JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
43. Meminta maaf


__ADS_3

"Ayah kamu itu suka ngawur kalau ngomong!" Jawab Ibu.


Raya tahu sepertinya ada sesuatu yang coba di tutup-tutupi oleh kedua orang tuannya ini. Tapi Raya tidak tahu apa yang coba mereka tutupi dari Raya.


***


Raya meminta maaf kepada kedua orang tuannya, karena sudah pergi tanpa izin. Meskipun niat Raya untuk pergi ke desa ini sangat mulia, yaitu membatu fasilitas dan pelayanan kesehatan.


"Bu, maaf Raya nggak izin dulu waktu berangkat kesini ya!" Ucap Raya sambil sesegukan.


Raya sudah tidak bisa lagi menahan butiran bening dari pelupuk matanya, yang terus mendesah keluar dari pertama kali ia melihat nama sang Ayah yang keluar di layar ponselnya.


"Minta maaf buat apa, Ra?" Tanya Ibu dengan suara lembut. "Raya nggak salah apa-apa sama Ibu dan Ayah kok, cuman lain kali Raya harus bilang dulu kalau mau pergi jauh seperti ini, jangan ambil keputusan sendiri!" Nasihat Ibu dengan begitu lembut.


Raya malah semakin merasa bersalah dengan semua yang Ibunya katakan. Raya akan lebih mudah jika sang ibu memilih untuk marah-marah kepadanya.


"Iya." Ucap Raya pasrah


Raya hanya dapat mengiyakan semua perkataan sang Ibu yang tidak marah sedikit pun. Tapi, hal itu malah membuat Raya lebih bersalah lagi. Karena ia sudah mementingkan hatinya, tanpa memikirkan perasaan kedua orang tuanya.


"Ibu dan Ayah nggak marah sama sekali, cuma khawatir dengan anak gadis satu-satunya yang kami miliki ini!" Ucap sang Ibu dengan nada sedikit bercanda.


"Iya, Raya minta maaf sudah selalu buat Ibu dan Ayah khawatir!" Pinta Raya dengan suara khas orang yang sedang menahan menangis sesegukan.


"Raya sekarang di daerah mana, nak?" Tanya sang Ibu.


Ibu mencoba mengalihkan pembicaraan, agar sang anak tercintanya ini mau menceritakan masalah sebenarnya ia memilih pergi.


"Raya sekarang berada di daerah perbatasan langsung dengan negara tetangga. (Raya menyembutkan nama daerah yang begitu asing di telinga sang Ibu)." Jelas Raya.


"Jauh dari bandara nggak tempat kamu?" Tanya Ibu tempat tinggal sang anak jauh atau tidak dari akses kendaraan kesana.


"Lumayan jauh juga, Bu!" Jawab Raya singkat.


"Lumayan yang kamu maksud itu berapa jauh dan berapa lama perjalanan?" Tanya Ibu yang curiga kata-kata lumayan dari ucapan sang putri.


Ibu tahu putrinya ini sudah sering pergi dari daerah satu ke daerah yang lain dengan jarak tempuh yang tidak dekat, dan lumayan menguras energi selama perjalanan.


"Sekitar kurang lebih 12 jam perjalanan, Bu!" Jelas Raya sambil menghitung berapa lama dia sampai di desa tempat tinggalnya kini.


"Raya, anak Ibu yang paling cantik dan pintar. Karena memang kamu anak perempuan Ibu satu-satunya. DUA BELAS JAM perjalanan itu bukan lumayan namanya, tapi benar-benar jauh ya, nak!" Ucap Ibu Raya di sebrang telpon sambil menekan kata-kata 'dua belas jam' yang ia ucapkan.

__ADS_1


Raya tertawa mendengar keluhan sang Ibu yang sudah memulai drama.


"Ya, kan soalnya harus ganti-ganti kendaraan juga itu, bu!" Jelas Raya.


"Maksud kamu gimana dengan ganti-ganti kendaraan?" Tanya Ibu yang mulai curiga kalau perjalan menuju ke tempat sang putri bekerja kini jauh lebih mengerikan dari desa sebelumnya.


"Kita harus naik mobil dari bandara ke pelabuhan terdekat, lalu naik kapal fer..." Belum selesai Raya menjelaskan, ucapannya sudah di potong oleh sang Ibu.


"Sudah naik mobil, naik kapal feri lagi?" Tanya ibu syok dengan perjalanan yang cukup jauh untuk menemui putri satu-satunya ini.


"Iya, habis itu kita akan na..." Perkataan Raya kembali di potong oleh sang Ibu.


"Itu belum sampai ke desa kamu tinggal?" Tanya Ibu sambil menepuk jidatnya.


Ibu sudah merasa pusing sendiri dengan penutupan sang putri tentang jarak tempuh dan juga kendaraan yang harus ia naiki, bila. ingin bertemu putrinya.


"Belum, kita naik mobil lagi ke desa tempat Raya yang sekarang." Jelas Raya.


"Ya ampun Ayah, ini anakmu!" Ucap Ibu, dan suara di sebrang berganti suara Ayah.


"Memang sejauh itu?" Tanya Ayah.


"Kenapa?" Tanya Raya balik.


Ayah tahu Ibu sangat ingin sekali bertemu dengan putri satu-satunya itu sampai nekat ingin sekali menyusulnya.


Raya tersenyum mendengar penuturan sang Ayah tentang Ibu yang mengajak menjemputnya. Karena Raya tahu ibu tidak akan mungkin melakukan perjalanan sejauh itu.


"Raya pasti pulang, Yah!" Ucap Raya menenangkan.


"Tu, dengerin anak kesayangan kamu ini pasti akan pulang sendiri. Tidak perlu di jemput!" Ucap sang Ayah di sebrang telpon sana.


"Iya dia akan pulang, tapi ntah kapan!" Sewot sang Ibu.


"Bentar lagikan Raya pulang?" Tanya sang Ayah, untuk menenangkan istri tercinta.


"Kemaren sudah mau sampai kesini saja, anak yang selalu kamu bela ini bisa kabur jauh. Apalagi kalau sudah jauh begini, nggak akan ingat dia untuk pulang!" Marah ibu panjang lebar.


Ibu sudah jengkel dengan putrinya yang terus pergi dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa pulang sejenak saja terlebih dahulu ke rumahnya. Rumah yang menjadi tempatnya tumbuh selama belasan tahu. Sebelum melanjutkan kuliah jauh dan kini menjadi dokter.


"Besok Raya kalau bisa cuti sebentar saja, pasti langsung pulang, Bu!" Janji Raya.

__ADS_1


"Ibu pegang janji kamu yang ini!" Jawab Ibu.


"Ya sudah. Ini sudah malam Ibu dan Ayah istirahat dulu ya!" Pinta Raya. "Raya masih harus mengerjakan berkas untuk besok pagi." Jelas Raya.


"Jangan terlalu capek!" Ingat sang Ibu.


"Nggak capek kok, Bu!" Ucap Raya sambil tersenyum.


"Selamat istirahat, Ibu, Ayah!" Salam Raya.


"Kamu juga langsung istirahat!" Ingat sang Ibu.


Panggilan telpon terputus. Raya lalu melihat layar ponselnya dengan begitu sedih. Seharusnya tidak begini.


Raya menghela nafas panjang. Lalu mencoba kembali membuka ponselnya. Berselancar di media sosialnya, yang sudah lama tidak ia buka.


Awalnya Raya sudah berpesan kepada dirinya sendiri untuk tidak membuka apapun tentang Rasyid. Tapi ternyata semua itu gagal. Raya membuka semua akun sosial media yang bisa menghubungkan dirinya dengan Rasyid.


Raya mungkin masih sangat merindukan dia. Yang seharusnya tak boleh ia rindukan lagi. Raya masih memendam rasa untuk sang temen terncintanya meski cinta itu tak pernah berbalas.


Raya mencoba mencari nama Rasyid di sosial media miliknya. Raya ingin melihat betapa bahagianya sang laki-laki tercinta yang telah bertunangan atau bahkan menikah dengan sang pujaan hati.


Tapi sudah Raya cari foto-foto mereka. Raya tidak menemukan apapun.


***


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (13 bab)




Brondong Meresahkan (13 bab)

__ADS_1




__ADS_2