JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
52. bertemu


__ADS_3

"Ini!" Ucap Raya memberikan bakwan jagung miliknya.


"Makasih!" Ucap staf yang baru datang tersebut dengan sangat senang.


"Bu dokter." Panggil Iqbal. "Tadi pagi-pagi sekali Gunawan sempat menghubungi saya. Katanya dia akan kesini bersama orang yang mungkin membuat bu dokter rindu, atau mungkin akan membuat bu dokter juga terharu!" Ucap Iqbal tiba-tiba.


***


Raya yang dapat mendengar perkataan Iqbal dengan sangat jelas, merasa bingung dengan maksud dari pesan Gunawan yang di sampaikan kepada Iqbal.


"Maksudnya gimana, Bal?" Tanya Raya bingung sambil mengernyitkan dahinya.


"Saya juga tidak tahu bu dokter, saya hany menyampaikan saja" Jawab Iqbal sambil menggelengkan kepalanya.


Raya membereskan kotak bekal yang dia bawa, lalu bersiap-siap untuk kembali ke puskesmas. Karena hari sudah sore.


Rombongan orang-orang yang akan menyebrang, berdiri ataupun duduk di tepi sungai untuk menunggu antrian menaiki sampan. Raya sendiri berdiri di bawah pohon yang agak teduh, karena terik matahari yang cukup cerah siang menjelang sore ini.


Ketika ada sampan datang mereka menaikinya dengan antrian yang cukup rapih, Raya yang memang berdiri cukup jauh dari tepian sungai akhirnya tidak mendapat tempat lagi di sampan itu.


Rombongan yang berangkat bersama Raya cukup kebingungan untuk mengatur tempat duduk agar tidak meninggalkan Raya sendirian disana.


"Bu dokter naik di sini saja?" Tawar bidan dengan menggeser sedikit duduknya, agar Raya bisa naik.


"Nggak usah, malah nggak aman nanti!" Tolak Raya halus.


"Tapi.."


"Saya naik sampan berikutnya saja.


Iqbal yang sudah duduk di atas sampan, melihat Raya yang tidak mendapat tempat, dan juga tertinggal sendirian disana memilih menawarkan tempatnya kepada Raya.


Iqbal pikir bahwa dia masih bisa menaiki sampan berikutnya. Namun, ketika dia baru saja turun dan hendak menyuruh Raya naik ke atas sampan ada seorang remaja yang menaiki sampan.


"Heh kamu..." Iqbal hendak menegur remaja perempuan yang sudah mengambil tempat duduknya tadi.


Namun, belum sempat Iqbal melanjutkan kata-katanya. Iqbal merasa tangannya di genggam cukup kuat. Iqbal melihat tangan siapa yang menahannya.


"Kenapa bu dokter?" Tanya Iqbal dengan muka sedikit kesal.


"Nggak usah, bal!" Ucap Raya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan.


Mau tidak mau Raya dan Iqbal menunggu sampan berikutnya yang akan berangkat untuk membawa mereka kembali ke sebrang.


Iqbal kembali duduk di tepian sungai sambil bercerita dengan Raya.


"Kenapa tadi ngelarang saya memarahi anak itu bu dokter?" Tanya Iqbal.

__ADS_1


"Untuk apa?" Tanya Raya balik.


"Agar anak itu tahu cara antri!" Ucap Iqbal masih di liputi emosi.


Raya tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Dan menjelaskan alasannya kepada Iqbal.


"Kamu nggak lihat, sepertinya dia sedang buru-buru." Jawab Raya.


" Semua orang juga sedang terburu-buru bu dokter!" Tekan Iqbal tidak terima ketika Raya malah membela gadis yang sudah menyerobot tempat duduknya tadi.


"Dia seorang siswi sekolah mennegah, dari seragam yang dia kenakan. Mungkin saja ada kegiatan sekolah yang harus dia hadiri secepatnya, tidak mungkin dia mengenakan pakai sekolah di jam seperti ini, kalau kegiatan yang sedang ingin ia hadiri tidak penting." Jelas Raya panjang lebar.


"Lalu bagaimana bu dokter tahu kalau dia mau berangkat ke sekolah bisa jadi dia akan pulang ke rumahnya?" Tanya Iqbal lagi.


"Di desa ini tidak ada SMA ataupun sekolah sederajat, jadi anak itu tidak mungkin akan pulang, tapi pasti sebaliknya. Ia akan berangkat!" Ucap Raya memberi pendapat.


Iqbal tersenyum mendengar jawaban Raya yang menurutnya cukup cerdas, dan menunjukkan bahwa Raya memang orang yang cukup tenang.


Mereka menunggu cukup lama untuk akhirnya bisa menaiki sampan yang membawa mereka kembali ke sebrang.


Tidak begitu banyak orang yang berada di sampan ini, karena memang hari sudah sore, jadi tidak ada orang desa yang akan menyebrang. Lebih banyak orang yang kembali ke dasa ini di banding orang yang akan keluar dari desa.


Raya duduk di tengah sampan, karena Raya cukup takut untuk duduk di tepi sampan. Ray tidak bisa berenang. Raya sempat belajar berenang, tapi tidak pernah bisa.


"Bu dokter kenapa duduk disitu?" Tanya Raya.


Raya hanya tersenyum saja menanggapi perkataan Iqbal.


"Bisa langsung main air!" Ucap Iqbal sambil memercikkan air ke arah Raya.


"Ya nggak usah di siram ke saya juga kali, Iqbal!" Ucap Raya dengan muka cemberut.


Bukannya berhenti Iqbal malah kembali memercikkan air cukup banyak ke arah Raya, sambil tertawa.


"Hahaha..."Tawa Iqbal cukup keras.


"Awas ya!" Ancam Raya pada Iqbal, sambil menunjuk Iqbal menggunakan jari.


"Sini makanya, biar bisa bales!" Tawar Iqbal.


"Nggak!" Tolak Raya keras.


Raya lalu memalingkan muka tidak ingin melihat ke arah Iqbal lagi.


Iqbal yang memang suka mengganggu Raya, menarik pergelangab tangan Raya cukup kuat, sehingga Raya terseret dan berdiri di dekatnya.


Raya yang panik dan tidak siap jatuh tepat di kursi samping Iqbal dengan satu kakinya yang menindih kaki Iqbal. Hal itu sedikit membuat mereka berdua canggung.

__ADS_1


Dengan cepat Raya memperbaiki duduknya dan menghadap ke depan, tidak ingin melihat ke arah Iqbal.


"Lihat ini!" Ucap Iqba mengalihkan perhatian Raya, agar mereka tidak begitu canggung lagi.


Iqbal memainkan tangannya di permukaan air sungai yang bergelombang akibat bergesekan dengan sampan yang sedang mereka tumpangi.


Arah sampan yang mereka naiki melawan arus sungai sehingga cukup membuat gelombang air yang besar.


"Nggak!" Ucap Raya yang cukup ketakutan duduk di tepi sampan seperti itu.


"Coba dulu!" Paksa Iqbal menarik tangan Raya untuk menyentuh air sungai itu.


Raya yang awalnya ketakutan setelah tangannya menyentuh air sungai yang sejuk itu akhirnya berani untuk melihat permukaan air yang menyentuh tangannya.


"Baguskan?" Tanya Iqbal sambil melepas tangan Raya. Raya masih terus menikmati sentuhan air di tangannya yang begitu menenangkan.


"Iya." Ucap Raya sambil tersenyum dan menoleh ke arah Iqbal.


Mereka menikmati perjalanan mengarungi sungai ini dengan di temanin senja yang cukup indah dengan corak jingga yang begitu menggoda.


Sampan yang mereka tumpangi menepi dan sampai di tempat tujuan ketika hampir magrib. Raya cukup kesulitan ketika hendak turun dari sampan.


Iqbal yang turun dari sampan terlebih dahulu membatu Raya dengan cara memegangi tangan Raya, untuk membantunya menuruni sampan itu.


"Terimakasih!" Ucap Raya sambil tersenyum ke Iqbal.


"Raya!" Panggil suara yang sangat Raya kenali dan rindukan.


***


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (14 bab)




Brondong Meresahkan (14 bab)


__ADS_1



__ADS_2