JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
34. Perjalanan


__ADS_3

Setelah mencapai kesepakatan itu, kedua tamu Raya berpamit pulang. Raya sendiri masuk kedalam dan memberi tahu bu Darsih prihal kebernangkatan mereka besok pagi.


***


Raya izin pulang dari puskesmas lebih cepat dari biasanya, karena ia harus pergi ke kota kabupaten untuk mengambil stok obat-obatan dan keperluan medis lainnya.


Sesampainya di rumah dinasnya, Raya langsung bersiap-siap. Raya hanya membawa beberapa keperluan yang memang di anggapnya penting saja. Raya tidak mau repot, karena mereka ke Kota kabupaten hanya sebentar saja.


"Bu... Bu... Bu Darsih!" Panggil Raya ketika sudah selesai dengan semua keperluan dirinya.


Raya membawa tas ransel sedang. Namun, di dalam tas itu sudah membawa semua keperluan Raya dengan lengkap.


"iya bu dokter!" Sahut bu Darsih sambil sedikit berlari menghampiri Raya, dengan membawa tas di pundaknya, serta tremos untuk air panas di tangan kanannya, tidak lupa pula di tangan kiri bu Darsih ada rantang susun yang pasti berisi makanan.


Raya yang melihat itu mengerjakan matanya sebentar. Raya bingung dengan semua barang bawaan bu Darsih yang begitu banyak.


"Bu, yakin?" Tanya Raya tidak percaya.


"Yakin apa bu dokter?" Tanya bu Darsih balik.


"Bawaan ibu sebanyak itu?" Tunjuk Raya ke arah kanan dan ke arah kiri tangan bu darsih, yang sudah di penuhi dengan barang bawaannya.


"Lah, ini memang keperluan kita selama dalam perjalanan, bu dokter!" Sahut bu Darsih sambil tersenyum.


Raya yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja, tidak percaya dengan tingkah ibu-ibu satu ini.


Bu Darsih menunjukkan tangan kanannya yang memegang rantang susun itu. "Yang ini, kalau-kalau kita lapar di jalan!" Ucap bu Darsih.


"Terus yang ini!" Bu Darsih mengangkat tangan kirinya yang memegang tremos dengan motif bunga-buang berwarna hijau itu ke depan. "Kalau-kalau kita ada yang mulai mabuk perjalanan, bisa minum air hangat. Untuk meredakan rasa mualnya!" Ucap bu Darsih.


Bu Darsih sangat antusias di ajak oleh Raya keluar dari desa padahal hanya untuk pekerjaan. Raya hanya tersenyum melihat tingkah bu Darsih.


"Kan kita bisa beli?" Tanya Raya yang sebenarnya tidak suka repot dengan peralatan seperti itu.


"Ibu dokter yang cantik jelita.."Ucapan bu Darsih lalu dengan Raya.


"Makasih bi Darsih!" Ucap Raya sambil berpose sok cantik. Raya mengangkat tangannya meletakkannya di bawah dagu.


"Anak satu ini, tidak bisa sedikit saja mendengar pujian!" Omel bu Darsih meletakkan rantang dan juga tremos yang di bawanya di lantai.


"ha...ha...ha" Raya tertawa bahagia mendengar omelan bu Darsih.

__ADS_1


Raya menghindar ketika bu Darsih hendak mencubit dirinya, karena gemas dengan tingkah dokter satu ini.


"Ibu nggak boleh KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga)!" Ucap Raya sambil menghindar.


Setelah itu mereka tertawa bersama dengan tingkah keduanya yang malah seperti anak kecil yang saling kejar-kejaran.


Mobil yang menjemput datang tepat pukul 02.00 siang waktu setempat. Raya dan bu Darsih bergegas untuk berangkat.


Mobil ini dan sopirnya adalah orang yang biasa mengatar dan menjemput petugas pengambilan obat, jadi beliau tahu harus mengantar kemana. Tidak harus banyak penjelasan.


Bu Darsih yang tidak bisa duduk di belakang, meminta untuk duduk di sebelah supir.


"ibu duduk di depan ya bu dokter!" Pinta bu Darsih.


"Silakan bu!" Ucap Raya sambil membuka pintu mobil bagian belakang.


Raya memilih duduk di kursi belakang sendirian, agar bisa tidur selama perjalanan. Walau sebenarnya Raya pasti tidak akan bisa sedikit pun untuk melupakan semua masalah yang telah iya buat.


Raya merasa bersalah kepada ayah dan juga ibunya, mereka berdua yang sampai sekarang belum pernah ia hubungi setelah ia memilih untuk tidak pulang ke rumah dan pergi bersembunyi ke desa ini.


Satu bulan yang lalu, Raya hanya sempat mengirimkan pesan singkat kepada kedua orang tuanya. Pesan yang mengatakan bahwa ia akan pergi mengabdi kembali ke daerah lain, dengan jangka waktu yang cukup lama.


Raya pergi tanpa berdiskusi kepada kedua orang tuanya, tanpa memberi alasan apapun bahkan tempat pengabdiannya sekarang ini pun tidak di ketahui oleh mereka berdua.


Belum lagi jalanan yang mereka lewati adalah jalan aspal yang sudah banyak lubang. Bukan hanya lubang kecil. Lubang-lubang di bahu jalan ini sudah seperti kolam-kolam kecil yang sudah kering, ketika hujan turun jalanan ini akan penuh dengan kubangan.


"Pantas saja hanya ada mobil di siang hari!" Ucap Raya pelan, sambil melihat jalanan di sekitarnya.


"Kenapa memang bu dokter?" Tanya sang sopir.


"Jalanannya penuh tantangan sekali pak!" Jawab Raya sambil bercanda.


"Memang seperti ini kondisinya. Sudah bertahun-tahun rusak, tapi belum juga di perbaiki!" Jelas bu Darsih.


"Memang belum pernah di perbaikan selama beberapa tahun ini?" Tanya Raya penasaran.


Raya fikir seharusnya pasti ada dana untuk pembangunan jalan seperti ini. Jalan ini adalah jalan satu-satunya penghubung antara beberapa kecamatan ke kota kabupaten. Tapi, kondisi jalannya sudah rusak parah.


"Sudah ada beberapa kali perbaikan, tapi hanya di sebagian sisi jalan saja." Jelas Sopir mobil.


" Maksudnya, hanya di perbaiki sebagian jalan saja?" Tegas Raya mulai heran.

__ADS_1


"Iya, hanya di bagian tertentu saja yang di perbaiki tidak sampai menyeluruh."Tanya Raya lagi.


Raya tidak habis fikir, kenapa bisa sampai seperti inu.


"iya, hanya di sebagian jalan yang biasa di lewati oleh orang penting di daerah ini."


Raya kembali melihat keluar jendela. Raya melihat mobi-mobil besar parkir di pinggir jalan sepanjang lebih dari dua ratus meter.


"Kalau mobil-mobil ini kenapa berhenti disini?" Tanya Raya penasaran.


"O, ini mobil tambang bu dokter!" Jelas sopir.


"Kenapa berhenti di sepanjang jalanan ini?" Tanya Raya yang merasa heran dengan pemandangan yang sedang di lihatnya.


Sopir itu tersenyum melalui spion tengah mobil kearah Raya. Lalu setelah itu menjawab pertanyaan Raya.


"Ibu dokter tahu kan negri kita belum sebersih itu?" Jawab si Sopir dengan pertanyaan balik yang mengisyaratakan penjelasan tersembunyi.


Raya berfikir sejenak mencret perkataan sopir mobil ini.


"Pemiliknya takut razia polisi?" Tanya Raya yang sudah faham dengan maksud dari sopir yang duduk tepat di depannya itu.


"Ya seperti apa yang ada dalam kepala ibu dokter saja!" Jawab sopir itu.


***


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (12 bab)




Brondong Meresahkan (12 bab)


__ADS_1



__ADS_2