
karena sudah sangat bosan berada di kamar saja seperti oarang lumpuh atau mungkin bayi yang selalu di layani oleh Yana, Raya mulai melakukan aktifitas seperti biasa meskipun harus sedikit tertatih dan merasakan sakit di kakinya. walaupun, sebenarnya ketika Raya melakukan itu, Yana sudah mengomel panjang lebar untuk menghentikan kegiatan Raya, tidak begitu ia hiraukan.
" kamu mau ngapain sich, Ra?" tanya Yana mulai sewot dengan tingkah Raya yang tidak bisa diam dan duduk dengan tenang saja di dalam kamar meskipun sudah di peringati oleh Yana berulang-ulang kali.
" mau ambil obat sama minum ja kok, Yan." jawab Raya sambil tersenyum kikuk. Raya tau ini akan sangat panjang dan membuat telinganya berdenging mendengarkan Raya mengomel.
" kan bisa minta tolong sama si pemalas Beni atau aku aja!" Yana memberi solusi terbaik yang bisa ia buat untuk Raya.
" aku udah mendingan kok ini. nggak mau nyusahin kalian terus aku." jelas Raya.
" susah banget sich di omongin." keluh Yana, entah bagaimana lagi harus memberi tahu Raya. " kamu thu nggak nyusahin, dari pada tambah parah kalau di paksa jalan muluk."
" aku nggak lumpuh lho ini, Yan!" jawab Raya sambil menuangkan air minum dari teko ke gelas yang ada di atas meja makan.
" iya emang nggak lumpuh, cuman kalau kamu paksa buat jalan muluk bisa jadi lumpuh itu kaki kamu, Naraya Nadira...!" omel Yana sambil membukakan obat yang harus Raya minum setiap 3 kali sehari itu.
" makasih cantik." puji Raya agar Yana berhenti mengomeli dirinya.
" nggak usah sok muji....!" Tapi semua rayuan Raya tidak berhasil karena Yana masih terus mengomel panjang kali lebar seperti ibu yang sedang memarahi anaknya yang bandel dan melanggar peraturan.
Ketika Raya masih mendengarkan omelan Yana dengan tenang dan hikmat Beni datang memberi pertolongan yang sangat berharga menurut Raya. Karena kalau tidak di hentikan omelan Yana bisa bertahan sampai magrib nanti.
"Raya, Yana ikut aku turun sebentar yok!" ajak Beni antusias.
"mau ngapain?" tanya Yana ingin marah. karena Beni hendak mengajak Raya jalan lagi, walaupun hanya kedepan rumah saja.
Raya yang melihat pertengkaran kedua dokter itu akan berlangsung cukup lama hanya memilih mengambil ubi rebus yang di beri oleh mak ngah tadi pagi untuk mengganjal perutnya yang sudah sebenarnya tidak begitu lapar karena mendengar perdebatan tidak penting mereka akan cukup menguras energi. jadi, Raya memilih untuk makan saja sambil menonton telenovela live gratis.
" bentar doang ibu tiri..." ejek Beni ke Yana, karena Yana sudah seperti ibu tiri yang suka marah-marah.
"nggak lihat itu kaki, Raya tambah bengkak karena di paksa jalan terus?" omel Yana sambil menunjukan pergelangan kaki Raya yang bengak.
" bentar aja Yana yang can....tik, i..mut, baik hati, dan suka menabung di warung depan simpang..." rayu Beni sambil bercanda.
" bentar ya!" ulang Yana.
__ADS_1
" bentar!" ulang Beni.
" beneran bentar ya!" ulang Yana lagi.
"iya....ben....taran....janji kelingking.." jawab Beni sambil memberikan jari kelingkingnya ke arah Yana. namun di acuhkan oleh Yana.
Beni yang jari kelingkingnya di acuhkan oleh Yana memasak muka memelas sambil mengelus kelingkingnya...' sabar ya kelingking bukan cuman kamu yang di cuekin kok' keluh Beni iba. sambil berjalan menuju kedepan rumah.
Yana lalu memapah Raya ke depan rumah, sedangkan Beni berjalan dengan cepat di depan mereka berdua. sebenarnya Raya tidak ingin di papah karena kasihan melihat Yana yang harus menopang berat tubuhnya dengan susah payah.
ketika sudah sampai di depan Rumah mereka di kejutakan dengan teriakan Beni dan beberapa anak disana.
"surprise...." teriak Beni
" supres.." teriak 3 orang anak mengikuti kata-kata Beni dengan aksen yang salah.
Mereka membawa kayu yang di bentuk menyerupai kruk untuk membantu orang berjalan.
Raya yang melihat mereka membawa itu dengan tersenyum bahagia membuat Raya ingin menangis.
" ini buat ibu dokter.." kata salah seorang anak sambil menyerahkan kruk itu kepada Raya.
" ini aku yang gambar" jawab Beni sambil menunjukan kertas berisi gambarnya yang sangat buruk ke arah Raya.
"terus siapa yang buat?" tanya Yana lagi ke arah anak-anak itu. mengacuhkan gambar Beni yang tidak bisa di banggakan sama sekali.
" kami saling bagi tugas bu dokter!" jawab mereka serempak.
"oke siapa yang cari kayunya?" tanya Yana
" itu minta sama pak Alim tukang buat pintu di simpang depan bu dokter, yang minta si Ali." jawab Mansur (anak paling percaya diri bila harus berbicara di dan orang) menjelaskan.
" terus yang buat dan bentuk kayunya jadi kayak gini siapa?" tanya Raya lagi.
" Bayu bu dokter!" jawab Mansur lagi
__ADS_1
" bagus banget siapa yang ngajarin?" tanya Raya menghadap Bayu.
" em..em..." Bayu meremas baju depannya. Dia sangat susah untuk berbicara dengan orang lain, tapi sebenarnya dia adalah yang paling pintar mengeerjakan sesuatu.
" Bayu lihat video dari Hp pak dokter kemaren!" jelas Mansur lagi, karena dia tau Bayu tidak akan berani bicara.
" Terimakasih semuanya.!" teriak Raya bahagia sambil memeluk mereka bergantian.
" Sama-sama bu dokter!" jawab mereka serempak.
" terus tugas Mansur apa?" tanya Beni yang sebenarnya tidak tahu pembagian tugas yang sebenarnya. Dia hanya membantu anak-anak tersebut dalam bentuk peminjaman Hp saja.
" Mansur yang gambar sketsanya pak dokter." jawab Ali ambil memberikan gambar kruk dalam bentuk sketsa detail dengan potongan-potongan kayu untuk mengunci kayu-kayu itu supaya kokoh ketika menjadi topangan badan si pengguna.
Raya yang melihat sketsa itu di buat takjub dengan gambar Mansur yang sangat bagus dan juga detail sekali itu.
" kamu belajar dimana?" tanya Raya sambil mengajak mereka duduk di teras rumah.
" kami lihat video dari pak dokter sama-sama." jawab Mansur.
" kalian hebat" puji Raya sambil mengelus kepala Mansur yang duduk di sampingnya.
" makasih bu dokter." jawab Mansur.
" kalian jam segini nggak sekolah?" tanya Yana penasaran. karena seingatnya mereka selalu datang kesini pagi, jam dimana anak-anak harusnya sibuk sekolah. Mereka selama ini tidak begitu perduli dengan sekolah yang anak-anak ini jalani, karena itu bukan tanggung jawab mereka. Mereka disini untuk pelayanan kesehatan saja, bukan sebagai tenaga pendidik.
" kami kelas 6, jadi kami berangkat anti jam 12 siang" jelas Mansur.
Yana mengerutkan dahinya mendengar penjelasan Mansur. " Gurunya kurang?" Tanya Yana penasaran.
" Gurunya ada 6" jawab Mansur lagi.
Yana melihat jam di pergelangan tangannya. " kalian berangkat sekolah 2 jam lagi ibu boleh ikut?" tanya Yana.
mereka mengangguk semangat, karena ibu dokter cantik kebanggaan mereka akan ikut ke sekolah yang cukup membuat mereka bangga dan bisa pamer. Bahwa mereka berangkat sekolah di antar 'ibu dokter cantik'.
__ADS_1
***
Mungkin terkadang bahagia itu tidak harus mewah, cukup dengan hal tulus yang diberikan dengan sepenuh hati tanpa pamrih.