
"Hahahaha" Tawa Raya bahagia, lalu Raya berdiri dan juga menolong si sopir yang terjatuh karena ulah yang di buatnya.
***
Raya dengan tawa lepas berjalan bersama sopir yang sudah basah dengan air kubangan jalan yang rusak parah itu.
"Ini kita naik basah-basah gini nggak apa-apa?" Tanya Raya pada sopir yang juga basah seperti dirinya.
"Terus harus gimana, kalau nggak begini?" Tanyanya.
"Nggak tau, makanya aku nanya!" Ucap Raya.
"Anggap saja tidak apa-apa!" Jawabnya santai.
"Kalian kenapa?" Tanya bu Darsih heran melihat keduanya basah dan kotor.
Mereka berdua hanya diam dan saling lirik, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan bu Darsih yang sedang marah-marah itu.
Bi Darsih persis seorang ibu yang sedang memarahi kedua orang anak kecilnya yang bandel ketika ketahuan main air kotor.
"Siapa yang mau jawab san menjelaskan apa yang terjadi?" Tanya bu Darsih.
Meraka masih saling lirik, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan bu Darsih. Raya hanya memainkan ujung kemejanya.
Mereka seperti saling lempar untuk siapa yang mau menjawab pertanyaan bu Darsih.
"Rayaapa yang terjadi dengan kalian?" Tany bu Darsih menelaiti Raya dari atas hingga bawah.
Baju yang di kenakan oleh Raya yang biasa selalu bersih dan rapih, hingga ke wajahnya yang putih itu sudah berubah menjadi kotor seperti anak kecil yang habis bermain lumpur.
Raya hanya diam saja sambil tersenyum ke arah bu Darsih san melirik orang yang berada tepat di sampingnya.
Bu Darsih yang melihat pandangan mata Taya langsung saja menegur sopir yang mengantar mereka itu.
"Iqbal?" Tanya bu Darsih mulai menaikkan nada suaranya satu oktaf.
Bu Darsih sudah mulai emosi, karena pertanyaannya tidak juga mendapat jawaban.
Ketika sopir yang di panggil bu Darsih dengan nama Iqbal itu hendak menjawab, klakson dari mobil di belakang mereka saling bersahu-sahutan. Klakson meminta mobil mereka segera berjalan.
"Dek, ada yang rusak kah?" Tanya sopir mobil di belakang mereka, yang hanya mengeluarkan kepalanya aja dari jendela mobil.
"Nggak pak, ma..maaf ya!" Ical Iqbal sambil menangkupkan kedua tangannya untuk meminta maaf.
Raya dan bu Darsih juga ikut menangkupkan tangan untuk meminta maaf, mengikuti jejak Iqbal.
"Ayo masuk dulu, bu. Nanti ceritanya sambil jalan saja!" Ajak Iqbal kepada kedua penumpang yang di bawanya.
"Ayok!" Ajak bu Darsih kepada Raya.
Raya mengikuti saja perintah bu Darsih untuk sedikit mengelap wajahnya dengan tisu.
"Ini di lap dulu wajahnya Ra!" Ucap bu Darsih mengulurkan kotak tisu kepada Raya.
__ADS_1
"Cuman bu dokter aja bu, yang di kasih tisu?" Tanya Iqbal cemburu.
"Kamu nyetir ja yang bener!" Marah bu Darsih.
Iqbal menyetir dengan hati-hati mencari celah jalan yang bagus agar tidak terperosok di lubang yang besar.
Tak beberapa lama mobil mereka keluar dari jalanan yang rusak parah tadi. Mereka sudah bisa berjalan cukup kencang di jalanan yang lumayan bagus.
"Jadi gimana ceritanya kalian bisa kayak bocah gini di tengah jalan?' Tanya bu Darsih melirik pakai Raya dan juga Iqbal yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Bentar bu, aku minta tisu buat lap muka ganteng aku ini dulu, bu!" Pinta Iqbal percaya diri.
"Iya ganteng kalau di lihat dari monas pakai sedotan yang ujungnya di tutup sama biji jeruk!" Sarkas bu Darasih.
"Hahaha" Raya tertawa bahagia mendengar ejekan bu Darsih kepada Iqbal.
"Seneng banget kayaknya bu dokter, lihat saya terhina!" Ucap Iqbal tidak terima.
"Kamu emang pantes di gituin kayaknya. Biar sedikit tahu diri!" Ejek Raya.
"Jadi siapa yang mau cerita tentang kondisi kalian ini?" Tanya bu Darsih masih meminta penjelasan tentang baju Raya dan Iqbal yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Gara-gara dia bu!" Ucap Raya menyalahkan Iqbal.
Bu Darsih langsung menepuk lengan Iqbal dengan keras.
"Kamu ya!" Ucap bu Darsih emosi.
"Bukan aku bu!" Iqbal membela diri.
"Jadi tadi itu bu dokter jatuh di jalan yang ada air besar itu lho bu!" Ucap Iqbal mengingatkan bu Darsih tentang kubangan di jalan yang licin tadi.
"Terus?" Tanya bu Darsih meminta lanjutkan ceritanya.
"Pas mau di tolong ini bu dokter satu, malah narik aku jatuh juga bu!" Adu Iqbal.
Bu Darsih melirik Raya meminta penjelasan tentang krlakuannya yang menarik Iqbal jatuh juga.
"Habisnya si sopir geblek satu ini nolonginya telat bu!" Adu Raya pada bu Darsih. "Dia malah tertawa dulu lihat Raya jatuh, bu!" Ucap Raya sambil pura-pura akan menangis.
"Tapi, aku tetep nolongin bu dokter lo..!" Bela Iqbal.
"Nolonginnya habis tertawa ngejek bu!" Raya sudah hpir mengeluarkan air mata biayanya, agar tidak di salahkan oleh bu Darsih.
Bu Darsih mencubit paha Iqbal yang dekat dengan jangakauannya.
"Sakit bu!" Ucap Iqbal sambil menggosok-gosok besak cubitan bu Darsih.
"Harusnya si sopir songong ini bantu aku jalan di jalan yang licin itu kan bu?" Kompor Raya agar Iqbal lebih di salahkan lagi.
"Terus aku yang salah gitu?" Tanya Iqbal menunjuk dirinya sendiri.
"Iyalah!" Ucap Raya cepat.
__ADS_1
"Orang bu dokter yang nggak hati-hati kok malah jadi salahnya di aku?" Tanya Iqbal tidak terima.
"Bu...!" Adu Raya sambil memegangi tangan bu Darsih sambil di goyang-goyang.
"Sudah...sudah..!" Ucap bu Darsih menenangkan.
"Dokter satu ini!" Keluh bu Darsih
"Cari tempat buat bersihin badan kalian dulu saja, Bal!" Saran bu Darsih.
Iqbal melirik Raya dari spion tengah, yang memang sedari awal tadi ia arahkan kaca spion itu ke arah Raya duduk.
"Gimana bu dokter?" Tanya Iqbal bertanya pada Raya.
"Nggak usah, kayaknya bentar lagi sampaikan?" Tanya Raya balik.
"Ba.." Belum sempat Iqbal menjawab Raya, ucapan Iqbal sudah di potong oleh bu Darsih.
"Mampir Iqbal, nggak usah nanya sama Raya. Dia memang dokter jorok satu ini!" Perintah bu Darsih.
"Aku nggak jorok bu Darsih!" Bela Raya.
"Bagian mana nggak jorok kalau kamu mandi sehari hanya sekali, itupun harus ibu suruh-suruh dulu?" Tanya bu Darsih mengingatkan kelakuan Raya yang memang susah mandi selama bersama bu Darsih.
"Aku thu nggak jorok!" Bela Raya.
"Tapi?" Tanya bu Darsih agak Raya melanjutkan kata-katanya secara lengkap.
"Aku thu hemat air, buat anak cucu kita nanti!" Ucap Raya.
Iqbal mengangguk-anggukkan kepala sambil melihat kiri kanan jalan yang biasanya ada tempat makan yang menyediakan kamar mandi.
"Dimana ya?" Tanya Iqbal lebih kepada dirinya sendiri.
Iqbal menyetir sedikit pelan sambil mencari-cari tempat untuk makan dan juga berganti baju.
***
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (13 bab)
Brondong Meresahkan (13 bab)
__ADS_1