JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
22. melepas rindu


__ADS_3

Raya pulang berdua dengan Rasyid menggunakan mobil yang tadi Rasyid bawa, dengan paksaan kedua teman dokternya. Raya yang masih marah kepada Rasyid memilih diam sepanjang perjalanan, walaupun mereka berada dalam satu mobil yang melewati jalan lumayan buruk. Sampai akhirnya Rasyid pura-pura lupa jalan kembali kerumah tempat tinggal Raya.


" Ini belok kanan atau kiri, Ay?" Tanya Rasyid memecahkan keheningan diantara mereka berdua, dan berhenti di persimpangan jalan.


Raya yang masih marah pada Rasyid hanya menunjuk arah kiri jalan menggunakan jari tangannya, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


" Kanan atau kiri, Ay?" Tanya Rasyid sekali lagi, agar Raya mau berbicara.


Raya masih menunjuk dengan tangan, dan menahan diri agar tidak mengeluarkan suaranya.


" Ngomongnya keras dikit, nggak dengar Ay!" Ucap Rasyid sambil mendekatkan telinganya ke arah Raya, Pura-pura mendengarkan ucapan Raya.


" Kiri" Ucap Raya pelan dengan kesal. Raya tahu kalau Rasyid sedang mencoba membuat dia bicara, dengan berpura-pura tidak melihat arah yang di tunjuknya.


" Masih nggak denger, Ay!" Ucap Rasyid sambil menddkatkan diri ke arah Raya. Wajah Rasyid yang begitu dekat dengan Raya, hingga membuat hembusan nafas Rasyid dapat dirasakan oleh Raya menerpa wajahnya.


Raya yang tidak pernah sedekat itu dengan laki-laki lain merasa gugup lalu mencoba memalingkan muka dan mendekatkan mulutnya ke telingan kiri Rasyid dan berteriak tepat di sebelah telinga Laki-laki itu.


" Belok kiri, Id!" Ucap Raya sekeras yang dia bisa hingga membuat telinga Rasyid berdenging.


" Gitu dong, kalau ngomong yang keras biar kedengeran!" Ucap Rasyid sambil memegang telinganya yang sakit karena teriakan Raya. Namun itu membuat Rasyid lega, artinya Raya sudah mulai tidak marah lagi dengannya. Tinggal di ajak bercanda sedikit lagi pasti Raya akan kembali seperti semula.


Raya yang melihat Rasyid memegangi telinganya tersenyum lucu. Meskipun sudah di teriaki oleh Raya sekuat tenaga Rasyid masih sok tenang seperti tidak terjadi apapun juga pada gendang telinganya, yang pasti seperti mau pecah.


Melihat senyum Raya kembali Rasyid lalu menggodanya lagi. " Kalau senyum gitukan cantik, calon istriku!" Ucap Rasyid sambil menatap Raya dari kaca spion tengah mobil. Melihat ekspresi Raya yang menggemaskan menurut Raya.


Raya yang mendengar rayuan dari sang pujaan hati membuat kedua pipinya bersemu merah dan juga memanas. Tersipu malu.


" Ya ampun, pipinya bisa biasa aja nggak Ay?" Tanya Rasyid tiba-tiba, sambil menahan tangannya yang sudah gatal ingin mencubit pipi Raya yang merona merah.


" Maksudnya?" Raya bingung dengan ucapan Rasyid yang ambigu menurutnya.


" Itu pengen cubit pipi kamu yang udah merah kayak habis pakai blus on!" Jelas Rasyid sambil hendak mencubit pipi Raya yang dekat dengan tangannya. Namun langsung di tepis oleh Raya dengan tampang galak.


" Nggak usah macam-macam, Id!" Ancam Raya sambil memegangi kedua pipinya, agar tidak di cubit oleh Rasyid.


" Semacam ja Ay, cubit!" Rayu Rasyid.


" Nanti kalau pipiku merah-merah mau tangguh jawab kamu?" Tanya Raya jutek sambil melototkan kedua matanya.

__ADS_1


" Aku pasti tanggung jawab Ay!, KUA terdekat disini jaraknya berapa?" Tanya Rasyid bercanda.


" Kok KUA?" Tanya Raya yang masih belum paham dengan gurauan Rasyid.


" Kan mau tanggung jawab sama kamu, Ay!" Ucap Rasyid santai memainkan kedua alisnya.


"Kamu pikir aku hamil apa?" Ucap Raya setelah faham maksud Rasyid, sambil memukul pundak Rasyid menggunakan tempat tisu yang ada di dashboard mobil.


" Itu mah gampang, buat dulu disini paling lima belas menit jadi, Ay!" Goda Rasyid.


Raya yang mendengar itu langsung melotot dan mencubit tangan Rasyid sekuat tenaganya.


" Mau nggak nih?, biar langsung aku gas kesana!" Tantang Rasyid.


" Mau apa?" Tanya Raya jahil.


" Nikah!" Ucap Rasyid sambil memegangi tangan Raya yang asyik mencubit lengannya.


" Ayok!" Ajak Raya antusias seperti diajak membeli balon.


" Serius atau bercanda kamu Ay?" Tanya Rasyid dengan wajah yang berubah serius, melihat ekspresi Raya.


Rasyid bingung harus jawab apa, akhirnya hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Aku mah ikut kamu ja, kalau kamu serius aku serius kalau bercanda aku juga bercanda!" Jawab Raya santai.


" Kok gitu sih Ay?" Ucap Rasyid cemberut.


" Ya kan makmum itu ikut ja imamnya gimana, jadi kamu mau jadinya gimana?" Ucap Raya santai sambil menggoda Rasyid balik.


" Besok pagi ya kita ke KUA terdekat?" Ajak Rasyid dengan tampang serius.


" Ya nggak besok pagi juga, calon suami aneh!" Jawab Raya sambil memutar bola matanya malas.


" Terus kapan kita ke KUA?" Tanya Rasyid lagi.


" Habis pulang dari desa ini kamu ketemu ayah, terus tanya sama ayah kapan bisa ke KUA bareng kamu, buat jadi waliku!" Ucap Raya tak kalah serius.


" Oke siap!" Rasyid memberi hormat kepada Raya. "besok aku pulang duluan ke Jakarta buat ketemu ayah calon mertua!" Lanjut Rasyid berangan-angan.

__ADS_1


" Id berhenti dulu di pasar depan ya!" Ajak Raya sambil menunjuk arah depan yang terlihat ramai.


" Rmang ada pasar disini?" Tanya Rasyid bingung, seingat Rasyid tadi siang dia lewat sini tidak ada pasar.


" Ada pasar dadakan gitu disini, seminggu sekali. Biasanya sore ini ada" Jelas Raya.


" O... Emang kamu mau beli apa?" Tanya Rasyid penasaran.


" Beli sayur sama keperluan sehari-hari buat di rumah!" Ucap Raya


" Sayur buat apa?" Tanya Rasyid bingung.


" ya buat masak, Id! Nanti malam kamu mau makan apa coba?" Ucap Raya menjelaskan.


Rasyid memakirkan mobilnya di dekat rumah warga yang bersebrangan dengan pasar yang di maksud Raya. Pasar itu ada ada di tanah lapang yang tadi siang Rasyid lihat sepi, hanya ada anak-anak bermain layang-layang kini berubah menjadi ramai selayaknya pasar tradisional yang penuh sesak.


" Ay, nanti yang masak siapa?" Tanya Rasyid. Sepengetahuan Rasyid dulu Raya tidak bisa masak, paling juga masak telor ceplok gosong dan mie istan saja.


" Aku!" Ucap Raya percaya diri.


" Kamu emang bisa masak, Ay?" Tanya Rasyid ragu dengan kemampuan masak Raya.


" Nanti coba aja!" Ucap Raya sombong.


" Id bentar!" Raya menghentikan Rasyid ketika tali sepatunya lepas.


" Kebiasaan!" Rasyid ikut berjongkok menalikan sepatu Raya. Kebiasaan Raya ketika memakai sapatu bertali akan sering lepas dan juga tersandung dengan talinya.


Setelah selesai Rasyid mengelus kepala Raya sayang "Besok kursus ikat tali sepatu bu dokter Raya!" Ucap Rasyid mengejek Raya, yang malah membuat mereka berdua tertawa bersama.


"Kan ada kamu, jadi ikut tali sepatuku harus jadi tugas kamu!" Ucap Raya sambil menggandeng tangan Rasyid.


Rasyid tersenyum mendengar itu, Raya selalu tidak sadar telah membuat Rasyid jatuh cinta berulang kali. Hanya dengan sikapnya yang tidak pernah berubah dari sejak awal mereka bertemu.


***


Curhat :


Karena udah mulai masuk kerja lagi jadi uploadnya nggak bisa tiap hari ya. paling 3 hari sekali atau doakan saja otak dan badan ini bisa di ajak kerja sama buat nulis tanpa henti.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2