
"Di luar dingin!" Ingat Iqbal.
"Kalau di luar dingin, kamu pakai apa?" Tanya Raya yang melihat Iqbal hanya mengenakan baju kaos lengan pendek yang begitu tipis menurut Raya.
Iqbal hanya tersenyum dan berjalan terlebih dahulu didepan Raya, sambil menarik tangan Raya.
Genggaman tangan Iqbal pada jari jemarinya cukup membuat hati Raya berdebar kencang tidak karuan.
***
Raya menarik tangannya dari genggaman Iqbal, dan berjalan di samping Iqbal. Tangan Raya serasa kehilangan aliran darah seketika. Dingin.
"Kenapa?" Tanya Iqbal yang merasa genggaman tangannya di lepas oleh Raya.
"Nggak pa-pa!" Jawab Raya cepat. "Nggak enak aja di lihat orang!" Raya coba menjelaskan alasannya melepaskan genggaman tangan dari Iqbal, agar dia tidak tersinggung.
"Nggak enak sama siapa sih bu dokter?" Tanya Iqbal lagi, sambil melihat kanan dan kiri mereka yang cukup sepi.
"Sama orang yang lewat ja." Jawab Raya.
"Udah sepi juga bu dokter, lagian kalau pun ada orang yang lewat disni, mereka juga nggak kenal kita juga!" Jelas Iqbal.
Raya hanya tersenyum dan terus berjalan mengikuti Iqbal yang langkahnya mulai lebih lebar dari awal tadi. Raya sedikit kesulitan mengikuti langkah Iqbal yang cukup leabra itu.
Raya tertinggal cukup jauh dari Iqbal, yang sudah berada sekitar 5 meter di depannya.
"Bal, Iqbal...Tunggu dong!" Panggil Raya sambil sedikit berlari.
Raya berlari cukup kencang agar tidak tertinggal jauh. Raya takut bila ia tertinggal. Dan tersesat di tempat yang tak ia kenal.
"Duk...Aduh..." Raya membentur punggung Iqbal, Raya yang berlari tanpa melihat bahwa Iqbal sudah berhenti dari pertama kali Raya memanggilnya.
"Sakit banget...itu punggung atau besi sih?" Tanya Raya sambil mengusap keningnya.
"Bu dokter pengen banget saya peluk ya?" Tanya Iqbal dengan kerlingan mata jahilnya.
"Apa?" Tanya Raya yang takut salah dengar dengan perkataan Iqbal.
"Kalau pengen banget aku peluk bilang ja bu dokter!" Ulang Iqbal dengan penuh percaya diri.
Raya menggelengkan kepalanya tanda pusing sendiri dengan kelakuan Iqbal. "Pak sopir jangan mulai gila ya!" Ucap Raya sambil mengertakan giginya. Geram.
"Hahaha....." Iqbal tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. "Bercanda bu dokter!" Ucap Iqbal.
"Bercanda kamu nggak lucu, pak sopir yang tangannya lumayan!" Ucap Raya sambil memegangi kepalanya yang terbentur punggung Iqbal.
"Lumayan apa?" Tanya Iqbal.
"Lumayan hancur!" Jawab Raya asal.
"Maaf kalau begitu!" Ucap Iqbal lembut seperti tersinggung.
__ADS_1
"Aku cuman bercanda, jangan marah!" Bujuk Raya.
"Iya, nggak marah kok bu dokter!" Jawab Iqbal, masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Raya yang hanya mengikuti Iqbal saja, tanpa tahu arah dan tujuannya.
"Kalau jalan makanya lihat depan bu dokter!" Ledek Iqbal lagi. Yang sudah kembali baik suasana hatinya.
Raya mengerutkan keningnya tanda tidak faham maksud Iqbal.
"Maksudnya gimana?" Tanya Raya bingung.
Iqbal mengarahkan pandangan Raya ke depan, dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Tepat di sebrang jalan sana ada jembatan dengan lampu berwarna-wani menghiasi, suasana sangat ramai.
"Kita kesana!" Ajak Iqbal.
"Itu pasar malam?" Tanya Raya antusias melihat pemandangan yang ada di depan sana.
Raya sudah lama sekali tidak pernah ke pasar malam, sejak dia mulai memasuki semester akhir kuliah. Waktu yang ia miliki hanya akan ia habiskan untuk belajar, dan mengejar kelulusan agar cepat bisa mengabdi untuk fasilitas kesehatan di tempat-tempat jauh seperti ini.
"Bukan pasar malam, disana tidak ada permainan seperti di pasar malam, yang ada dalam pikiran kamu!" Jelas Iqbal.
"Terus ada apa saja?" Tanya Raya.
"Kalau kamu mau naik permainak, paling adanya seperti sepeda listrik, atau melukis, atau permainan anak-anak lainya ada." Jawab Iqbal sambil menggandeng tangan Raya.
Raya hendak menarik tangannya yang sedang di genggam oleh Iqbal. Tapi di tahan Iqbal cukup kuat, meski tidak sampai melukai tangan Raya.
Raya melihat ke jalanan yang ada di depannya memang tidak ada zebracross di sepanjang jalan yang telah mereka lewati, dan jalanan ini cukup ramai.
"Kalau bu dokter berani nyebrang jalan sendiri, saya lepas juga nggak pa-pa." Ucap Iqbal jahil menawarkan.
Iqbal berpura-pura akan melepaskan genggaman tangannya di tangan Raya. Namun, dengan cepat di tarik kembali oleh Raya yang tidak berani menyebrang sendiri dengan kondisi seperti itu.
"Kenapa?" Tanya Iqbal.
"Kita nyebrang sama-sama aja ya, pak sopir!" Ucap Raya dengan pandangan memohon.
Iqbal tersenyum, lalu menarik tangan Raya untuk menyebrang jalan itu dengan hati-hati sambil melihat kanan dan kiri jalan yang masih ramai dengan kendaraan.
Raya mengikuti saja langkah Iqbal yang sedang menuntunnya, sambil sesekali melihat tangannya yang sedang di genggam oleh Iqbal. Hangat.
Raya merasa Iqbal seperti sangat menjaganya. Iqbal seperti tak akan melepaskan genggaman tangannya di telapak tangan Raya.
"Disana ada apa?" Tanya Raya yang penasaran disana ada apa saja yang bisa ia nikmati.
"Bu dokter mau apa?" Tanya Iqbal.
"Makanan?" Tanya Raya.
"Ada banyak makanan disana. Bu dokter tinggal pilih saja, mau apa!" Jelas Iqbal.
__ADS_1
"Tinggal pilih saja, bayarnya pakai apa?" Jawab Raya, yang sebenarnya hanya membawa selembar uang lima puluh ribuan di dalam saku celananya.
"Biar saya yang bayar, bu dokter!" Ucap Iqbal menawarkan diri.
"Dalam rangka apa kamu sebaik ini dengan saya?" Tanya Raya yang curiga.
Raya curiga dengan Iqbal yang menawarkan diri untuk membayarkan makanannya. Pasalnya sejak pertama kali mereka bertemu tadi, mereka tidak sedekat itu.
Mereka hanya saling bertengkar dan mengejek saja. Malah bahkan saling mengerjai sedari tadi, awal bertemu.
"Sebagai salam perkenalan kita?" Tanya Iqbal ragu.
"Kalau begitu aku nggak akan sungkan lagi!" jawab Raya antusias.
Mereka sampai di stan makan paling depan, masih dengan tangan yang saling menggengam.
"Bu dokter mau makan apa?" Tanya Iqbal menawarkan.
"Kita keliling dulu ja, lihat-lihat apa yang enak untuk di makan!" Jawab Raya.
" Bu dokter nggak pa-pa makan di tempat seperti ini?" Tanya Iqbal yang khawatir kalau Raya tidak mau makan di tempat seperti ini.
Raya seorang dokter, siapa yang tahu dia cukup bersih dan tidak bisa makan sembarangan.
"Sesekali tidak masalah!" Ucap Raya dengan senyum .
Raya tahu pasti Iqbal berfikir dirinya seorang yang pemilih dalam hal makan, karena dia seorang dokter.
Iqbal memegangi dadanya yang berdegup kencang, melihat senyum Raya yang kembali berjalan mendahuluinya.
***
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (13 bab)
Brondong Meresahkan (13 bab)
__ADS_1