.


Raya seperti ingin menangis melihat sikap Rasyid yang seperti ini. Dia hanya akan diam tanpa bertanya, lalu pergi mencarikan Raya obat, walaupun itu tidak begitu berharga menurut orang lain, tapi bagi Raya ini sangat membuatnya bahagia.


***

__ADS_1


Terkadang wanita tidak butuh kemewahan. Tapi hanya cukup merasa di perhatikan, dan di perjuangkan.


__ADS_2