
"Dimana ya?" Tanya Iqbal lebih kepada dirinya sendiri.
Iqbal menyetir sedikit pelan sambil mencari-cari tempat untuk makan dan juga berganti baju.
***
Mobil mereka berhenti di tempat makan dengan halaman parkir yang luas, cukup jauh dari tempat mereka terjebak macet tadi.
Sebelum turun dari mobil Raya meminta tolong pada bu Darsih mencarikan handuk miliknya yang entah di letakkan dimana oleh Raya tadi.
"Bu, handuk saya dimana ya?" Tanya Raya sudah mengobrak-abrik semua isi tasnya. Namun, belum juga mendapatkan handuk miliknya.
"Sini biar ibu carikan?" Tawar bu Darsih pada Raya.
Bu Darsih menyuruh Raya minggir terlebih dahulu, beliau mencarikan handuk milik Raya yang sebenarnya di letakkan di tas bagian depan. Bagian yang belum Raya buka sama sekali.
"Ini!" Bu Darsih memberikan handuk yang Raya cari.
"Si sopir sombong mana bu?" Tanya Raya yang sudah tidak melihatnya lagi keberadaan Iqbal di dalan mobil.
"Itu!" Tunjuk bu Darsih kepada Iqbal yang sudah bejalan memasuki area tempat makan itu.
Iqbal berjalan sendiri dengan membawa tas kecil yang berisi keperluannya selama perjalanan.
"Pak sopir, tunggu!" Teriak Raya cukup keras, sehingga menarik perhatian beberapa orang disana. Beberapa orang menoleh sekilas ke arah Raya.
Iqbal yang sudah sedikit hafal dengan suara Dokter muda itu, berhenti sejenak melihat ke arah sumber suara.
"Cepat!" Ucap Iqbal, lalu berbalik dan melanjutkan. berjalannya tanpa menunggu Raya yang masih jauh di belakangnya.
Raya yang di tinggal oleh Iqbal berlari kecil di sana untuk menyusul si sopir sombong itu.
"Wah parah ni sopir sombong!" Ucap Raya setelah beridiri tepat di samping Iqbal.
"Ada ya dokter bentuknya bar-bar kayak kamu gini?" Tanya Iqbal tidak percaya.
"Buktinya adakan?" Ucap Raya sambil sedikit berpose aneh di depan Iqbal.
"Iya ada dan bikin stres aku lihatnya!" Ucap Iqbal sambil mengacak rambut sendiri.
Raya yang mendengar ucapan Iqbal yang kesal hanya tertawa saja, sambil terus mengekori Iqbal menuju kamar mandi.
Raya yang hanya mengikuti Iqbal tidak memperhatikan sekitar, hanya terus berjalan saja mengikuti setiap langkah Iqbal.
"Heh, ngapain ikut masuk ke kamar mandi ini?" Tanya Iqbal ketika Raya masih aja mengikuti dirinya sewaktu memasuki kamar mandi khusu untuk laki-laki.
__ADS_1
"Mau ke kamar mandi juga." Jawab Raya cuek, masih hendak melangkah masuk ke kamar mandi di depannya.
Raya mundur beberapa langkah ketika keningnya di dorong oleh Iqbal dengan pelan.
"Bisa baca nggak bu dokter?" Tanya Iqbal sarkas.
"Bisa dong!" Ucap Raya keras.
Raya merasa pertanyaan Iqbal tidak penting, jelas dia bisa membaca. Kalu tidak bisa membaca dia tidak mungkin akan jadi dokter.
"Kalau begitu tolong itu di baca bu dokter!" Tunjuk Iqbal pada papan yang di tempel di depan area kamar mandi khusus untuk laki-laki, tepat di samping pintu masuk kamar mandi.
"Terus aku kemana?" Tanya Raya yang seketika seperti orang bingung dan juga malu.
"Itu!" Iqbal menunjukkan area kamar mandi tidak jauh dari teman mereka berdiri, hanya berjarak beberapa meter saja dari sana.
"O..." Raya lalu berjalan ke arah yang di tunjuk Iqbal tadi.
Ketika Raya sampai di dalam kamar mandi khusus wanita itu, ternyata sedikit antri, ada dua orang ibu-ibu yang sedang menunggu giliran untuk memasuki kamar mandi yang ada 3 itu.
Raya tegak di dekat pintu masuk karena walaupun terlihat bersih, kamar mandi itu cukup berbau kurang sedap di cium. Karena memang Kamar mandi umum.
Ketika Raya sedang asik dengan ponsel dalam genggamannya. Raya masih menimbang-bimbang akan menghubungi orang tuanya atau tidak.
Raya merasa ada yang menarik bajunya dari bawah. Raya menunduk melihat siapa yang sudah menarik-nari bajunya itu.
Raya melihat anak kecil yang menarik-narik bajunya untuk mencari perhatian.
'seperti kenal.' Pikir Raya dalam hati, tapi dia lupa siapa gadis kecil ini.
"Kamu?" Tanya Raya masih sambil mengingat-ingat siapa anak kecil yang tersenyum kepadamu ini.
"Kakak cantik, mau ke kamar mandi juga?" Tanyanya ramah.
Raya ingat anak ini adalah anak yang tadi ia tolong di jalan, ketika asma.
"Anak cantik, disini dengan siapa?" Tanya Raya mencari keberadaan sang nenek yang selalu menemaninya.
"Sama nenek, Kakak cantik" Jawab anak itu masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Neneknya dimana?" Tanya Raya yang tidak melihat keberadaan sang nenek.
"Lagi buang air, di kamar mandi itu!" Tunjuk gadis kecil itu ke arah salah satu pintu kamar mandi paling pojok yang masih tertutup.
Raya mengelus rambut panjang anak itu sambil. Memperhatikan dengan seksama wajahnya yang begitu cantik, namun sayu dan menyimpan kesedihan.
__ADS_1
Sorot matanya yang jernih menunjukan jelas bahwa gadis kecil ini tidak baik-biak saja. Namun, dari bibirnya masih menunjukkan senyum yang begitu manis.
"Kakak cantik, sepertinya ibu dan ayah sudah tidak sayang lagi dengan aku!" Ucap gadis kecil itu tiba-tiba.
Raya yang mendengar perkataan gadis kecil inipun, sedikit menunduk mensejajarkan wajahnya dengan gadis kecil tersebut.
"Kenapa kamu ngomong begitu...O..iya siapa nama kamu?" Tanya Raya sambil mengulurkan tangannya. "Dari tadi kita belum sempat kenalankan?" Ucap Raya.
"Quinsha" Ucap gadis kecil itu yang bernama Quinsha menerima uluran tangan Raya.
"Namanya cantik sekali" Puji Raya. "Pasti orang tua kamu berharap kamu akan jadi seperti ratu yang anggun dan juga cerdas!" Tambah Raya
"Tapi sepertinya mereka tidak mau lagi denganku, buktinya aku harus ikut nenek dan kakek!" Mata Quisha mulai berkaca-kaca
"Kamu nggak boleh ngomong gitu!" Ingat Raya lembut. "Mungkin nenek dan kakek Quinsha memang lebih membutuhkan Quinsha di samping mereka, di bandingkan kedua orang tua Quinsha." Jelas Raya menenangkan Quinsha.
Sejenak senyum manis muncul di bibir Quinsha, mencoba mengerti keadaannya sekarang dari posisi yang lebih baik.
"Kakak cantik namanya siapa?" Tanya Quinsha balik.
"Raya!" Ucap Raya sambil tersenyum. "Jangan berfikir buruk dulu, Oke?" Tanya Raya sambil membentuk jarinya seperti simbol oke.
Quinsha mengangguk-anggukan kepala tanda faham dengan perkataan Raya. Bahwa dia harus berfikir hal baik dulu sebelum berfikir hal-hal buruk yang akan terjadi.
"Janji sama kakak, Quinsha harus jadi anak yang kuat dan tidak boleh sakit lagi, seperti tadi!" Ucap Raya sembari mengulurkan jari kelingkingnya sebagai tanda janji mereka.
"Janji!" Ucap Quisha semangat menerima uluran jari kelingking Raya. Lalu mereka berdua menautka jari kelingking mereka, sebagai tanda perjanjian keduanya.
***
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (13 bab)
Brondong Meresahkan (13 bab)
__ADS_1