JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
bab 18 kejutan tak terduga


__ADS_3

Dengan sabar Raya mendengarkan keluhan seorang ibu yang anaknya sedang sakit, sudah 2 hari ini sang anak mengeluh perih di perut dan muntah berkali-kali. Raya memeriksa dan menanyakan beberapa hal kepada si anak, apa saja yang telah ia makan, serta awal mula rasa perih di perut terasa.


" adek, susah makan bu?" tanya Raya lembut, sambil mengusap rambut si anak.


" iya, kalau di suruh makan susah sekali dia ini, kadang saya harus acan dulu. padahal makanan tinggal makan ja di atas meja itu!" jawab sang ibu sambil memarahi sang anak yang memang susah makan.


" adek asam lambungnya tinggi," jelas Raya.


" asam lambung itu apa?" tanya sang ibu yang kurang faham kata-kata Raya.


" biasanya orang bilang sakit mag bu." jawab Raya dengan bahasa yang biasa orang pakai, karena kalau dia menjelaskan menggunakan bahasa medis pasti akan lebih sulit.


" o, iya dia di suruh makan ja susah!" jawab sang ibu lagi. " tapi tidak apa-apa kan?" tanyanya.


" belum parah bu, tapi harus minum obat, sama jangn malas makan ya!" pinta Raya .


" kamu dengar kata dokter, jangan malas makan. makan yang banyak !" marah sang ibu kepada anaknya.


" jangan terlalu banyak bu, makannya sedikit saja, tapi sering. misalnya 4 jam sekali makan, jangan sampai lambungnya kosong saja." jelas Raya, sambil menulis resep dan memberikannya kepada si ibu.


" harus 4 jam sekali dok?" tanya ibu itu lagi.


" kira-kira saja bu, yang penting tidak kosong perutnya.!" jelas Raya lagi." ini resepnya, bisa di ambil di depan ya bu!" jelas Raya memberikan resep.


" terimakasih dokter. kami permisi dulu!" pamitnya, sambil menggandeng tangan sang anak.


" sama-sama" jawab Raya sambil tersenyum.


setelah pasien terakhir keluar Raya melihat jam tangan yang sudah menunjukan jam dua belas lebih tiga puluh menit. para penghuni perutnya sudah berdemo meminta jatah makan. Raya keluar mencari temannya untuk bergantian makan. siapa tahu masih ada pasien yang datang ke puskesmas hari ini, karena walaupun jadwalnya hanya sampai jam satu, tapi bisa saja warga yang ingin berobat telat datang kesini, karena jarak rumah mereka yang cukup jauh.


" Yan, Ben.." panggil Raya kepada kedua temannya yang sedang berdiskusi di lorong depan ruangannya.


" kenapa?" Jawab Beni dan juga Raya serempak.


" pacaran teros...!" ejek Raya kepada kedua temannya.


" siapa yang pacaran Raya?" tanya Yana emosi.


" kamu!" jawab Raya cepat.


" nggak lihat ini udah bawa kertas kerjaan satu tumpuk kamu bilang kami pacaran?, otakmu sudah hilang ya?" ejek Yana.


" lagian kalau kami pacaran nggak ada urusan sama kamu!" jawab Beni.

__ADS_1


" ampun pasangan ini, sewot amat sich?" ucap Raya sambil berpura-pura mengelus dada agar di beri kesabaran.


" kamu kenapa?" tanya Yana yang melihat tingkah Raya mulai bikin emosi.


" laper..." keluh Raya.


" kalau lapar makan, Ra." ucap Beni menimpuk Raya menggunakan pena yang di pegangnya.


"makan yok." ajak Raya.


" kamu duluan ja Ra, didepan ada yang jualan makanan kayaknya!" jawab Yana.


" ish, males kayak jomblo!" jawab Raya.


" yakan emang jomblo." ejek Yana.


" kalian masih lama?" tanya Raya lagi.


" nggak juga, tapi takutnya ada warga yang datang lagi!" jelas Beni sambil memberikan catatan medis pasien ke Yana.


" oke, aku duluan ya!" pamit Raya sambil berlalu.


" oke" jawab Beni dan Yana serempak.


" boleh bu, mari" jawab Bidan tersebut.


Raya dan Bidan itu menyebrang jalan lalu masuk ke dalam warung yang tidak begitu luas itu, ketika mereka masuk kedalam, Raya tidak sengaja melihat mobil jeep memasuki area puskesmas. karena sudah ada yang menjaga Raya tidak begitu memperdulikannya.


" Bu dokter mau pesan apa?" tanya si Bidan.


" soto ja sama nasi." jawab Raya sambil mencari tempat duduk yang nyaman, dan menghidupkan kipas angin yang berada tepat di dekat tempat duduk yang Raya pilih.


"minumnya?" tanyanya lagi.


" air putih dingin ja, kak" jawab Raya.


" soto 2 seperti biasa ya bang, sama air putih dingin 2!" kata bidan itu sambil mengangkat 2 jari nya ke arah penjual tersebut.


" oke!" jawab sang penjual yang masih sibuk meracik makanan di gerobaknya.


Tidak ada obrolan yang begitu berarti sampai pesanan mereka diantar dan mereka makan dalam diam, hanya sesekali mereka menceritakan tentang pasien yang datang hari ini dan juga persedian obat yang ada di puskesmas.


" Kak, itu obat masih aman nggak?, kok kayaknya aku tadi lihat cuman tinggal sedikit. terus bisanya datang kapan?" tanya Raya.

__ADS_1


" biasanya datang 3 bulan sekali, bisa juga molor. kalau persedian habis ya biasanya di cukup-cukupin dulu ja bu!" jawab Bidan itu.


" terus kalau ada pasien yang butuh obat dan stoknya nggak ada gimana?" tanya Raya yang khawatir tentang keadaan yang seperti itu.


" biasanya sich mereka cari sendiri keluar, bisa ke kota kabupaten, atau ke provinsi, kadang mereka pesan dengan saudaranya yang ada di kota buat ngirim ke sini." jelas Bidan tersebut.


" ganteng banget thu orang" gumam bidan tersebut yang masih bisa di dengar Raya.


posisi bidan duduk di depan Raya, menghadap ke arah jalan, sedangkan Raya duduk membelakangi jalan. ' mungkin ada orang lewat ganteng banget kali ya' pikir Raya. tapi karena penasaran Raya bertanya ke Bidan itu, " lihat apa kak?"


" itu, Bu dokter cowok yang keluar dari puskesmas ganteng banget!" jawab bidan itu terkagum-kagum.


" inget bu suami sama anak 2 di rumah."


" kalau inget ya inget, tapi kalau kagum sama cowok ganteng di luar mah tetap nomer 1." jawa bidan itu sambil tertawa.


Raya yang cukup penasaran dengan orang yang di maksud sang bidan hendak melihat kebelakang, tapi gagal karna dia mendengar dering Hp yang berbunyi, jadi dia memilih untuk mengangkat telpon terlebih dahulu.


" ngapain coba Yana nelpon, kan dia tau aku di sini." gumam Raya, sambil memencet tombol hijau pada layar HPnya.


" ke.." belum selesai Raya bertanya di sebrang telpon Yana sudah berteriak heboh.


" am..pun Ra... ada cowok ganteng banget nyariin kamu..." teriak Yana memekakan telinga Raya.


" coba ngomongnya pelan-pelan maksudnya apa?" tanya Raya.


terdengar Yana menari nafas panjang. dan juga Beni berebut ponsel Yana lalu berbicara.


" itu tadi pas kamu keluar dari sini, ada orang nyariin kamu, kayaknya dia kenal banget sama kamu!" jelas Beni pelan.


" siapa ?" tanya Raya mengingat-ingat siapa yang akan mencarinya sampai kepelosok desa begini.


" namanya siapa, Yan?" tanya Beni ke Yana di sebrang telpon.


" Rasyid." jawab Yana.


" Rasyid." ulang Beni.


Raya yang mendengar nama itu agak syok, bukannya Rasyid masih di luar negri?, jadi kok bisa kesini?. banyak pemikiran Raya yang akhirnya tidak lagi mendengar pembicaraan dari sebrang telpon, dan mematikan telpon tersebut.


" Ay.." suara ini Raya sangat mengenalmu, suara yang sangat Raya rindukan beberapa tahun ini. Raya seperti tidak sanggup lagi untuk berbalik antara senabg dan juga tidak percaya.


***

__ADS_1


jarak dan waktu mungkin memisahkan kita, namun kenangan tentangmu masih melekat di hati.


__ADS_2