JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
48. seperti dia


__ADS_3

Iqbal memberikan botol air mineral yang sudah di bukanya kepada Raya, lalu mengambil kantong plastik yang berisi obat yang ada dalam tangan Raya.


Raya hanya memperhatikan saja apa yang sedang dilakukan oleh Iqbal. Iqbal lalu dengan sigap membuka bungkus obat yang di ambilnya dari kantong plastik tadi. Mengeluarkan satu butir pil dari kemasannya, dan memberikannya kepada Raya. Agar segera di minum oleh Raya.


***


Raya yang masih memperhatikan kegiatan Iqbal didepannya. Raya merasa seperti melihat sosok Rasyid yang begitu perhatian namun kadang dingin.


Mereka seperti sama tapi dengan cara yang berbeda. Iqbal perhatian dan juga cerewet. Iqbal akan terus menjahili Raya ketika menunjukan perhatiannya. Sangat berbeda dengan Rasyid yang hanya akan diam seribu bahasa.


Raya seperti melihat sosok Rasyid dalam diri Iqbal dengan versi yang lebih hangat dan santai.


"Heh!" Raya di kagetkan dengan tepukan di pundaknya.


Iqbal yang sedari tadi sudah memanggil-manggil Raya. Namun tidak di respon sama sekali, sedikit kesal juga.


"Saya memang seganteng itu bu dokter!" Ucap Iqbal penuh percaya diri sambil menyerahkan kantong plastik obat kepada Raya.


"PD boros!" Ucap Raya, sambil berjalan meninggalkan Iqbal, dari tempat duduknya tadi.


"Percaya diri itu perlu kan?" Tanya Iqbal sambil sedikit berteriak.


Raya yang sudah mengantuk dan malas menanggapi Iqbal lagi, memilih berjalan dengan cepat kembali ke kamarnya untuk istirahat.


Sesampainya di kamar, Raya tidak langsung tidur. Ia memilih untuk membuka kembali ponselnya yang tadi ia tinggal di atas meja.


Ketika baru saja membuka ponselnya, disana ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Rasyid dan juga beberapa orang temannya.


Raya merasa bersalah sudah menghilang dari semua lingkaran hidupnya yang berkaitan dengan Rasyid termasuk dengan Beni dan juga Yana. Mereka berdua sempat mengenal Rasyid, walaupun hanya sebentar saja.


Raya hendak mengabaikan begitu saja panggilan-panggilan itu. Namun ketika Raya hendak meletakkan ponselnya lagi, ada panggilan baru lagi masuk dari Rasyid.


Raya membiarkan saja panggilan itu, hingga berkali-kali. Akhirnya, dengan berat hati Raya akhirnya memilih untuk mengangkat telpon itu.


Raya membenarkan duduknya terlebih dahulu, membenarkan ikat rambut yang ia gunakan. Raya menarik nafas panjang untuk sekedar menenangkan hatinya sejenak.


"Kamu dimana?" Tanya Rasyid cepat tanpa sempat Raya mengatakan apapun, jangankan bertanya kabar, bahkan salam pun tidak di ucapkan oleh Rasyid.


Raya baru saja meletakkan ponselnya di telinga langsung di todong dengan pertanyaan seperti itu, sedikit kaget.


"Kenapa?" Tanya Raya sedikit kesal.


"Kamu bisa jawab pertanyaan saya dengan jawaban yang benarkan?" Tanya Rasyid, "Bukan malah dengan pertanyaan lagi?" Geram Rasyid.


" Bisa saja sebenarnya!" Ucap Raya dengan suara sedikit lebih santai.

__ADS_1


Raya ingin mencoba berbicara sesantai mungkin, yang dia bisa. Agar tidak terlihat jelas bahwa ia memang mencintai temannya ini sejak dulu.


"Lalu jawab sekarang kamu dimana, Ay?" Ulang Rasyid dengan suara lembut.


"Untuk apa kamu tanya tempatku sekarang?" Tanya Raya lagi, yang juga mulai marah sendiri dengan sikap Rasyid.


Dari sebrang sambungan telpon terdengar Rasyid menggeram menahan amarah. Lalu menghela nafas panjang. Rasyid menetralkan amarahnya yang sudah mulai naik.


"Ay, kita harus bicara!" Ucap Rasyid dengan suara lebih lembut, agar Raya mau di ajak bicara.


"Bicara tentang apa?" Tanya Raya yang berfikir tidak ada yang perlu ia bicarakan lagi dengan Rasyid.


Semua sudah selesai sejak Rasyid pergi terlebih dahulu kembali ke jakarta dan memilih untuk melamar wanita lain. Yang merupakan teman mereka berdua.


"Kita harus bertemu!" Ucap Rasyid tegas.


"Tunggu aku pulang ke Jakarta saja, kalau kamu memang ingin bicara denganku" Ucap Raya.


Raya ingin menghindari pertemuannya dengan Rasyid. Raya sekarang masih belum bisa melepaskan semua hatinya kepada Rasyid.


"Kapan kamu pulang, Ay?" Tanya Rasyid dengan suara lebih semangat mendengar Raya akan kembali ke Jakarta.


Itu artinya sebentar lagi Rasyid bisa melihat dan berbicara dengan Raya.


"Mungkin tahun depan?" Ucap Raya ragu.


"Iya, mungkin tahun depan aku pulang ke Jakarta." Ulang Raya santai.


Raya memang berniat akan kembali ke Jakarta ketika tugasnya disini sudah selesai. Paling cepat memang tahun depan, atau mungkin bisa lebih lama lagi.


"Nggak bisa!" Tegas Rasyid.


"Nggak bisa apa?" Tanya Raya.


"Aku nggak bisa nunggu sampai tahun depan, itu masih sangat lama, Ay!" Ucap Rasyid dengan suara lebih pelan dan frustasi. "Kita butuh bicara secepatnya!" Ucap Rasyid.


"Kita bisa bicara lewat sambungan telpon ini sekarang, kalau menurut kamu tahun depan itu masih lama!" Ucap Raya.


Raya sudah tidak tahan untuk memberikan alamat tempat tinggalnya kepada Rasyid jika terus begini. Rasa itu masih ada di hati Raya. Belum benar-benar hilang dari hatinya.


"Ay, plis!" Mohon Rasyid dengan suara yang begitu lemah.


"Sudah, kita lanjut besok lagi ya?" Ucap Raya lelah.


Raya berfikir apa sebenarnya yang masih ingin Rasyid bicarakan dengannya. Bukankah semua sudah selesai.

__ADS_1


Raya tidak ingin banyak berharap lagi, seperti dulu. Membayangkan sesuatu yang berakhir tidak pernah sesuatu dengan harapan.


"Kamu pasti akan menghilang lagi seperti kemaren, Ay!" Ucap Rasyid sedih.


Rasyid seperti orang yang akan kehilangan hidupnya, ketika mendengar Raya akan menutup telponnya.


"Aku masih ada kerjaan besok!" Ucap Raya mencari alasan yang masuk akal.


"Kamu kirim alamat tempat tinggal kamu dimana sekarang, simpelkan!" Ucap Rasyid memaksa Raya untuk mengirimkan alamatnya.


"Kamu bisa tanya ke ibu dan ayahku, kalau kamu benar-benar ingin tahu alamatku dan bertemu denganku!" Ucap Raya, lalu dengan cepat mematikan sambungan telponnya.


Raya tidak ingin lagi memperpanjangan percakapan dengan Rasyid, yang nantinya akan berakhir dengan menyakiti wanita lain yang merupakan temannya sendiri. Hani.


Raya juga seorang wanita, jadi Raya tahu sakitnya seperti apa jika laki-laki yang bersamanya, malah mencari wanita lain di saat mereka akan menikah.


Raya tadi belum sempat memberi tahukan alamatnya dengan kedua orang tuanya. Raya hanya membuat Rasyid mencari tanpa hal yang pasti.


Raya melihat jam yang ada di ponselnya, masih menunjukkan pukul 01.15 dini hari. Tapi Raya tidak bisa tidur sama sekali.


Raya masih gundah gulana dengan hatinya sendiri. Raya tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang.


'Apa sebenarnya mau kamu, Rasyid!' Geram Raya pada dirinya sendiri.


Raya memandangi layar ponselnya yang di hidupkan lalu di matikan lagi oleh Raya. Kacau itu yang Raya rasakan sejak tadi. Sejak menerima panggilan telpon dari Rasyid.


***


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (14 bab)




Brondong Meresahkan (14 bab)


__ADS_1



__ADS_2