
Raya mungkin masih sangat merindukan dia. Yang seharusnya tak boleh ia rindukan lagi. Raya masih memendam rasa untuk sang temen terncintanya meski cinta itu tak pernah berbalas.
Raya mencoba mencari nama Rasyid di sosial media miliknya. Raya ingin melihat betapa bahagianya sang laki-laki tercinta yang telah bertunangan atau bahkan menikah dengan sang pujaan hati.
Tapi sudah Raya cari foto-foto mereka. Raya tidak menemukan apapun.
***
Raya terus mencari jejak digital milik Rasyid yang menandakan dia telah bertunangan atau bahkan menikah, mungkin. Tapi tidak ia temukan apapun, tentang pertunangan atau bahkan pernikahan.
Di sosial media milik Rasyid hanya ada tentang pekerjaan dan juga kata-kata ke galauan saja yang ia posting akhir-akhir ini.
Ada sebuah foto yang sangat menarik perhatian Raya. Yaitu, gambar tangan dengan jari manis terpasang cincin pasangan yang telah mereka miliki sejak waktu sekolah dulu. Dengan latar belakang langit biru yang cerah dengan sedikit awan putih yang seindah kapas.
Disana Rasyid menulis kata-kata yang membuat Raya berfikir bahwa kata-kata itu mungkin di tulis untuknya.
'Ternyata aku salah mengartikan semuanya. Senyum manis yang ku kira cinta. Nyatanya hanya bercanda bagimu. Atau mungkin tak pernah ada. #Rasyid'
Raya lalu menggeser lagi layar ponselnya ke bawah, mencari lagi sesuatu yang bisa membuatnya melupakan Rasyid atau hanya sekedar meyakinkan hatinya, bahwa Rasyid sudah milik orang lain.
Raya hanya perlu melihat sesuatu yang bisa menyakiti hatinya sekali lagi saja. Agar dia bisa meninggalkan hatinya untuk Rasyid.
Ada foto yang hampir sama dengan yang di atas, namun sedikit berbeda, dengan hanya langit yang nampak di sana adalah langit senja dengan rona jingga yang menggores langit, begitu damai.
Awan yang menutupi cahaya matahari memasuki celah-celah bumi. Menambah indah suasana senja dalam tangkapan layar itu.
Dibawah foto itu Rasyid menulis kata-kata patah hati yang begitu dalam, tanda sedang ditinggalkan oleh seseotang tanpa memulai hubungan apapun, entah dengan siapa itu.
'Kisah kita berdua bahkan baru saja ingin aku mulai. Namun, aku di paksa untuk mengahirinya oleh semesta. Dan kini sudah berakhir dengan kepergian dirimu tanpa satu kata "selesai" pun. Maaf. #Rasyid'
'Tapi, untuk apa dia menulis kata-kata ini untuk ku.' Pikir Raya.
Raya mencoba mengulang-ulang membaca tulisan itu, dan melihat kembali foto yang berada di atasnya dengan seksama, mungkin ada yang ia lewatkan.
'Mungkin ada masalah dengan tunangannya?' Pikir Raya untuk menenangkan hatinya. 'Tapi kenapa harus memakai cincin itu?' Gumam Raya, dengan masih memandangi cincin di jari Rasyid.
'Kenapa bukan cincin milik mereka berdua saja yang dia pakai?' Pikir Raya.
'Kamu masih saja membuatku berfikir bahwa kamu mencintaiku Rasyid' Ucap Raya pada dirinya sendiri.
Raya memegang cincin yang ia gunakan di jari manisnya. Cincin yang sama seperti yang di gunakan oleh Rasyid. Cincin yang selalu mengingatkan Raya pada Rasyid.
__ADS_1
Raya menghela nafas panjang, untuk menenangkan sejenak hatinya. Mengusap mukanya dengan cukup kasar.
Raya mencoba mencari tahu sosial media milik Hani, mungkin saja disana ada petunjuk yang bisa menjawab pertanyaan Raya, atau minimal membuat Raya faham dengan apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua. Sehingga harus membuat Rasyid sepatah hati ini.
Raya tidak menemukan apapun di sosial media milik Hani. Hanya ada foto Hani dan seorang laki-laki yang nampak punggungnya saja. Disana di tulis kata 'Couple'. Tapi dari postur tubuhnya Raya yakin itu bukanlah punggung milik Rasyid.
Raya tahu betul mana Rasyid dan bukan dari sisi manapun.
"Atau mungkin pertunangan mereka tidak jadi di laksanakan?" Ucap Raya, masih memandangi foto itu.
Raya akhirnya menutup sosial media milik Hani. Ia diam sejenak.
Raya membuka galeri fotonya, memposting foto senja di dekat rumah dinasnya di puskesmas kini. Raya menulis di bawah foto itu dengan kata-kata :
'Melupakan dirimu? Bahkan dari awal aku memang tidak berhak untuk memilikimu atau mungkin hanya sekedar memikirkanmu. #MAAF #Naraya #Hati yang patah'
Raya lalu menekan tombol posting, dan keluar dari sosial medianya setelah foto dan kata-kata itu terupload.
Raya meletakkan ponselnya di atas meja di samping tempat tidurnya. Lalu berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya.
Raya mengambil kunci yang tergantung di di dekat pintu kamar mandi. Raya memilih untuk keluar dari kamar sejenak saja. Untuk menenangkan dirinya.
Raya yang memang tidak tahu daerah sini, berjalan dengan ragu menuju lobi hotel. Raya duduk di sofa yang ada di lobi hotel sebentar. Bingung. Raya tidak tahu harus kemana.
Raya cukup terpanah dengan penampilan Iqbal yang ada di hadapannya itu. Sangat berbeda dari penampilannya tadi siang.
Iqbal berjalan menghampiri Raya. Ia berdiri tepat di hadapan Raya. Tersenyum manis.
"Bu dokter kenapa disini?" Tanya Iqbal.
"Em...Tadinya mau pergi keluar sebentar, tapi nggak tahu mau kemana!" Ucap Raya kikuk.
Iqbal berdiri begitu dekat dengan Raya, sehingga aroma tubuh Iqbal dapat tercium dengan sangat jelas di hidung Raya.
Aroma itu membuat Raya begitu kikuk. Raya akhirnya sedikit menjauh dari hadapan Iqbal. Raya mundur satu langkah dari hadapan Iqbal. Tapi Iqbal malah medekat dan tersenyum kepada Raya.
Senyum yang cukup membuat hati Raya yang berada di dekatnya merasa terpesona. Iqbal dengan wajah khas indonesia, cukup membuat orang di dekatnya terpesona.
"Tadinya?" Tanya Iqbal.
"Iya, sekarang aku mau kembali saja ke kamar!" Ucap Raya.
__ADS_1
"Kalau mau keluar ikut saya saja, bu dokter!" Ajak Iqbal.
"Mau kemana?" Tanya Raya ragu-ragu.
"Udah ikut ja bu dokter!" Ajak Iqbal.
"Jauh nggak?" Tanya Raya.
"Pakai ini!" Ucap Iqbal, ia memberikan jaket yang di kenakannya kepada Raya.
Iqbal hendak memakaikan jaket itu kepada Raya, tapi langsung di tolak oleh Raya dengan halus. Raya mengambil jaket yang di berikan oleh Iqbal, dan mengenakannya sendiri.
"Terimakasih!" Ucap Raya setalah mengenakan jaket itu.
"Di luar dingin!" Ingat Iqbal.
"Kalau di luar dingin, kamu pakai apa?" Tanya Raya yang melihat Iqbal hanya mengenakan baju kaos lengan pendek yang begitu tipis menurut Raya.
Iqbal hanya tersenyum dan berjalan terlebih dahulu didepan Raya, sambil menarik tangan Raya.
Genggaman tangan Iqbal pada jari jemarinya cukup membuat hati Raya berdebar kencang tidak karuan.
***
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (13 bab)
Brondong Meresahkan (13 bab)
__ADS_1