JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
42. Terhubung kembali 2


__ADS_3

"Itu Hpnya dari tadi kok nyala terus, nggak di angkat?" Tanya bu Darsih yang melihat ponsel Raya tidak berhenti menyala sejak bu Darsih masuk ke kamar tadi.


Raya sekilas melihat nama yang terteara di layar ponselnya. Hanya tersenyum, lalu menggelang saja. Raya tahu itu pasti orang yang sebenarnya sangat Raya rindukan.


***


Raya mengabaikan panggilan yang terus masuk kedalam ponselnya. Hingga belasan kali atau mungkin puluhan kali.


Bu Darsih yang mendengar suara posen terus berdering dan melihat layar ponsel Raya yang menyala itu merasa sedikit geram dengan sikap Raya, yang terus saja mengabaikan panggilan di ponselnya.


"Bu dokter, itu telponnya nggak di angkat?" Tanya bu Darsih, sambil menunjuk layar ponsel Raya yang masih menyala.


"Biarin ja, Bu!" Ucap Raya yang masih sibuk dengan beberapa berkas untuk besok pagi.


Setelah beberapa menit berlalu, ponsel Raya masih terus berdering. Bu Darsih yang ingin tidur pun, merasa terganggu.


"Bu dokter itu beneran nggak ada apa-apa?" Tanya bu Darsih yang melihat ponsel Raya tidak berhenti terus menyala.


Raya tersenyum saja, lalu menggeleng. Menandakan bahwa panggilan itu tidak harus ia jawab.


"Bu dokter, coba di angkat siapa tahu ada yang penting!" Bu Darsih meminta Raya untuk mengangkat telpon Raya. Karena Ia mulai terganggu dengan suara dering telpon masuk dan juga layar yang menyala di tengah lampu yang sudah redup.


"Nanti saja bu. Nanti saya angkat!" Ucap Raya masih pura-pura sibuk dengan berkas-berkas yang ada di tangannya.


Sebenarnya berkas-berkas itu sudah selesai dan tinggal di bawa saja besok pagi. Tapi, kalau berkas-berkas ini ia letakkan saja, dan tidak menerima telpon yang terus berdering itu. Maka bu Dasrsih pasti akan bertanya-tanya kepadanya.


Bu Darsih sudah mulai geram dengan sikap Raya yang terus mengabaikan panggilan di ponselnya pun, berinisiatif mengangkat telpon itu dengan tanpa izin Raya. Jika ponsel itu masih saja berbunyi dalam hitungan 10.


Bu Darsih masih mulai menghitung dalam hatinya, sambil terus melihat layar ponsel yang masih terus menyala.


'1.' Bu Darsih mulai menghitung dalam hati, sambil mengangkat jari telunjuknya.


'2.' Bu Darsih mengangkat jari tengahnya, sambil melirik ponsel Raya yang masih terus berdering.


'3.' Bu Darsih terus mengangkat jarinya ketika terus menghitung. '4, 5, 6, 7.' Pada hitungan ini ponsel Raya tidak berbunyi sama sekali, hingga membuat Bu Darsih yang sudah lelah lebih memilih untuk tidur, dan berniat untuk berhenti menghitung saja.


Ketika bu Darsih hendak berhenti menghitung dan mengabaikannya. Ponsel Raya kembali berdering.


'8, 9, 10.' Bu Darsih melanjutkan menghitung dalam hatinya dengan begitu cepat tanpa kedah sedikitpun.


Masih pada dering kedua panggilan telpon yang masuk terakhir ini. Bu Darsih dengan cepat menyambar ponsel Raya dan menggeser ikon telpon berwarna hijau, untuk menjawab panggilan tersebut dengan begitu cepat.


Raya yang masih memegang kertas-kertas berkas yang sebenarnya tidak penting itu. Hendak mengambil ponselnya yang di pegang oleh bu Darsih.

__ADS_1


"Halo?" Ucap bu Darsih yang sudah mengangkat panggilan telpon di ponsel Raya.


Raya yang kaget dan tidak sempat merebut ponselnya, sebelum di angkat oleh bu Darsih syok, dan wajahnya pun pucat pasi. Wajah Raya seperti tidak lagi di aliri oleh darah, karena begitu terkejut.


"Iya benar ini ponselnya dokter Raya. Sebentar saya serahkan ke dokter Raya!" Ucap bu Darsih sopan.


Raya yang mendengar pembicaraan bu Darsih dan orang di sebrang telpon sana, berpura-pura memungut kertas yang sempat berhamburan. Karena Raya tadi yang hendak merebut kembali ponselnya yang di ambil bu Darsih.


Bu Darsih langsung saja menyerahkan ponsel yang di genggamnya kepada Raya. Raya yang masih syok menerima ponsel itu dengan tangan yang masih gemetar.


Raya meletakkan kertas-kertas yang di pegang olehnya di atas meja samping tempat tidur. Lalu menarik nafas sedalam-dalamnya melalui hidung, dan di hembuskannya kembali untuk mengurangi rasa tegangnya.


"Halo?" Ucap Raya dengan suara yang cukup begetar.


"Raya?" Ucap suara di sebrang sana yang Raya kenal sebagai suara sang ayah.


Suara sang ayah cukup bergetar seperti menahan rindu kepada putri kecil satu-satunya yang ia miliki.


"Iya?" Ucap Raya merasa bersalah.


"Bu...ibu...in....ini...ini!" Ucap sang Ayah seperti berlarian di dalam ruangan.


"Apa?" Tanya suara lain di sebrang sana.


Raya tahu suara itu adalah suara sang ibu. Suara penenang yang sangat Raya rindukan. Tapi, Raya tidak berani menghubungi terlebih dahulu.


"In..ini..Raya kita!" Ucap sang Ayah dengan suara bergetar.


"Halo...Ra?" Sapa sang Ibu ragu.


Ibu sudah satu bulan ini terus menghubungi putrinya, tapi tidak pernah sekalipun diangkat. Jangankan di angkat masuk pun tidak panggilan yang dia buat.


Kini tiba-tiba sang suami menyerahkan ponsel yang sudah terhubung langsung dengan putrinya yang sudah sangat ia rindukan.


"Iya, bu." Ucap Raya.


"Sayang kamu apa Kabar, nak?" Tanya Ibu menahan dengan suara bergetar tangis.


"Raya baik, Bu!" Ucap Raya.


"Tanyakan saja dia kenapa pergi kesana!" Perintah sang Ayah berbisik, yang masih biaa di dengar oleh Raya.


"Jangan bahas apapun tentang itu dulu, Yah!" Usul sang ibu.

__ADS_1


"Ibu dan Ayah sehatkan?" Tanya Raya balik.


"Ibu sama Ayah akan selalu sehat terus, kalau kamu juga sehat, nak!" Ucap ibu menenangkan.


"Syukurlah kalau Ayah dan Ibu sehat!" Ucap Raya sambil tersenyum menahan tangis.


Raya sangat berterimakasih kepada sang pencipta yang telah memberikannya kedua orang tua yang tidak langsung memarahinya kini.


"Raya kenapa tidak bisa di hubungi satu bulan ini, nak?, Raya nggak ada sinyal ya daerah yang baru ini?" Tanya Ayah khawatir.


"Iya Yah, di sini susah sinyal!" Raya menarik nafasnya sejenak. "Maaf Raya nggak ngasih kabar!" Ucap Raya meminta maaf kepada kedua orang tuanya.


Panggilan ponsel itu hening sejenak, tidak ada pembicaraan di antara mereka.


"Raya kalau nggak mau, jangan kabur, seharusnya bilang saja!" Ucap Ayah tiba-tiba.


"Maksud kata-kata Ayah apa?" Tanya Raya tidak mengerti kemana arah pembicaraan sang Ayah.


"Ayah!" Suara ibu seperti marah dan lebih keras, serta suara pukulan yang membuat sang Ayah mengaduh kesakitan.


"Aduh, ibu!" Ucap Ayah dari sebrang telpon.


"Ayah kamu itu suka ngawur kalau ngomong!" Jawab Ibu.


Raya tahu sepertinya ada sesuatu yang coba di tutup-tutupi oleh kedua orang tuannya ini. Tapi Raya tidak tahu apa yang coba mereka tutupi dari Raya.


***


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (13 bab)




Brondong Meresahkan (13 bab)

__ADS_1




__ADS_2