JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
bab 14 curhat


__ADS_3

Setelah selesai mendiskusikan masalah rencana sekolah di desa ini Yana dan Raya masuk ke kamar Raya. Yana membantu Raya mengganti bebat untuk membantu penyembuhan ligamen pada pergelangan kaki Raya.


" Ra, ini mau diganti atau kamu udah merasa mendingan?" tanya Yana ambil mengoleskan obat pereda nyeri.


" udah enakan sich, kayaknya udah bisa di pakai jalan juga ini!" jelas Raya sambil menggoyang-goyangkan pergelangan kakinya.


" beneran?" tanya Yana meyakinkan, karena dari kemaren Raya selalu bilang sudah sembuh.


" iya bu dokter..." kata Raya meyakinkan Yana.


" ya udah habis itu tidur langsung jangan keluar-keluar kamar lagi!" nasehat Yana sambil membantu Raya membersihkan tempat tidur.


" kamu thu baik banget ya, Yan! " puji Raya sambil mengelus dagunya sendiri.


" baru sadar kamu?" jawab Yana sambil merilik ke arah Raya.


" nggak gitu. aku jadi mikir ini!" jawab Raya "pantesan si dokter gila itu suka banget sama kamu" lanjut Raya lagi.


" maksud kamu siapa?" tanya Yana yang sedikit lemot masalah seperti ini.


" itu temen berantem kamu!" jelas Raya.


Yana yang mendengar itu sepontan mengambil bantal di samping Raya lalu memukul kepala Raya menggunakan bantal. "asem!" teriak Yana.


teriakan Yana terdengar sampai luar kamar Raya, otomatis Beni yang berada di luar langsung bertanya tidak berani masuk kedalam kamar perempuan. "kenapa Yan?" tanya Beni.


" nggak pa-pa, ada kecoak gede banget udah aku lempar bantal ini!" jelas Yana kepada Beni sambil melotot ke arah Raya.


sedangkan Raya yang melihat Yana malah tersenyum sambil berbisik " kan si pujaan hati kamu khawatir banget, padahal cuman teriak gitu doang!" ejek Raya, lalu menarik bantal yang di pegang Yana.


" o.. kirain ada apa!" sahut Beni, " jangan teriak-teriak uda malem, kalau taku panggil aku ja!" nasehat Beni karena jam yang sudah menunjukkan pukul 22.00 dan juga suasana desa yang sudah sunyi.


" kaget lihat kecoak gede banget nggak bisa di kontrol." jawab Yana. " nggak lagi dech, udah aku timpuk juga kok!"


setelah itu tidak terdengar lagi suara Beni dari luar sepertinya Beni sudah sibuk kembali dengan laporan-laporan kerja untuk bulan ini, mumpung lampu yang hanya hidup di malam hari ini dapat di manfaatkan sebaik mungkin.


" nasib jadi kecoak malam ini, padahal biasanya cuman jadi obat nyamuk orang yang sedang pacaran." sindir Raya.


" nggak usah sok polos, Ra!" kata Yana sambil ikut baring di sebelah Raya. " pacar kamu yang bikin kanu jatuh gimana?" tanya Yana.

__ADS_1


" pacar mana?" tanya Raya bingung, yang memang selama ini statusnya dan juga Rasyid bukan lah berpacaran, Rasyid hanya bilang suka lalu pergi jauh, hubungan yang mereka jalani pun hanya sebatas komunikasi biasa seperti dahulu ketika mereka berteman selama 6 tahun, berdiskusi dan juga bercerita biasa.


" yang selalu kamu tunggu telponnya itu!" jelas Yana.


" o..itu" Raya hanya ber'o' saja tanpa berniat menjelaskan.


" cuman 'o ' ja?" tanya Yana mulai emosi dan membalikkan badan ke arah Raya. "jadi?"


"jadi apa?" tanya Raya balik.


" jadi nggak mau cerita kisah mu dengan pujaan hatimu itu?" tanya Yana lagi


" dia temenku!" jelas Raya singkat.


" jadinya kamu terjebak friend zone?" tanya Yana kepo dengan kisah cinta Raya yang tidak ada satu orang pun di kampus tahu, karena Raya tidak pernah dekat dengan seorang pria dan hanya tersenyum jika ada yang mulai mengungkapkan cinta padanya. Senyum dan menolak secara halus, yang malah membuat pria-pria itu tegila-gila pada, atau mungkin tambah penasaran.


" bisa di bilang begitu!" jawab Raya cuek sambil menari selimut untuk menutupi tubuhnya.


" ganteng?" tanya Yana kepo.


Raya tidak menjawab pertanyaan Yana, dia mengambil Hp dan membuka galeri foto memperlihatkan fotonya bersama Rasyid sewaktu sekolah dulu ketika mereka menenangkan perlombaan debat bersama. " lihat sendiri ja!" perintah Raya malas.


" paket lengkap gimana?" tanya Raya bingung.


" ganteng, tinggi plus kalau di lihat dari foto kamu ini, dia pasti pinter karena kalian ikut lomba bareng!" jelas Yana.


" Dia ketua osis dari SMP sampai kami SMA" tambah Raya.


" wow." Yana tambah kagum dengan pria idaman Raya.


" ketua PASKIBRAKA" tambah Raya lagi.


" ketuanya bukan cuman anggota?" tanya Yana.


" pengibar untuk kantor provinsi 4 tahun berturut-turut." jelas Raya lagi.


" pantes!"


" pantes apa?" tanya Raya menaikkan alisnya ke arah Yana.

__ADS_1


" kamu kayak es batu pas di deketin cowok lain di kampus dulu!" jelas Yana.


" emang iya?" tanya Raya yang tidak merasa seperti itu.


" iya!" tegas Yana sambil melihat foto lain di hp Raya.


"kamu kenal aku waktu di kampus?" tanya Raya.


" kenal dong, siapa yang nggak kenal sama anak yang nolak ketua BEM kampus, padahal udah di tembak pas acara OSPEK kampus!" jawab Yana.


Raya yang mendengar itu hanya tersenyum. dia teringat waktu di kampus memang ada kejadian seperti itu, tapi jangan salahkan dia, karena sebenarnya Raya tidak kenal dengan ketua BEM itu, entah bagaimana dia bisa tiba-tiba menyatakan perasan pada Raya yang sedang membantu tim medis kampus.


" Dia udah lulus S2?" tanya Raya sambil melihat foto terakhir yang di kirim Rasyid.


" Iya, waktu aku jatuh dia kirim itu," jawab Raya menjelaskan.


" nggak tau!" Raya menaikkan bahunya.


" kok?"


" waktu lulus S1 dia kerja disana, terus lanjut S2.! jawab Raya.


" ceritain gimana kalian bisa kenal dan suka!" pinta Yana yang kepo dengan kisah cinta Raya.


" kita ketemu waktu MOS pas SMP, dia telat datang karena habis liburan dan nggak sempet ikut technical meeting, terus aku sempet sebel sama dia karena terlalu santai waktu itu." Raya berhenti sejenak lalu menarik nafas dan mengingat pertemuan pertama mereka yang menurut Raya itu sangat memalukan, karena dia jatuh cinta kepada orang yang sempat sangat tidak dia sukai.


"lanjut, Ra..!" pinta Yana sambil menggoyang-goyangkan lengan Raya.


" nggak taunya kami sekelompok waktu ospek, karena satu kelompok mau nggak mau kami harus berbagi kebutuhan yang dia nggak bawa. dan ternyata dia orangnya teliti banget, apa-apa disiapkan sedetail mungkin sampai kami yang satu kelompok sama dia cuman lihat ja juga udah aman." jelas Raya.


" gitu ja?" tanya Yana yang merasa cerita Raya terlalu lambat.


" mau di ceritain nggak?" jawab Raya cuek." kalau nggak, aku tidur ja ni!" ancam Raya.


" ceritalah!" rajuk Yana. "aku udah pasang posisi dengan senyaman mungkin ini" jelas Yana sambil memperbaiki posisinya.


" nanti lagi ja ya, males aku!" jawab Raya menarik selimut hingga menutupi kepala.


****

__ADS_1


kadang perempuan hanya butuh didengarkan untuk meringankan beban di hatinya.


__ADS_2