JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
58. Putus asa


__ADS_3

Mereka tidak lagi berhenti untuk makan ataupun sekedar membersihkan diri. Pasangan suami istri itu harus cepat sampai ke tujuan mereka sebelum tempatnya tutup karena sudah terlalu malam.


Raya berterimakasih kepada pasangan suami istri yang telah berbaik hati memberi dia tumpangan menuju kabupaten ini, sebelum masuk ke dalam hotel tempat Rasyid dan Gunawan menginap malam ini.


"Raya?" Panggil orang dari balik punggung Raya sambil menepuk pundaknya.


***


Raya berbalik dan mendapati Gunawan yang berdiri di hadapannya. Gunawan seperti bingung dan takjub bahwa Raya berdiri disini, di hadapannya.


Raya yang yang hanya melihat Gunawan sendiri berdiri disini menjadi cemas, dan bertanya kemana perginya Rasyid yang sudah Raya minta untuk Gunawan tahan di sini selama mungkin.


"Rasyid mana?" Tanya Raya sambil melihat sekitar Gunawan yang tidak ada tanda-tanda keberadaan Rasyid.


"Kamu kesini beneran cuman buat nyariin Rasyid?" Tanya Gunawan heran dengan nada suara takjub.


Raya tidak menjawab perkatanyaan Gunawan dengan kata-kata, ia hanya mengaggukan kepalanya pelan sambil menunduk.


Gunawan yang melihat Raya sudah seperti orang yang baru pulang dari sawah, karena penuh lumpur yang sudah mulai mengering, memesankan Raya kamar hotel terlebih dahulu untuk sekedar membersihkan tubuhnya yang penuh lumpur atau mungkin mandi.


"Kamu bersihin badan dulu ya, baru kita bicara!" Ucap Gunawan pelan dan lembut.


Gunawan mengarahkan Raya untuk ke meja resepsionis dan memesankan kamar hotel yang berasa dekat kamar miliknya.


"Mbak saya yang nginap di kamar 210, bisa pesan kamar kosong yang dekat dengan kamar saya itu?" Tanya Gunawan kepada sang resepsionis.


"Kamu di samping atau depannya bapak?" Tanya resepsionis itu dengan ramah.


"Yang mana aja boleh, depan atau samping nggak masalah. Yang penting sekitar kamar 210." Jawab Gunawan.


"Baik, kamar 211 tepat di depan kamar bapak ya!" Tawar sang resepsionis.


"Oke!" Jawab Gunawan sambil tersenyum.


"Bisa minta KTP-nya untuk reserfasi bapak?" Tanya Resepsionis.


Gunawan mengurus semua untuk Raya, yang hanya terdiam tegak seperti patung di samping Gunawan. Raya seperti tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia sudah sampai sini dan tidak bisa bertemu pujaan hati, ditambah lagi ia tidak akan mungkin bisa mengejar sang pujaan hati hingga ke Jakarta.


Raya mungkin sangat ingin kembali ke kota asalnya. Namun, pekerjaannya dan juga keputusannya yang sembrono membuat ia tidak mungkin bisa pergi dari sini semau dirinya.


Raya bergelut dengan pikiranmu sendiri. Memandang ke arah depan, tepat di tulisan selamat datang di belakang sang resepsionis dengan tatapan kosong, seperti tanpa nyawa.


"Ra...Ray...Raya...!" Panggil Gunawan berulang-ulang kali, namun tidak si respon sedikitpun oleh Raya.

__ADS_1


"Ray!" Panggil Gunawan dengan suara cukup keras dan sedikit menepuk pundak Raya.


"Ha?" Raya yang kaget hanya mengerjapkan matanya dan memandang ke arah Gunawan bingung.


"Ayo kita ke kamar kamu dulu, bersihin mandi dulu!" Perintah Gunawan sambil membimbing Raya untuk berjalan ke arah kamar yang sudah di pesannya untuk Raya yang berada di lantai 2 hotel itu.


"Kok kita?" Tanya Raya sewot, setelah sadar Gunawan sedang menjahilinya.


"Hahaha...!" Gunawan tertawa sambil memegangi perutnya setelah Raya sadar dengan kata-katanya.


"Ish, jahil banget sih..!" Omel Raya sambil menepuk lengan Gunawan.


"Sudah...kamu masuk Kamar sana!" Perintah Gunawan. "Nanti kalau sudah cantik aku ajak kamu makan malam, biar nggak galau lagi!" Ucap Gunawan dengan nada mengejek.


"Siapa juga yang bilang aku galau?" Tanya Raya sewot sambil menggembungkan pipinya. Raya tidak terima di bilang sedang galau, walaupun sebenarnya memang dia sedang galau. Tapi, dia tidak mau di jajal oleh Gunawan.


"Siapa juga yang bilang kamu galau?" Tanya Gunawan balik.


"Kamu tadi!" Tantang Raya sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Emang aku ada ya bilang kalau kamu galau?" Tanya Gunawan menantang Raya.


"Ada!" Jawab Raya ragu, sambil mengingat-ingat perkataan Gunawan.


Raya terdiam sejenak, dan teringat perkataan Gunawan yang tidak pernah menyebut dirinya 'galau', Gunawan hanya bilang biar tidak galau. Jadi bisa jadi yang sedang galau disini adalah Gunawan bukan dia.


"Tapi kalau kamu memang merasa sedang Galau juga nggak pa-pa juga, Ray!" Ucap Gunawan santai sambil berlalu meninggalkan Raya yang senang kesal dengan Gunawan.


"Aku nggak galau Bambang!" Ucap Raya sambil berteriak di koridor hotel yang sangat sepi itu.


"Iya tahu!" Ucap Gunawan yang sudah masuk di kamar hotelnya dan hanya memperhatikan kepalanya saja dari balik pintu yang sudah hendak ia tutup.


"Dasar Gunawan gila!" Omel Raya yang sudah masuk ke kamar hotelnya.


Raya berdiri cukup lama, di balik pintu yang sudah tertutup itu. Raya memandang dirinya yang berada di balik cermin. Raya memandangi pantulan dirinya dari balik cermin itu dengan heran dan juga aneh.


Raya yang ada di sana penuh dengan lumpur yang mulai mengering di kaki dan juga sebagian tangannya, bahkan di bagian wajahnya juga terdapat sedikit noda lumpur.


"Pantas saja Gunawan seperti menahan tawa dan melihatmu aneh tadi!" Ucapa Raya kepada pantulan dirinya dari balik cermin itu.


"Tapi tetap cantik kok!" Puji Raya sendiri.


Raya yang sudah putus asa, duduk sambil menelungkupkan kepalanya di atas lutut. menangis sehari-jadinya.

__ADS_1


Ponsel Raya berdering ketika Raya masih ingin menuntaskan tangisnya yang sudah tidak tertahan itu.


Raya yang berniat mengabaikan panggilan dari ponselnya, terpaksa mengangkatnya karena ponselnya terus saja berbunyi tanpa jeda sedikitpun.


"Ha..halo!" Ucap Raya serak, karena habis menangis.


"Nggak usah nagis!" Ucap Orang dari sebarang telpon.


Raya yang tidak sempat membaca siapa penelponnya tadi, karena matanya sudah di penuhi dengan air mata. Akhirnya melihat layar ponselnya untuk memastikan siapa penelponnga. Disana tertera nama 'Si pembuatan onar' yang artinya itu adalah nomer ponsel Gunawan.


"Si..siapa ya..ng na...nangis?" Tanya Raya, pura-pura tegar. Sesekali Raya mengelap ingus dan juga air matanya dengan ujung bajunya.


"Temenku tadi sih, kayaknya nagis kejer, karena di tinggal pacar...hahaha...!" Ejek Gunawan puas.


"Ish!" Raya mendesis tidak terima.


"Sudah cepet mandi, nanti aku ajak kamu ketemu pujaan hati yang ganteng itu!" Ucap Gunawan menenangkan!"


"Janji?" Tanya Raya meyakinkan perkataan Gunawan.


"Janji!" Janji Gunawan sambil menutu sambungan telpon.


***


bersambung


Terkadang aku ingin mengeluh lelah dengan semua drama kehidupan yang sedang aku jalani. Tapi, ini mungkin cara terbaik tuhan membuat aku menjadi kuat dan akan bersyukur dengan apa yang nanti aku dapatkan.


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (14 bab)




Brondong Meresahkan (14 bab)


__ADS_1



__ADS_2