
"Kamu kenapa dari tadi diem terus?" Tanya Rasyid sambil menarik tangan Raya.
Rasyid sengaja menarik Raya sedikit menjauh dari Yana san juga Beni. Rasyid ingin berbicara hal penting kepada Raya dari sejak dia sampai kesini.
"Aku nggak pa-pa, Id!" Ucap Raya berusaha untuk tersenyum.
"Kalu begitu, aku mau bicara penting!" Jelas Rasyid.
"Hal penting apa, sampai kamu harus datang langsung nyusul aku kesini?" Tanya Raya sambil bercanda.
"Em... gini...." Rasyid menelan ludah untuk menenangkan diri.
Rasyid masih berusaha untuk menyusun kalimat yang akan ia ucapkan kepada Raya. Rasa yang telah ia pendam begitu lama. Rasyid sudah menyusunnya dari kemarin, tapi tidak juga bisa keluar dari mulutnya.
"Raya, ayo naik sampan!" Ajak Beni melambaikan tangan.
" Kamu ngomongnya, nanti ja ya Id!" Potong Raya.
"Tap...." Belum selsai Rasyid bicara.
"Itu Beni ngajak naik sampan." Ucap Raya sambil menunjuk Beni yang sudah meniki sampan.
Raya berlari menyusul Yana dan Beni yang sudah main ke atas sampan di tepi danau. Mereka berdua di bantu oleh pemilik sampan.
Rasyid menghela nafas panjang ketika Raya memilih berlari kearah Beni dan Yana dengan sangat gembira. Raya tertawa bahagia memakai pelampung yang di sediakan setelah sampai di tepi danau.
Rasyid menyusul mereka bertiga lalu ikut naik keatas sampan setelah menggunakan pelampung.
"Ini danau buatan kan?" Tanya Raya sambil memainkan air yang terjangkau oleh tangannya.
"Tadi kata bapak yang punya sampan ini, sich gitu!" Jawab Yana.
"Kaki kamu tadi buat lari udah nggak sakit lagi, Ra?" Tanya Beni curiga.
Beni tahu Raya pasti memiliki masalah yang tidak ingin dia ceritakan. Karena tadi Beni melihat mata Raya memang sudah sambab ketika keluar dari kamar mandi. Tapi, karena Beni sudah ingin buang hajat jadi dia tidak begitu perduli.
Raya hanya menggeleng, dan mengalihkan dengan pertanyaan lain.
Pertanyaan Beni yang sederhana itu berbeda di tangkap oleh telinga Rasyid. Menurut Rasyid itu adalah bentuk perhatian Beni yang sangat berlebihan bila hanya sebagai teman.
"Kira-kira di bawah danau ini ada buaya atau ikan piranha nggak ya?" Tanya Raya asal.
"Raya....nggak usah aneh-aneh fikirannya!" Omel Yana yang mulai panik sambil mencubit Raya.
Yana jadi berfikir kalau dibawah sampan mereka ini benar-benar ada buaya besar dan bisa membuat sampan kecil mereka terbalik menggunakan ekornya.
"Hahaha..." Raya hanya tertawa melihat muka panik Yana.
"Tenang kalau ada buaya biar aku yang hadapi, kamu akan aku lindungi dari para buaya!" Gombal Beni.
"Yang ada lebih aku lebih takut sama kamu Ben. Kamu yang buaya darat dari pada buaya di danau!" Omel Yana.
"Kasihan Beni!" Ucap Raya.
__ADS_1
Raya mengulurkan tangan ke depan hendak menepuk pundak Beni. Belum sempat tangan Raya menyentuh pundak Beni, tangan Raya di tarik oleh Rasyid.
Raya melirik ke Rasyid dan mengerutkan keningnya bingung. Lalu melihat Beni dan Yana.
"Rasyid cemburu!" Ucap Yana dengan hanya gerak bibir.
"Kenapa, Id?" Tanya Raya yang tidak ingin terlalu berharap.
Raya kini tahu posisinya sekarang hanyalah sebatas teman bagi Rasyid yang telah memiliki tunangan. Entah apa yang membuat Rasyid sampai menyusulnya sejauh ini.
Rasyid yang kesal dengan sikap Raya yang cuek dan tidak begitu perduli denganya memilih untuk diam saja.
Rasyid memilih melihat jam yang berada di pergelangan tangannya, daripada menjawab pertanyaan Raya.
"Sudah siang kita pulang!" Ajak Rasyid malas.
"Tapi...!"
Raya masih ingin menikmati jalan-jalan di sini.
"Kita pulang ja, Ra. Besok kita harus ke kantor camat buat pamit dan banyak berkas yang harus di urus di puskesmas." Jelas Beni.
" Ya udah!" Ucap Raya pasrah.
Rasyid yang melihat Raya mengikuti perkataan Beni meremas dayung dengan sangat kuat, sampai urat pada tangan Rasyid nampak keluar.
***
Mereka sampai di rumah tepat ketika azan asar berkumandang, Beni dan Yana turun lebih dahulu. Sedang Raya masih berusaha membangunkan Rasyid yang masih tidur dengan berbantalkan paha Raya.
Rasyid yang memang masih lelah dengan perjalanan kemarin dari provinsi ke desa, dan harus lanjut dengan begadang untuk membantu kepala sekolah. Masih tertidur nyenyak.
"Id.."
Raya menepuk-nepuk pipi Rasyid agar segera bangun. Namun tidak mendapat respon apapun. Rasyid hanya bergerak mencari posisi yang lebih nyaman.
Raya yang melihat Rasyid tertidur dengan begitu pulas mengambil ponselnya dan berfikir untuk mengabadikan momen ini yang mungkin akan jadi yang terakhir untuk mereka berdua.
Raya mengambil beberapa foto, setelah itu mengecek hasilnya sambil tersenyum sendiri.
"Kalau mau ambil foto thu izin!" Omel Rasyid sambil mengusap mukanya yang masih kusut.
"Siapa yang ambil foto kamu?" Elak Raya yang merasa malu ketahuan mengambil foto Rasyid diam-diam.
Kedua pipi Raya sudah memerah menandakan dia sedang berbohong dan gugup.
"Kamu kalau kayak gini cantik banget jadi pengen langsung nikahin!" Ucap Rasyid mencubit pipi Raya.
Setelah mengucapkan itu Rasyid lalu keluar dari mobil. Sebelum benar-benar keluar Rasyid sempat mengusap kelapa Raya. Lalu berjalan ke dalam rumah.
Raya masih memegangi dadanya yang tiba-tiba saja berdegup dengan sangat kencang menerima semua perlakuan Rasyid kepada dirinya. Rasyid memang selalu seperti ini. Membuat Raya melambung tinggi dan akhirnya jatuh.
"Ingat Raya, dia udah mau nikah sama yang lain!, Rasyid cuman bercanda sama kamu!" Ingat Raya sambil menahan air matanya yang hendak turun dari sudut mata.
__ADS_1
"Raya, masuk rumah!." Teriak Beni dari depan pintu "Betah amat di dalam mobil!" Omel Beni, sambil berlalu masuk.
"Iya!"
Raya mencoba menarik nafas dalam untuk menetralkan nafasnya yang sudah tidak bisa di ajak kompromi, karena ulah Rasyid.
Rasyid yang masih berada di bawah tangga luar rumah, bisa mendengar Teriakan Beni kepada Raya. Hal itu membuat Rasyid mengepalkan tangannya kuat dan berhenti sejenak disana.
"Kamu kenapa, Id?" Tanya Raya melihat Rasyid berhenti di depan tangga.
"Nggak!" Elak Rasyid.
"Kamu yakin?" Tanya Raya lagi.
Rasyid tidak menjawab hanya mengangguk saja, tapi masih berdiri disana tidak bergerak sedikitpun.
"Id?" Raya mencoba memegang tangan Rasyid yang mengepal kuat.
"Hah?" Rasyid kaget, lalu berbalik menghadap Raya.
"Kamu itu kalau ada masalah pasti kayak gini!" Ucap Raya sambil mengangkat tanga Rasyid ke depan mukanya. " Kamu ada masalah?" Tanya Raya lagi.
"Aku suka kamu yang kayak gini!" Ucap Rasyid samb tersenyum.
"Kayak apa?" Omel Raya sambil menghentakkan kakinya.
"Yang cerewet kayak ibu-ibu komplek sebelah rumah kamu!" Ucap Rasyid bercanda.
Raya yang kesal dengan bercandaan Rasyid msncubitnya, lalu berjalan menaiki anak tangga dengan cepat.
"Dasar Rasyid nyebelin!" Omel Raya.
Rasyid yang melihat itu dari bawah tertawa bahagia.
"Semoga aku bisa lihat kamu terus ya, Ay!"
***
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (9 bab)
Brondong Meresahkan (9 bab)
__ADS_1