JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
46. Hati yang baru


__ADS_3

"Sesekali tidak masalah!" Ucap Raya dengan senyum .


Raya tahu pasti Iqbal berfikir dirinya seorang yang pemilih dalam hal makan, karena dia seorang dokter.


Iqbal memegangi dadanya yang berdegup kencang, melihat senyum Raya yang kembali berjalan mendahuluinya.


***


Raya melihat-lihat jajanan pinggir jalan yang berderet di sepanjang jalan ini. Raya sesekali menanyakan makanan apa itu kepada Iqbal. Dan membeli makanan yang menurutnya menarik untuk di beli.


"Pak sopir...pak sopir!" Panggil Raya sambil menepuk pundak Iqbal.


"Apa?" Tanya Iqbal yang sudah mulai lelah berjalan sejak tadi.


"Itu makanan apa?" Tanya Raya sambil menunjuk gerobak penjual martabak telur dengan berbagai macam toping.


"Itu kayak martabak telur mini gitu, tapi dengan berbagai macam toping di dalamnya." Jelas Iqbal.


"Em...gitu!" Jawab Raya. Raya masih berfikir harus membelinya atau tidak.


"Kalau kamu mau kamu bisa beli!" Usul Iqbal.


"Topingnya apa aja?" Tanya Raya.


"Biasanya kalau masih banyak pilihannya, ada berbagai macam sayur, daging dan juga seafood?" Jawab Iqbal ragu.


"Sebanyak itu?" Tanya Raya.


"Kamu pilih sendiri, nggak semuanya yang aku sebutkan tadi, di masukkan!" Jawab Iqbal, sambil menarik Raya menuju tempat yang tadi di tunjuk Raya.


Setelah sampai di depan gerobak itu, Iqbal menanyakan beberapa hal kepada Raya sebelum merasa sesuatu.


"Kamu ada alergi makanan?" Tanya Iqbal.


"Nggak!" Jawab Raya sambil mengangguk kan kepala.


"Yakin?" Ulang Iqbal.


"Yakin!" Jawab Raya cepat.


"Oke kalau kamu nggak ada alergi apapun, aku pesankan sesuatu yang pasti enak disini!" Usul Iqbal.


"Oke, awas kalau sampai nggak enak ya!" Ancam Raya sambil menunjuk Iqbal.


Iqbal menggengam tangan Raya yang sedang menunjuknya itu, lalu meletakkannya kebawah.


"Siap!" Ucap Iqbal memberi hormat kepada Raya.


"Kalau gitu aku cari tempat duduk dulu ya!" Pami Raya.


"Di sana aja, sambil lihat sungai!" Tunjuk Iqbal ke arah kursi yang menghadap langsung dengan hamparan hitam sungai yang terbentang begitu luas.


"Oke!" Jawab Raya.


Raya lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Iqbal yang sedang memesan makanan untuk mereka berdua.

__ADS_1


Raya duduk menghadap suangi dengan hembuan angin yang cukup kencang menerpa wajahnya. Sesekali Raya harus membenarkan rambutnya yang terus mengenai wajahnya karena terbawa angin.


"Tuhan..." Gumam Raya pada dirinya sendiri.


"Jika gelam malam tak dapat menutup bayangan wajahnya dipelupuk mataku. Tolong aku... Menutupnya dengan hati lain yang tak perlu terluka dengan cintaku!" Bisik Raya yang masih bisa di dengar oleh orang yang berdiri di belakangnya. Iqbal.


Iqbal yang telah selesai dengan pesanan makanan dan minumannya, sempat ingin langsung menegur Laila. Namun, di urungkannnya ketiak mendengar Laila sedikit bergumam.


Iqbal tersenyum mendengar Raya yang seorang dokter, dapat dengan mudah merangkai kata demi lata menjadi alunan puisi yang indah.


"Ini bu dokter!" Ucap Iqbal yang langsung saja duduk di sebelah Raya.


Iqbal menyerahkan makanan yang dibawanya kepada Raya.


"Kamu, kok cepet banget pesen makanannya?" Tanya Raya yang sedikit kaget dengan kedatangan Iqbal di sampingnya.


"Tadi ada yang batalin pesenan, karena anaknya nangis. Dan kebetulan pesenannya sama dengan punyaku!" Jelas Iqbal.


"Emang nggak ada yang pesen ini selain kamu?" Tanya Raya curiga.


"Nggak ada, soalnya ini menu rahasia!" Ucap Iqbal berbisik kepada Raya.


"Ada-ada aja!" Senyum Raya mengembang mendengar kelakar Iqbal.


"Tunggu!" Ucap Raya sambil menahan tangan Iqbal yang ingin menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Kenapa?" Tanya Iqbal aneh.


"Ini pedas?" Tanya Raya sambil tersenyum.


Iqbal yang linglung sendiri dengan melihat senyum Raya yang begitu manis di matanya. Iqbal meneguk ludahnya.


"Kamu nggak beli minum?" Tanya Raya mengingatkan.


"Kenapa harus beli minum?" Tanya Iqbal mulai jahil.


"Ini pedas lho pak sopir yang ganteng!" Ucap Raya merayu.


"Makasih, semua orang juga tahu aku ganteng kok!" Balas Iqbal percaya diri.


"Iya ganteng kalau di lihat dari atas monas pak sedotan!" Lanjut Raya.


"Beli minum dulu sebelum makan ini!" Ajak Raya sambil berdiri.


"Bu dokter tunggu disini saja." Perintah Iqbal. Iqbal denga sigap berdiri dan meletakan makanannya di atas tepat dia duduk tadi.


"Ikut ja!" Rajuk Raya.


"Nanti kalau kita berdua pergi, susah buat cari tempat duduk lagi!" Jawab Iqbal.


"Kamu nggak tanya aku mau pesen apa?" Tanya Raya menahan Iqbal.


"Es jeruk nipis tanpa gula?" Jawab Iqbal dengan nada seperti bertanya.


Raya tersenyum lalu mengacungkan ibu jarinya kepada Iqbal yang sudah berjalan cukup jauh dari tempatnya.

__ADS_1


Raya memakan lebih dahulu makanan yang ada dalam genggamannya, dengan begitu lahap.


"Enak!" Ucap Raya setelah mengahabisakan satu giginya dalam mulutnya.


Raya tidak bisa berhenti untuk terus mengunyah makanan dalam genggamannya. Hingga hanya tersisa setengah saja. Tapi belum tampak juga Iqbal akan muncul menunjukan batang hidungnya.


Iqbal muncul dengan membawa minuman pesanan Raya tepat setelah Raya menghabiskan makanannya.


"Cepet banget bu dokter makannya!" Ledek Iqbal yang melihat makanan Raya telah habis tak bersisa sedikitpun.


"Bukan salah aku yang cepet makannya, salahkan kamu yang lama beli minumnya!" Ledek Raya balik.


Raya mengambil minuman yang di bawa oleh Iqbal. Lalu meminumnya dengan cepat, karena ia sudah menahan pedas sedari tadi.


"Ini!" Iqbal menyerahkan satu bungkus makanan lagi kepada Raya.


Makanan ini di bungkus dengan kertas nasi. Dari bentuknya yang memiliki tusuk-tusuk. Raya fikir ini adalah sate biasa yang sering ia temui.


"Sate ya?" Tanya Raya tidak begitu berminat untuk mengambilnya.


Iqbal yang melihat ekspresi Raya yang tidak begitu suka dengan makanan yang ia bawa. Tersenyum. Dan membuka bungkusan tersebut serta di letakkan di hadapan Raya.


Aroma yang keluar dari makanan itu membuat Raya tergoda, aroma khas bumbu yang begitu kental dan juga bau ikan yang begitu menggoda.


"Ini apa?" Tanya Raya penasaran dengan aroma yang di keluarkan oleh makanan di depannya.


"Ini sate!" Jawab Iqbal.


"Sate apa?" Tanya Raya lagi, memastikan.


"Sate ikan bu dokter!" Jawab Iqbal, ia mulai geram dengan Raya yang mulai banyak tanya.


"Ini makan khas sini?" Tanya Raya.


"Nggak tahu juga sih, yang penting ada yang jual di ujung sana, dekat dengan yang jual es jeruk nipis milik ibu dokter terhormat yang cantik dan baik hati ini!" Jawab Iqbal


Iqbal geram sendiri dengan Raya yang sudah begitu cerewet dengan semua pertanyaannya. Iqbal sebenarnya tidak benar-benar geram, hanya saja kadang ketika Raya sudah banyak bicara seperti sekarang ini, Iqbal seperti ingin sekali mengajak Raya berdebat. Agar mereka bisa terus bersama untuk meributkan sesuatu yang tidak penting.


***


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (14 bab)




Brondong Meresahkan (14 bab)

__ADS_1




__ADS_2