JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
52. Datang


__ADS_3

"Saya nggak jadi pergi dari hotel ini, saya nginep lagi disini." Ucap Gunawan. " Saya pesen kamar lagi ja, dengan 2 kasur ya!" Lanjut Gunawan, sambil menyerahkan kartu pengenalnya kepada resepsionis itu.


"Satu kamar dengan 2 kasur?" Tanya resepsionis perempuan yang sedang membantu Gunawan untuk memesan kamar.


"Iya, temen saya mau nyusul kesini!" Jawab Gunawan.


Resepsionis yang melayani Gunawan cukup di buat bingung dengan tingkah tamunya satu ini. Karena tadi mau pergi, tapi tidak jadi karena di tinggal oleh temannya. Sekarang mau pesen kamar dengan 2 bed, tapi dia sendirian.


***


Pagi ini Raya berencana untuk pergi ikut pergi ke desa sebrang, melakukan puskesmas keliling yang memang kegiatan rutin mereka.


Karena memang daerah ini cukup susah untuk akses ke puskesmas, dan juga masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Mau tidak mau tenaga medis yang pergi untuk mencari pasien yang sedang sakit di pelosok desa.


Masyarakat disini lebih memilih untuk membiarkan saja penyakit mereka atau minimal minum obat tradisional, daripada harus berobat ke dokter.


"Bu Darsih, saya pergi untuk puskesmas keliling dulu!" Pamit Raya.


"Sore pulang?" Tanya bu Darsih.


"Kalau hari ini saya belum tahu bu, soalnya di desa sebrang." Jawab Raya, masih sibuk dengan barang-barang bawaannya.


"Bu dokter nggak bawa baju?" Tanya bu Darsih yang melihat Raya sedang memasukkan barang-barang bawaannya.


"Bawa yang penting-penting saja bu, soalnya takut susah nanti bawanya." Ucap Raya sambil berjalan menghampiri bu Darsih yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.


"Bu, ada kotak makan?" Tanya Raya yang melihat makanan di atas meja begitu menggoda, tapi jam di pergelangan tanganmu sudah menunjukkan waktu yang tidak bisa di ajak kompromi lagi, yaitu 08.00.


"Kenapa?" Tanya bu Darsih.


"Pengen sarapan ini, tapi udah jam delapan!" Jawab Raya dengan muka memelas.


"Ya makan dulu saja bu dokter!" Saran bu Darsih.


"Bawa aja, nanti makan di sampan (kapal kecil untuk menyebrang sungai)!" Jawab Raya.


"Tunggu sebentar!" Perintah bu Darsih yang pergi ke belakang mengambil kotak nasi bertingkat yang cukup besar. Hampir seperti rantang.


"Bu, kok besar sekali?" Tanya Raya yang melihat kotak bekal dalam genggaman bu Darsih.


"Ibu dokter, pergi ke desa sebrang ramai-ramai, belum tahu pulang sampai jam berapa, jadi nanti di makan sama-sama dengan bidan dan juga staf puskesmas yang ikut ke sana!" Jelas bu Darsih.


"Siap!" Ucap Raya memberikan hormat kepada bu Darsih.


Bu Darsih memindahkan hampir semua isi dalam piring yang ada di atas meja makan kedalam kotak bekal yang tadi di bawanya. Dan hanya menyisakan sedikit untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Bu, itu buat ibu mana?" Tanya Raya yang melihat bu Darsih hanya menyisakan sedikit saja dalam piring di atas meja.


"Ibu cuman sendiri disini, jadi segini cukup bu dokter!" Jawab bu Darsih memperlihatkan isi piring yang menurutnya cukup untuknya.


***


Raya pergi ke Desa sebrang menggunakan peralatan seadanya, melakukan pelayanan kesehatan hanya di halaman aula desa yang cukup luas.


Raya sedikit kesulitan berkomunikasi dengan warga di desa ini. Karena mereka tidak begitu lancar menggunakan bahasa indonesia, dan Raya sendiri belum begitu lancar dengan bahasa daerah mereka.


Ditambah lagu bahasa daerah orang-orang di desa sebrang ini cukup berbeda dengan bahasa yang di gunakan teman-temannya di puskesmas.


Beberapa kali Raya harus meminta bantuan kepada rekannya untuk menterjemahkan bahasa mereka. Tapi tidak setiap Raya membutuhkan bantuan, mereka bisa membatu. Karena setiap tenaga medis yang datang kesini sudah memiliki tugasnya sendiri-sendiri.


Ketika Raya sedang kesulitan untuk menterjemahkan bahasa mereka, Iqbal tiba-tiba datang menolong Raya.


Ketika baru selesai dengan semua pasien di desa ini, Raya berterima kasih kepada Iqbal yang sudah mau membatunya tadi.


"Iqbal terimakasih ya sudah bantu saya!" Ucap Raya kepada Iqbal yang duduk di tidak jauh darinya.


"Sama-sama bu dokter, tidak perlu sungkan!" Ucap Iqbal sambil tersenyum.


"Oya, kamu ngapain disini?" Tanya Raya yang penasaran, ada kepentingan apa Iqbal berada di desa ini.


"O, ada urusan sedikit disini. Kebetulan tadi lihat ibu dokter sedang ada masalah, jadi saya bantu!" Jelas Iqbal.


"Biasa cari kerjaan yang bisa di kerjakan!" Jawab Iqbal sambil tersenyum.


"Ada-ada aja kamu, Bal!" Raya hanya menanggapi Iqbal dengan senyum.


"Lho pak Iqbal?" Sapa salah satu staf puskesmas memberi salam kepada Iqbal dengan hormat. Dan di ikut oleh semua orang-orang dari puskesmas yang ada disana.


Raya yang melihat itu cukup heran dan sedikit mengernyitkan dahinya heran. Namun, Raya tidak begitu perduli.


Raya membuka kotak bekalnya yang belum sempat di bukanya sejak tadi. Raya sama sekali tidak bisa makan di atas sampan tadi, karena arus sungai yang cukup tidak bersahabat.


"Mau?" Tanya Raya menawari Iqbal yang kebetulan duduk paling dekat dengannya.


"Boleh?" Tanya Iqbal balik.


Raya memberikan wadah yang bisa di gunakan untuk Iqbal makan, da membagi bekalnya kepada Iqbal. Raya juga tidak lupa menawari semua orang yang ada disana.


"Semuanya ayo makan dulu!" Ajak Raya berbasa-basi.


"Iya bu dokter, silakan!" Ucap salah satu bidab yang ada disana.

__ADS_1


"Ini kalau beneran minta di kasih nggak?" Tanya salah satu orang disana yang memang suka sekali bercanda.


Raya yang mendengar itu hanya tersenyum, lalu memberikan satu wadah makan yang berisi bakwan jagung, yang masih penuh dalam wadah itu.


"Ini mau nggak?" Tanya Raya sambil menyodorkan wadahnya.


"Beneran?" Tanya mereka bersamaan.


"Mau nggak nih?" Tanya Raya sambil hendak menarik kembali wadah makanan itu.


"Mau...!" Jawab mereka serempak sambil mengambul kotak makan itu.


"Ini pasti masakan bu Darsih!" Ucap salah satu staf laki-laki dengan perawakan cukup berisi dengan mulut penuh dengan makanan.


"Iya, masakan bu Darsih itu top markotop!" Ucap bidan yang duduk di sebelahnya.


"Lo kok habis?" Tanya orang yang baru saja datang.


"Salah kamu sendiri, ntah pergi kemana tadi!" Ucap bidan yang tadi menuju masakan bu Darsih.


Raya tersenyum melihat pemandangan ini. Ini adalah hal yang akan sangat Raya rindukan ketika dia sudah tidak lagi bertugas disini.


"Ini!" Ucap Raya memberikan bakwan jagung miliknya.


"Makasih!" Ucap staf yang baru datang tersebut dengan sangat senang.


"Bu dokter." Panggil Iqbal. "Tadi pagi-pagi sekali Gunawan sempat menghubungi saya. Katanya dia akan kesini bersama orang yang mungkin membuat bu dokter rindu, atau mungkin akan membuat bu dokter juga terharu!" Ucap Iqbal tiba-tiba.


***


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (14 bab)




Brondong Meresahkan (14 bab)

__ADS_1




__ADS_2