JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
53. bicara


__ADS_3

Mereka menikmati perjalanan mengarungi sungai ini dengan di temanin senja yang cukup indah dengan corak jingga yang begitu menggoda.


Sampan yang mereka tumpangi menepi dan sampai di tempat tujuan ketika hampir magrib. Raya cukup kesulitan ketika hendak turun dari sampan.


Iqbal yang turun dari sampan terlebih dahulu membatu Raya dengan cara memegangi tangan Raya, untuk membantunya menuruni sampan itu.


"Terimakasih!" Ucap Raya sambil tersenyum ke Iqbal.


"Raya!" Panggil suara yang sangat Raya kenali dan rindukan.


***


Raya yang mendengar suara memanggil namanya, seketika diam tak bisa bicara lagi.Tegang. Raut wajah Raya pucat seketika.


"Suara ini?" Tanya Raya pada dirinya sendiri. "Nggak mungkin dia kan?" Gumam Raya.


Dalam hati Raya berdoa semoga dia salah dengar. Raya takut ini hanya mimpi saja.


Raya menggenggam erat tangan Iqbal yang berada disampingnya, tanpa berani menoleh ke asal suara yang memanggilnya sedikit pun.


Iqbal yang merasakan gegaman tangan Raya yang menguat di telapak tangannya, sedikit bingung. Ia menoleh ke asal suara orang yang memanggil sang dokter cantik di sampingnya ini.


Iqbal menoleh ke arah sebelah kanan. Tepat di belakang Raya. Disana berdiri seorang laki-laki yang Iqbal perkiraankan seumuran dengan Raya. Dengan wajah tampan dan tinggi.


Sebagai seorang laki-laki Iqbal mengakui orang ini mempunyai daya tarik yang luar biasa untuk memikat hati wanita manapun.


Wajahnya menggambarkan kemarahan yang luar biasa, tapi tetap bisa terlihat tenang. Arah pandangnya?.


Iqbal melihat orang yang memanggil Raya itu mengepalkan tangannya. Matanya melihat dengan tajam ke arah tangan Raya yang sedang menggenggam tangan miliknya.


Iqbal menarik tanganmu dari genggaman Raya dengan cepat. Agar tidak menimbulkan kesalahan fahaman di atas dua orang ini.


"Raya!" Panggil laki-laki itu dengan suara lebih keras dan tegas. Kedua bola matanya masih menatap tangan Raya dan Iqbal yang masih saling menggenggam.


Raya yang mendengar panggilan itu, dan masih suara yang sama, tidak berubah sama sekali. Raya Memberanikan diri untuk menoleh dengan cukup pelan ke arah sumber suara yang memanggilnya itu.


Raya melebarkan bola matanya ketika melihat orang yang berada di depan matanya. Orang yang sangat Raya harapkan berada di dekatnya. Tapi itu dulu, sebelum mimpinya di hancurkan dalam sekejap mata.


Raya menutupi wajah kecewanya dengan senyum lebar, sambil melihat orang itu.


"Rasyid?" Tanya Raya sedikit kaget, masih dengan senyum yang menutupi wajahnya.


"Raya, kita perlu bicara!" Ajak Rasyid hendak menarik tangan Raya.


Namun, Raya menolak genggaman tangan Rasyid di pegangan tangannya.

__ADS_1


"Kamu kenapa bisa sampai sini?" Tanya Raya yang kaget, ketika melihat Rasyid berada di depan matanya.


"Kita perlu bicara!" Ucap Rasyid lebih keras dan tegas dari sebelumnya.


"Apa tidak lebih baik bicara di rumah saja?" Tawar Iqbal yang melihat ketegangan di antara ke dua oran di hadapannya ini.


Iqbal yang tidak tahu apa-apa tentang masalah kedua orang ini, merasa salah tempat dan waktu saja.


Apalagi ketika dia menawarkan untuk bicara di rumah saja, seketika tatapan tajam dari laki-laki yang di panggil bu dokter cantik di sebelah ini dengan sebutan Rasyid itu seperti menghujam ke setiap tubuhnya dari atas sampai bawah.


Iqbal yang tidak terbiasa di tatap setajam itu, dengan aura membunuh yang kuat akhirnya lebih memilih untuk diam dan memperhatikan saja.


"Benar kata Iqbal, kita bicara di rumah saja." Usul Raya.


"Kenapa harus di rumah?" Tanya Rasyid.


"Rasyid, kamu nggak lihat kalau langit sudah mulai gelap?" Tanya Raya balik.


"Lalu?" Tanya Rasyid yang tidak terima


Raya yang tahu betul dengan kebiasaan Rasyid yang tidak ingin di bantah, memilih untuk berjalan dengan cepat menjauhi tepian sungai itu.


Raya sudah sangat lelah dengan aktifitasnya hari ini. Raya hanya ingin cepat sampai ke rumah dengan selamat dan merebahkan diri di atas kasur dan guling kesayangan.


Iqbal yang melihat Raya berjalan cepat tanpa menunggunya ataupun Orang di depannya ini, meras canggung.


"Iya!" Jawab Rasyid cepat.


Rasyid berjalan dengan cepat menyusul Raya yang berdiri di tepi jalan.


Rasyid menarik tangan Raya, dengan sedikit memaksa. Menariknya ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat Raya berdiri.


"Raya pulang dengan saya!" Beritahu Rasyid pada Iqbal yang masih berdiri di sana dengan bingung.


"O...Iya, silakan!" Jawab Iqbal sambil menundukkan kepala.


"Duluan!" Ucap Raya tanpa suara, yang hanya gerakan bibir saja.


Iqbal hanya menanggapi pamit Raya itu dengan senyum yang menghiasi bibirnya dan juga sebuah anggukan.


"Mereka pasangan?" Tanya Iqbal pada dirinya sendiri. Lalu menarik nafas cukup panjang dan menghembuskannya dengan kuat, hingga menimbulkan bunyi.


Disisi lain, Raya dan juga Rasyid masih sibuk dengan Raya yang tidak mau di genggam tangannya oleh Rasyid. Dan Rasyid yang malah menggenggam erat tangan Raya yang di coba di tarik sekuat tenaga itu.


Rasyid membukakan pintu mobil, agar Raya bisa masuk dengan aman. Rasyid seperti tidak ingin Raya lari sedikit saja darinya.

__ADS_1


Rasyid lalu berjalan dengan cepat lebih ke sedikit berlari, dan duduk di kursi kemudi. Rasyid mengemudikan kendaraan dengan cukup pelan, karena kondisi jalan yang memang rusak.


Selama dalam perjalanan yang memang hanya ada mereka berdua, hanya ada keheningan tanpa obrolan.


Untuk menghilangkan ke canggungan Raya mencoba untuk menghidupkan musik dari ponselnya. Namun sepertinya itu malah menambah atmosfer canggung yang kental di antara dirinya dan juga Rasyid.


Setelah sampai di rumah dinas tempat Raya. Raya langsung masuk ke kamar mandi cukup lama, membersihkan diri sambil merutuki Rasyid yang sudah berdiri di depannya secara tiba-tiba dengan begitu cepat.


"Apa mau kamu Rasyid?" Tanya Raya emosi sendiri.


Raya bergabung di meja makan setelah selesai semua urusannya.


Bu Darsih hari ini sengaja masak banyak untuk menyambut tamu bu dokter cantik yang tinggal bersamanya.


"Ayo makan dulu!" Ajak bu Darsih kepada Gunawan dan juga Rasyid yang duduk di depan televisi. Televisi yang sebenarnya tidak menyala.


"Wah...!" Ucap Gunawan kagum. " Ini ibu yang mask semuanya?" Tanya Gunawan.


"Lalu kamu fikir siapa yang makan kalau buka bu Darsih?" Tanya Raya sarkas.


"Ya siapa tahu kamu yang masak Raya cantik!" Goda Gunawan sambil mengambil piring yang diberikan bu Darsih.


"Saya butuh bicara dengan kamu Raya!" Ucap Rasyid tiba-tiba dengan penuh penekanan.


"Dari tadi kita sudah bicara!" Ucap Raya.


***


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (14 bab)




Brondong Meresahkan (14 bab)


__ADS_1



__ADS_2