
"Gun, kita nggak akan jadi pasangan bu!" Ucap Raya.
"Dulu kamu tolak aku karena Rasyid, sekarang siapa?" Tanya Gunawan tiba-tiba.
"Apa maksud kamu?" Ucap Raya kaget, Gunawan membahas Rasyid.
Kenapa tiba-tiba Gunawan membahas Rasyid sekarang ini. Raya hanya ingin pergi jauh dari nama Rasyid, itu saja.
***
Raya yang mendengar nama Rasyid terus saja di sebut oleh Gunawan beberapa kali hanya dalam hitungan menit saja, merasa suasana hatinya memburuk.
"Saya pamit kembali ke hotel dulu!" Pamit Raya setelah menyelesaikan makannya.
"Silakan bu dokter!" Jawab Iqbal dan juga bu Darsih hampir bersamaan.
"Kok cee...puet ban..get pere..ginya, Ray?" Tanya Gunawan dengan mulut penuh makanan, sehingga tidak begitu jelas apa yang di ucapkan.
"Kalau mau ngomong, makanannya di telan dulu, Gunawan!" Ingat Raya.
"Kamu kenapa cepet banget balik ke hotel?" Tanya gunawan. "Aku belum selesai makannya!" Rengek Gunawan seperti anak kecil yang kehilangan permen.
"Aku masih ada yang harus di kerjakan, Gun!" Pamit Raya.
Raya meninggalkan meja makan itu tanpa mendengarkan keluhan teman lamanya yang seperti anak kecil.
"Raya, kamu jangan sampai nyesel ya kalau nanti kangen sama aku!" Teriak Gunawan dengan percaya dirinya.
"Nggak akan!" Balas Raya sambil melambaikan tangan, dan terus berjalan menuju hotel.
Bu Darsih dan Iqbal yang masih di rumah makan itu menemani Gunawan, hingga ia selesai dengan makanannya.
"Bu Darsih tinggal sama Raya?" Tanya Gunawan membuka obrolan dengan bu Darsih.
"Iya jelas, bu Darsih inikan satu-satunya orang yang selalu menjaga rumah dinas bu dokter!" Ucap bu Darsih dengan bangganya.
Bu Dasih memang sangat bangga sekali bisa bekerja dengan dokter-dokter yang mengabdi di puakesmas itu.
"Kalau gitu saya minta alamat rumahnya boleh?" Tanya Gunawan dengan raut muka menggodanya.
Gunawan mengeluarkan pena dan juga pena dari dalam saku celananya. Gunawan sudah menyiapkan ini sejak tadi.
Gunawan tahu, jika meminta alamat kepada Raya, ia tidak akan mendapat apapun juga.
Bu Darsih menyebutkan alamat rumah tempat tinghalnya bersama Raya di rumah dinas dekat puskesmas.
"Kala nomer ponsel bu?" Tanya Gunawan.
"Ibu nggak hafal nomer telpon ibu!" Ucap bu Dasih bingung.
"Sini ponselnya biar saya lihat sendiri!" Tawar Gunawan.
"Ibu tinggal di kamar!" Bu Dasih yang memang sering tidak membawa ponsel, melupakan ponselnya di dalam kamar hotel.
"Aduh, nanti kalau saya kesana terus nyasar gimana?" Tanya Gunawan memasang muka sedih.
"Gimana ya?" Tanya balik bu Dasih.
__ADS_1
"Nggak tahu bu, mana kalau ke sasar ilang di hutan lagi!" Keluh Gunawan.
Iqbal yang tidak tertarik dengan obrolan Gunawan dan bu Dasih, memilih untuk bermain games online di dalam ponselnya.
Ketika Iqbal baru saja mengeluarkan ponselnya dari saku celana, bu Dasih dengan semangat berteriak.
"Ah...ibu tahu kita bisa hubungan lewat man!" Ucap bu Dasih semangat.
"Apa...apa?" Tanya Gunawan semangat, seperti menemukan air di tengah padang pasir yang tandus dan gersang.
Bu Dasih melirik ponsel Iqbal yang sedang di mainkan oleh memilikinya itu.
Bu Dasih memberikan kode kepada Gunawan bahwa mereka bisa memakai ponsel Iqbal, untuk keperluan yang akan datang.
Gunawan yang mengikuti arah pandang bu Dasih, faham apa yang sedang di maksud bu Dasih. Dengan senyum lebar Gunawan mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum ke arah Iqbal.
"Kenapa?" Tanya Iqbal, yang sudah sadar bahwa bu Dasih dan juga Gunawan sedang memperhatikan dirinya.
Gunawan tidak menjawab pertanyaan dari Iqbal sama sekali. Gunawan hanya terus memansangi ponsel yang sedang di pegang oleh Iqbal.
"Kenapa sich?" Tanya Iqbal yang risih dengan tingkah Gunawan.
"Pinjem ponsel kamu, Bal!" Ucap bu Dasih, sambil tersenyum lebar.
"Buat apa?" Tanya Iqbal, sambil menurunkan ponselnya dari hadapannya.
"Mau buat hubungan sama nak gunawan!" Ucap bu Dasih.
"Bu Dasih kan punya ponsel sendiri!" Ucap Iqbal yang sedikit berat hati memberikan nomer ponselnya kepada Gunawan.
Iqbal dengan malas memberikan ponselnya kepada Gunawan, setelah mengeluarkan permainan dari ponsel itu.
Gunawan menerima ponsel itu dengan sangat bahagia. Lalu dengan cepat menyalin nomer Iqbal ke dalam ponselnya.
"Perjalanan dari sini ke desa kalian berapa lama?" Tanya Gunawan sambil menyerahkan ponselnya kepada Iqbal.
"Tidak begitu lama sebenarnya, jika jalannya lancar dan tidak rusak hanya sekitar 5 jam!" Ucap Iqbal, sejenak menanti nafas untuk melanjutkan penjelasannya.
"Lumayan juga ya?" Ucap Gunawan sambil memegangi sendoknya.
"Itu, kalau lancar ya!" Ingat Iqbal.
"Kalau nggak lancar?" Tanya Gunawan yang curiga, bahwa perjalanan menuju desa itu cukup memacu ardenalin.
"Tergantung!" Jawab Iqbal tidak jelas.
Iqbal kembali membuka ponselnya, untuk melanjutkan permainannya tadi.
"Jangan di gantung, nanti mati ini!" Sahut Gunawan sambil tertawa.
"Targantung ada mobil yang terjebak lumpur tidak, atau orang yang nyetir terbiasa atau tidak denga. medan yang akan kalian lewati!" Jelas Iqbal.
"Itu beneran bu Darsih?" Tanya Gunawan kepad bu Darsih. Gunawan meragukan penjelasan Iqbal, yang dalam pikiran Gunawan Iqbal hanya sedang menakut-nakutinya saja.
Bu Dasih hanya tersenyum menjawab pertanyaan Gunawan kepadanya.
"Ayo balik ke hotel bu, sebentar lagi kita harus berangkat!" Ajak Iqbal kepada bu Darsih, sambil berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
Bu Darsih ikut berdiri, dan mengerkori Iqbal.
"Bu!" Gunawan mengikuti bu Darsih, masih penasaran dengan jalanan menuju tempat tinggal Raya di puskesmas.
"Kenapa?" Tanya bu Dasih berjalan sedikit pelan di samping Gunawan.
"Itu yang di bilang sama si mahluk alien itu beneran?" Tanya Gunawan, sambil menujuk Iqbal yang di sebutnya alien.
"Alien?" Tanya bu Darsih bingung.
"Iya, itu!" Tunjuk Gunawan pada Iqbal yang sudah sedikit jauh dari mereka.
"O... Ya yang di bilang Iqbal bener. Kalau kamu mau masuk ke desa tepat kami, hati-hati banget!" Ucap bu Darsih.
"Sampai seserem itu?" Tanya Gunawan ragu.
"Sebenernya nggak serem juga, cuman kemaren pas ibu ber...!"
Belum selesai bu Darsih dengan kata-katanya, ponsel Gunawan berdering cukup nyaring.
Gunawan mengangkat telponnya dengan sedikit berbisik bicara dengan orang di sebrang sana.
"Iya, sabar sedikit dong, kamu juga belum sampai!" Ucap Gunawan.
....
"Iya, ini juga lagi aku usahakan!" Lanjut Gunawan.
.....
"Kamu kesini dulu ja, aku pasti bakal anterin kamu kemana pun ja!" Janji Gunawan pada orang di sebrang telpon.
.....
"Sabar...sabar.., nanti aku temenin kamu mengejar cinta kamu!" Janji Gunawan pada lawan bicaranya yang tidak tahu siapa dan entah berada dimana.
***
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (14 bab)
Brondong Meresahkan (14 bab)
__ADS_1