
Belum selesai bu Darsih dengan kata-katanya, ponsel Gunawan berdering cukup nyaring.
Gunawan mengangkat telponnya dengan sedikit berbisik bicara dengan orang di sebrang sana.
"Iya, sabar sedikit dong, kamu juga belum sampai!" Ucap Gunawan.
....
"Iya, ini juga lagi aku usahakan!" Lanjut Gunawan.
.....
"Kamu kesini dulu ja, aku pasti bakal anterin kamu kemana pun ja!" Janji Gunawan pada orang di sebrang telpon.
.....
"Sabar...sabar.., nanti aku temenin kamu mengejar cinta kamu!" Janji Gunawan pada lawan bicaranya yang tidak tahu siapa dan entah berada dimana.
***
"Ray, kamu beneran harus cepet balik ke desa?" Tanya Gunawan berulang kali.
Gunawan sedari tadi mengikuti kegiatan Raya dari hotel hingga ke kini Raya sudah hendak pulang. Gunawan ikut menaiki mobil yang di bawa oleh Iqbal, kemana pun Raya pergi.
"Iya, Gun!" Jawab Raya, sambil memejamkan mata.
Raya sudah cukup bersabar seharian ini di ganggu olah Gunawan, kemanapun Raya pergi selalu di ekori oleh si perusuh satu ini. Hanya ke kamar mandi saja Gunawan tidak bisa mengikutinya.
"Kamu nginep di sini sehari ja lagi!" Bujuk Gunawan.
"Ngapain aku disini sehari lagi?" Tanya Raya kesal dengan tingkah Gunawan.
"Temenin aku disini, kamu nggak kasihan apa aku yang jomblo ini sendirian disini?" Tanya Gunawan memelas.
Rasyid yang berada di kisi kemudi hanya sesekali melirik kearah kaca spion, dan mendengarkan saja kedua orang di belakangnya yang sedang berdebat.
"Kamu nggak mau turun?" Tanya Raya.
Mereka baru saja sampai hotel tempat mereka menginap tadi malam. Raya dan Iqbal menjemput bu Darsih yang memang tidak ikut ke tempat pengambilan obat.
Beliau di hotel membereskan barang-barang bawaan Raya. Agar nanti lebih cepat untuk kembali. Sedang Iqbal yang memang hanya membawa baju saja dalam ransel kecil, tidak perlu beres-beres seprti Raya dan bu Darsih.
"Ray, ayolah!" Ajak Gunawan sambil memegangi lengan Raya seperti anak kecil yang sedang meminta di belikan permen kepada ibunya.
"Kamu kenapa?" Tanya Raya curiga. "Kamu kalau kayak gini bikin aku curiga tahu nggak?" Lanjut Raya dengan mengernyitkan dahi.
"Kita udah lama nggak ketemu, Ray!" Ujar Gunawan meyakinkan Raya.
Raya berfikir, kalau memang alasan Gunawan menahannya adalah karena sudah lama tidak bertemu, harusnya itu di lakukan Gunawan sejak mereka bertemu tadi malam, bukan sekarang.
"Aku masih banyak kerjaan Gunawan. Turun sana!" Usir Raya sambil membukkan pintu di sebelah Gunawan.
Gunawan melirik pintu yang dibuka oleh Raya, lalu dengan lemas meminta Raya untuk ikut turun juga.
__ADS_1
"Gun, kita bukan lagi main, kayak dulu lagi!" Ingat Raya.
"Oke, aku ngalah!" Ucap Gunawan.
"Pacaranya bu Dokter mau ikut kami juga?" Tanya bu Darsih yang melihat Gunawan berdiri di pintu mobil.
Bu Darsih baru saja sampai dengan membawa 2 buah tas yang cuku besar.
Dengan sigap Iqbal turun dari mobi dan mengambil tas yang di pegang oleh bu Darsih, lalu memasukkannya ke bagasi belalang mobil.
Gunawan yang mendengar panggilan bu Darsih menggaruk kepala bagian bekalangannya dan tersenyum.
"Nggak bu, ini lagi minta sama bu dokter cantik buat tinggal di sini sehari lagi ja nggal mau banget!" Ucap Gunawan.
"Sebentar, Tunggu aku sebentar!" Pinta gunawan dengan tergesa-gesa sambil mengangkat panggilan dari poselnya.
"As..." Belum sempat Gunawan mengucapkan salam, tapi sepertinya terpotong.
...
"Iy... iya!" Ucap gunawan.
Gunawan pergi sebentar, lari ke dalam hotel dengan berlari sekuat tenaga.
"Gun....Gunawan..." Panggil Raya kepada Gunawan yang sudah tidak terlihat lagi.
Raya yang di minta menunggu juga sedikit bingung dengan sikap Gunawan yang memang sudah tidak jelas dari dulu.
"Gimana bu dokter?" Tanya Iqbal meminta pendapat Raya untuk menunggu atau lanjut perjalanan.
"Tunggu sebentar!" Ucap Raya.
Raya menghitung dalam hati, memberi waktu sedikit pada Gunawan. Siapa yang tahu kalau Gunawan memang sedang ada kepentingan dengannya.
"Masih mau di tunggu bu dokter?" Tanya Iqbal samb melihat jam di ponselnya.
Iqbal sebenarnya mau saja menunggu lebih lama. Namun perjalanan mereka nanti akan terhambat jika harus menunggu lebih lama lagi.
Raya melihat jam di pergelangan tangannya. Lalu melihat kembali ke arah pintu masuk hotel. Belum ada tanda-tanda bahwa Gunawan akan datang sedikit pun. Raya menghela nafas sejenak.
"Pergi saja, Bal!" Perintah Raya sambil menepuk sandaran kursi di belakang Iqbal.
"Oke!" Jawab Iqbal.
Iqbal lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang, karena menghindari jalanan yang pasti nanti akan padat merayap ketika mereka telat sedikit saja.
"Kenapa nggak di tunggu bu dokter?" Tanya bu Darsih.
"Kalau di tunggu juga buat apa bu?" Tanya Raya. "Dia memang suka ganggu saya dari zaman sekolah dulu, paling cuman ngerjain kita saja tadi!" Jelas Raya yang tidak mau menunggu Gunawan.
Raya sudah terbiasa dengan kelakuan Gunawan yang dari zaman sekolah suka jahil kepadanya. Untungnya dulu ada Rasyid. Rasyid lagi.
Raya selalu mengingat nama itu. Raya yang memang sudah lelah dengan kegiatan hari ini dan juga otaknya yang selalu mengingat satu nama itu, akhirnya memilih untuk memejamkan mata saja selama perjalanan.
__ADS_1
Agar nanti ketika bangun dia sudah sampai di tempat tujuan mereka. Pikir Raya.
***
Di dalam hotel Gunawan berlari cukup kencang dari dalam kamarnya untuk mengejar Raya sambil masih sibuk dengan ponselnya.
Tapi ketika sampai di depan resepsionis, dia di berhentikan, karena memang Gunawan yang awalnya masih akan menginap disini lagi malam ini belum melakukan cek out.
"Maaf pak, bisa kami terima dulu kunci?" Tanya resepsionis perempuan yang sedang melayani Gunawan.
"Ini!" Ucap Gunawan.
"Sebentar ya pak, kami cek dulu!" Ucap resepsionis tersebut.
"Mbak, mobil temen saya sudah pergi?" Tanya Gunawan melihat mobil yang di tumpangi Raya sudah tidak ada disana.
"Maaf saya juga kurang tahu. Bisa tanyakan ke security di depan saja." Jawab resepsionis itu sopan memberikan solusi.
Gunawan yang melihat mobil Raya sudah tidak ada seketika lemas.
"Mbak saya nggak jadi cek out!" Ucap Gunawan lesu.
"Gimana?" Tanya resepsionis itu yang takut salah dengar.
"Saya nggak jadi pergi dari hotel ini, saya nginep lagi disini." Ucap Gunawan. " Saya pesen kamar lagi ja, dengan 2 kasur ya!" Lanjut Gunawan, sambil menyerahkan kartu pengenalnya kepada resepsionis itu.
"Satu kamar dengan 2 kasur?" Tanya resepsionis perempuan yang sedang membantu Gunawan untuk memesan kamar.
"Iya, temen saya mau nyusul kesini!" Jawab Gunawan.
Resepsionis yang melayani Gunawan cukup di buat bingung dengan tingkah tamunya satu ini. Karena tadi mau pergi, tapi tidak jadi karena di tinggal oleh temannya. Sekarang mau pesen kamar dengan 2 bed, tapi dia sendirian.
***
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (14 bab)
Brondong Meresahkan (14 bab)
__ADS_1