
Di dalam perjalanan pulang, Rasyid masih sempat melihat puskesmas yang sepertinya memang cukup ramai hari ini di banding hari kemaren ketika dia baru saja datang.
"Id, aku tahu kamu. Memang cinta dalam diam itu bagus banget, bahkan jadi kisah cinta yang dahsyat. Tapi kadang kala perempuan butuh kepastian akan hubungan mereka. Agar tahu arahnya akan di bawa kemana!" Nasehat Gunawan, masih tetap fokus mengemudikan mobilnya.
***
"Sudahlah nggak usah di bahas lagi, Gun!" Ucap Rasyid sambil menutup matanya.
Rasyid merasa lelah dengan semua drama percintaannya. Lelah dengan dirinya sendiri yang selalu jalan di tempat.
"Udah tidur aja!" Perintah Gunawan sambil terus fokus ke jalan. "Nggak usah terlalu di pikirin!" Lanjut Gunawan.
"Apaan sich Gun?" Ucap Rasyid malas.
"Mau aku kenalin sama cewek cantik di sini nggak?" Tawar Gunawan menggoda Rasyid.
"Boleh aja!" Ucap Rasyid.
"Beneran?" Tanya Gunawan tidak percaya. Pasalnya Rasyid biasanya akan langsung menolak mentah-mentah semua perempuan yang mendekatinya.
"Tapi..." Rasyid sengaja hanya mengucapkan tapi tanpa melanjutkan kata-katanya.
"Tapi apa?" Tanya Gunawan.
Rasyid tersenyum mengangkat satu sudut bibirnya.
"Nggak aneh-aneh deh kamu, Syid!" Ucap Gunawan yang tahu betul isi kepala temannya.
"Pantes Raya selalu marah kalau kamu singkat namanya, namaku aja kamu singkat jadi aneh banget!" Rasyid mengalihkan pembicaraan.
"Masih aja mikirin Raya?" Tanya Gunawan lebih ke arah mengejek.
"Ya masihlah, Ini ja masih di jalan pulang dari ketemu dia!" Ucap Rasyid sambil tertawa.
"Iya juga ya?"
Akhirnya mereka tertawa bersama, sambil menikmati sisa perjalan yang masih panjang untuk menuju kota asalnya.
***
Raya yang baru saja selesai dengan pasien-pasien kecelakaan tepat waktu istirahat makan siang. Raya dengan cepat membereskan semua peralatannya, dan pulang ke rumahnya.
"Bu dokter!" Sapa seorang perawat yang kebetulan lewat di depan ruang Raya.
Raya tersenyum sambil mengangguk menanggapi sapaan perawat tersebut.
Raya berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari puskesmas, tanpa menyapa orang yang ia lewati.
"Itu dokter Raya kenapa?" Tanya seorang bidan yang melihat Raya berjalan tergesa-gesa kepada rekannya yang juga ada di lobi puskesmas.
"Nggak tahu!" Ucap rekannya yang seorang yang tadi pagi memanggil Raya.
"Kayaknya mau ketemu cowok ganteng yang kemaren datang kesini kali!" Ucap perawat yang tadi sempat menyapa Raya di depan ruangannya.
"Cowok apa?" Tanya bidan itu penasaran.
__ADS_1
"Jadi kemaren itu waktu kami mau tutup puskesmas, ada cowok ganteng banget datang nyariin dokter Raya!" Ucap perawat itu semangat.
"Jangan-jangan cowok yang tadi pagi?" Tanya perawat satunya, yang memanggil Raya tadi pagi.
"Kamu lihat?" Tanya Bidan yang belum melihat laki-laki yang sedang mereka bicarakan itu.
"Iya!" Jawabnya semangat.
"Emang beneran ganteng?" Tanya si bidan.
"Banget....banget...!" Ucap d ke-2 bidan itu serepak dan penuh semangat.
"Siapanya dokter Raya ya?" Tanya bidan itu.
"Pacar dokter Raya mungkin!" Ucap salah satu perawat itu berspekulasi.
"Nggak mungkin!" Ujar Bidan itu, yang kebetulan ikut ke acara puskesmas keliling.
"Kok nggak mungkin?" Tanya ke-2 bida itu hampir bersamaan.
"Sudahlah nggak perlu di bahas, ayo kita makan saja!" Ajak bidan itu yang tidak ingin memperpanjang gosip mereka.
Mereka bertiga berjalan keluar untuk mencari makan siang, sebelum kembali bekerja.
***
Raya yang baru saja sampai di rumah dinasnya, yang kosong tidak ada orang sama sekali. Raya mencari kunci yang biasa di simpan bu Darsih di bawah pot bunga di samping pintu ruang tengah.
Raya menemukan kunci itu, yang artinya memang tidak ada orang di dalam rumah itu. Raya mencoba berfikir positif bahwa mereka sedang pergi ke pasar atau kemana dengan menaiki mobil yang semalam di pakai oleh Rasyid. Karena mobil Rasyid juga tidak ada di depan.
Raya terdiam. Berdiri di depan kursi tempat Rasyid tadi malam tidur.
Raya memandangi sofa panjang itu dengan perasaan campur aduk. Raya seperti ingin menangis dan maki dirinya sendiri.
Raya berdiri diam di tempatnya cukup lama hingga bu Darsih datang dan menepuk pundaknya.
"Dokter!" Panggil bu Darsih membalikkan tubuh Raya yang terdiam kaku sepeti raga tanpa nyawa.
Raya tidak merespon selama beberapa detik, hingga bu Darsih memeluk Raya karena panik. Baru setelah dalam dekapan bu Darsih, Raya menangis tersedu-sedu.
"Dokter kenapa?" Tanya bu Darsih sambil mengelus rambut Raya sayang.
"Mer..reka kem...mana?" Tanya Raya memandang bu Darsih dengan tatapan sedih.
"Siapa?" Tanya bu Darsih bingung.
Raya tidak menjawab pertanyaan bu Darsih, hanya terus menangis dan memeluk bu Darsih lebih erat.
"O... Gunawan sama temennya itu ya?" Tanya bu Darsih.
Raya yang masih menangis, hanya menjawab dengan menganggukkan kepala saja.
"Mereka pulang dengan terburu-buru tadi pagi, katanya ada kerjaan yang harus di selesaikan." Jelas bu Darsih.
Raya yang mendengar itu langsung mengelap air matanya dan memendang bu Darsih dengan penuh harap.
__ADS_1
"Bu Dar..sih pun..nya nom...mer Gu...naw...wan?" Tanya Raya dengan terbaru-bata.
"Punya." Jawab bu Darsih sambil mengambil ponselnya dari dalam saku. "Ini" Bu Darsih memberikan ponselnya kepada Raya.
Raya menerimanya dengan semangat.
"Emang bu dokter nggak punya nomernya Gunawan?" Tanya bu Darsih penasaran.
"Em.. Pon..sel say...ya nggak ada nomer Gunawan!" Ucap Raya.
"Nomer cowok yang satu lagi?" Tanya bu Darsih penuh selidik.
Bu Darsih cukup bisa melihat bahwa pasti ada sesuatu yang sampai membuat dokter cantik ini menangis seperti anak kecil.
"Nggak berani nelpon dia!" Ucapa Raya.
"Kenapa?" Tanya bu Darsih penuh selidik.
Raya hanya menggeleng saja.
"Lagian nomer ponsel saya sudah lama nggak di isi pulsa, mungkin sudah terblokir!" Jelas Raya lagi.
"Ya sudah pakai punya ibu aja!" Perintah bi Darsih. "Ibu tinggal ke belakang dulu" Pami bu Darsih.
Raya menelpon nomer Gunawan beberapa kali, namun tidak kunjung di jawabnya. Hal itu membuat Raya cemas bukan main.
"Gun ayo angkat sebentar saja!" Rapat Raya berkali-kali.
Setelah menelpon beberapa kali akhirnya panggilan telpon itu dia angkat juga oleh orang di sebrang sana.
"Gun, kalian dimana?" Ucap Raya cepat. "Aku mau ngomong sama Rasyid sebentar!" Jelas Raya.
"Ngomong aja!" Suara di sebrang sana begitu dingin membuat Raya membeku seketika, mendengar suara itu.
***
Cinta yang baik itu butuh dua orang yang saling mengerti dan memahami. Bukan hanya salah satu saja yang berusaha untuk terus bertahan agar mengerti dan tetap memperjuangkan.
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (14 bab)
Brondong Meresahkan (14 bab)
__ADS_1