
Yana yang baru mendengar awal cerita pertemuan pertama Raya dan Rasyid mulai kesal karena akan di tinggal tidur oleh Raya.
"Ra, ish nyebelin....hobi banget gantungin cerita kayak gitu!" seru Yana sambil menggoyangkan tangan Raya.
" lanjut besok aja Yan, aku ngantuk banget ini! " balas Raya malas, dia sedang tidak ingin mengingat Rasyid, karena sudah 2 hari ini tidak bisa dihubungi, padahal 2 hari ini sinyal di desa sudah mulai bagus. tapi malah Rasyid yang ntah pergi kemana. Padahal sebelumnya Rasyid sempat video call dan melihat Raya jatuh dari atas pohon. Raya tahu Rasyid melihat dirinya jatuh, karena Rasyid sempat mengirimkan pesan kepada Raya yang baru bisa di buka oleh Raya beberapa hari kemudian ketika kepala desa sudah memasang alat untuk membantu sinyal di desa ini.
" jadi sekarang kalian pacaran Ra?" tanya Yana mengintrogasi Raya.
" nggak!" jawab Raya yang mulai mengantuk.
" terus status kalian apa?" tanya Yana lagi
" nggak ada!"
" terus kamu tahu dia suka kamu juga?"
" nggak tau juga!"
" terus kok kamu mau nunggu dia?" tanya Yana yang masih penasaran.
" siap juga yang nungguin dia?" tanya Raya balik, karena tidak terima di bilang menunggu Rasyid.
" alah, buktinya!" jawab Yana.
" bukti apa?"
" kamu nolak terus setiap di deketin orang!" jelas Yana yang melihat sikap jutek Raya kepada semua orang yang mendekatinya.
" siapa yang nolak sich ?" bela Raya yang merasa tidak pernah menolak orang berdekatan dengan dirinya.
"kamu, cuek banget sama cowok!" jelas Yana dari sudut pandangnya.
" aku emang gitu kan?" jawab Raya santai, kamu juga bilang aku jutek waktu awal ketemu!" bela Raya.
" ya kan beda Raya...!"
" beda dari mana coba?, masih orang yang sama ini yang jutek!" jelas Raya sambil sesekali menguap.
" pokoknya beda Raya...!" kekeh Yana.
" ya udah tidur!" elak Raya
" cerita lanjutannya dulu, Ra!" pinta Yana sambil mengajak Raya untuk menghadapnya.
" ya udah tidur dulu ja, besok bangun pagi-pagi, aku lanjutin cerita ke kamu dech.!" pinta Raya yang sudah mengantuk berat.
__ADS_1
" paling kamu cuman bohong!" tebak Yana tepat sasaran, karena Raya berfikir untuk menghindari menceritakan kisah cintanya.
" nggak dech!" jawab Raya.
" janji ya?" tanya Yana sambil memberikan jari kelingking nya.
"hm" gumam Raya yang sudah mulai masuk ke alam mimpi.
***
keesokan paginya Raya yang sudah bangun duluan, sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga, sebelum mereka pergi ke puskesmas yang ada di desa tetangga, jaraknya cukup jauh dari tempat mereka tinggal ini. Puskesmas tersebut sebenarnya tidak layak di sebut sebagai puskesmas, karena disana hanya sebuah bangunan yang tidak ada tenaga medisnya, hanya ada sekrang suster, bidan dan juga petugas administrasi.
Ketika Raya sedang menyiapkan makanan di atas meja Yana datang lalu duduk di kursi yang berada dekat dengan Raya, dan langsung bertanya lagi masalah cerita semalam.
" jadi?" tanya Yana tidak jelas.
"jadi apa?" tanya Raya balik mendengar pertanyaan Yana.
" jadi ceritanya gimana?" tanya Yana antusias padahal dia baru bangun tidur dan belum cuci muka sama sekali.
" nanti!" jawab Raya cuek.
" nanti kapan?" Yana
" mandi dulu Yana..!" omel Raya sambil menupuk tangan Yana, ketika Raya melihat Yana hendak mengambil tempe goreng dari piring yang masih panas.
" dasar jorok!" omel Raya. melihat Yana membawa makanan ke kamar mandi.
" kenapa marah-marah Ra?" tanya Beni yang mendengar teriakan Raya kepada Yana.
" calon istri tercinta kamu jorok!" semprot Raya kepada Beni.
" emang ngapain dia?" tanya Beni antusias.
" belum mandi sudah ambil makanan, terus yang lebih parahnya lagi dia bawa tempe goreng ke kamar madi
" o..." jawab Beni sambil membuat teh untuk mereka bertiga.
" cuman 'o' ja ?" tanya Raya yang mulai tersulut emosi.
" terus aku harus gimana Ra?" tanya Beni cuek. " masak aku harus salto jungkir balik disini sambil ngomel ke Yana, orangnya aja nggak ada!" ejek Beni.
" emang ya, laki bini sama...!'"
" sama apa, Ra?"
__ADS_1
" sama-sama nyebelin!" ucap Raya lalu pergi ke kamar menyiapkan perlengkapan mereka untuk hari ini.
" Raya, ayok makan nggak usah nunggui telpon dari si telat muluk!" ajak Yana.
Raya yang mendengar itu menyesal sudah bercerita kepada Yana masalah cinta-cintaan dirinya sewaktu SMP dulu. " siapa juga yang nungguin telpon!" omel Raya ketika keluar dari kamarnya.
" siapa?" tanya Beni yang tidak tahu menahu arah pembicaraan kedua dokter perempuan itu.
" nggak usah kepo!" sahut Raya malas.
" siapa?" tanya Beni penasaran ke arah Yana.
" i..tu.." ketika Yana hendak menjawab pertanyaan Beni, Raya dengan cepat menyuapi Yana dengan nasi agar tidak bisa bercerita, lalu melotot ke arah Yana.
" awas ya!" ancam Raya.
" hehehe.." Yana hanya ketawa sumbang saja, tapi tetap akan bercerita kepada Beni ketika ada kesempatan.
" ish Raya nggak asik, masak aku sendiri yang nggak tau!" kata Beni sambil memasang muka memelas plus kepo tingkat dewa.
" ngak usah kepo kamu Ben!" jawab Raya melotot ke arah Beni.
Yana yang mendengar Beni di marah oleh Raya tertawa saja dalam hati sambil memakan sarapannya.
" kamu juga Yana, awas ja mber.!" tunjuk Raya yang tau isi otak Yana.
" nggak mber kalau sumpelannya kuat sich aman!"
mereka makan dengan sekali-sekali terdengar Yana yang menanyakan soal 'si telat' yang tidak di jawab oleh Raya. sedangkan Beni yang tidak tahu jadi penasaran sekali.
" si telat itu siapa sich Yan?" tanya Beni berbisik ketika Raya sedang mengambil minum yang ke belakang.
" pacarnya Raya!" jawab Yana asal.
" Raya punya pacar?" tanya Beni tidak menyangka.
Yana yang mendengar langkah kaki Raya hanya menjawab pertanyaan Beni dengan anggukan lalu mengisaratkan Beni untuk diam, dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. namun Beni yang tidak memperdulikan isyarat Yana malah dengan terang-terangan bertanya kepada Raya.
" Ra, kamu punya pacar?" tanya Beni penasaran.
Yana yang mendengar pertanyaan Beni lalu mencubit Beni sekeras-kerasnya, karena emosi disuruh diam malah bertanya terang-terangan kepada Raya.
Raya sendiri yang mendengar pertanyaan Beni langsung melotot kerah Yana yang sepertinya minta di kasih cabe mulutnya supaya tidak seperti mber bocor.
" aku salah apa?" tanya Beni yang kesakitan di cubit oleh Yana. sambil memandngi Yana serta Raya bergantian. sepertinya Raya sudah emosi sekali kepada Yana.
__ADS_1
" jadi Raya udah punya pacar?" tanya Beni lagi yang membuat suasana makin menyeramkan, karena Raya sudah marah sekali.
***