JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
33. Keluar


__ADS_3

"Semoga semua ini hanya pikiran burukku saja, semoga semua baik-baik saja!" Rapal Raya berulang-ulang dari dalam hatinya.


***


Raya keluar menemui bidan dan mantri yang bekerja di puskesmas tempat Raya mengabdi di daerah ini. Raya dengan sopan menyapa keduanya, yang memang jauh lebih berumur di bandingkan Raya. Sekitar akhir kepala 5.


Raya menjabat tangan sang bidan sambil tersenyum. Lalu di lanjutkan dengan menjabat tangan mantri.


"Duduk saja pak, bu!" Pinta Raya mempersilakan ke-dua tamunya untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Raya duduk di kursi kayu tepat berhadapan dengan kedua bidan dan mantri tersebut.


Tak lama setelah Raya duduk bu Darsih datang membawakan 3 gelas teh hangat menggunakan nampan lengkap dengan pendampingnya, yaitu bolu singkong yang di dapat dari sebelah rumah.


Singkong yang sengaja bu Darsih tanam sendiri di samping rumah dinas ini. Hanya memanfaatkan lahan yang ada dan waktu luang, bu Darsih menanam berbagai tanaman.


"Silakan dimakan pak, bu!" Tawar bu Darsih yang lalu berpamit untuk kembali masuk. "Saya tunggal dulu!"


"Iya bu Darsih!" Jawab keduanya serempak.


"Minum dulu pak, bu!" Tawar Raya sambil mengambil gelas minum yang berada di depannya, lalu sedikit meminumnya.


Kedua tamu Raya juga melakukan hal yang sama dengan Raya, meminum sedikit minuman yang telas di sediakan oleh sang tuan rumah.


"Ada apa bapak dan ibu mencari saya sampai kesini?" Tanya Raya sopan.


Bidan dan mantri itu saling tatap seperti mengisyaratkan siapa yang harus berbicara sekarang dengan kedua mata mereka.


"Begini bu..." Akhirnya bapak Mantri itupun berbicara, lalu menghela nafas sejenak. "Besok itu kita harus ambil stok obat ke kabupaten. Tapi, tidak ada satu orang pun di puskesmas yang bisa kesana." Jelasnya.


Raya mengeryitkan dahinya. " Bukan biasanya di antar oleh orang dari sana ya?" Tanya Raya heran.


Setahu Raya biasanya ketika ia mengabdi di daerah, stok obat selalu di antar ke puskesmas dengan petugas terkait. Kenapa ini harus di jemput.


"Tidak bu dokter!" Jawab mantri.


"Apa selalu seperti ini?" Tanya Raya yang merasa prosedurnya agak berbeda dari daerah tempat pengabdian yang dulu.


Raya berfikir apakah birokasi di setiap daerah berbeda-beda.


"Biasanya kami selalu seperti ini bu!" Sahut ibu bidan itu dengan suara lembut dan sopan.

__ADS_1


Raya tersenyum menanggapi jawaban sang bidan.


"O..oke, lalu kalau memang seperti itu, masalahnya apa?" Tanya Raya lagi yang merasa kalau itu bukan masalah, ketika memang seperti itu prosedurnya.


"Eemm...be.. begini bu.." Bapak mantri itu melirik sebentar kepada ibu bidan di sebelahnya agar beliau saja yang menjawab.


"Orang yang biasanya mengambil stok obat sedang cuti bu, anak perempuan beliau akan menikah 2 hari lagi!" Jelas ibu bidan dengan hati-hati.


"Lalu?" Tanya Raya lagi, menuntut lanjutan masalah yang sedang mereka hadapi.


"Beliau sudah izin pulang ke kampung halaman dari kemarin siang bu!" Lanjut bu bidan dengan lugas.


Raya mengusap wajahnya gusar. Dia benar-benar tidak bisa keluar dari desa ini ke kota. Raya lebih memilih melakukan puskesmas keliling menggunakan kapal motor kecil dari pada harus ke kota kabupaten.


"Tadi siang kami sudah menghubungi pihak terkait, tentang masalah ini." Jawab Mantri tersebut, menghela nafas sejenak.


"Lalu?" Tanya Raya.


Raya yang tidak begitu sabar, jika ia harus keluar dari desa ini, desa tempat persebunyianya.


"Orang sana minta dokter langsung yang harus mengambil stok obat da lainya kesana." Lanjut Mantri.


"Apa tidak ada solusi lain, atau orang lain saja yang kesana?" Tanya Raya mulai frustasi. "Sa...saya benar-benar tidak bisa!" Jelas Raya


Waktu pertama kali sampai di bandara kota ini, Raya tidak berfikir sama sekali untuk mengganti ataupun membeli handphone maupun kartu baru, karena dalam otak Raya hanyalah harus pergi sejauh yang dia bisa dan bersembunyi.


"Tadi sudah kami diskusikan, dan tidak dapat solusinya lain, selain itu!" Kata bu bidan.


"Selain itu, kalau kita tidak mengambil stok obat besok pagi, kita tidak ada persedian lagi di puskesmas bu dokter." Jelas mantri.


Raya terdiam cukup lama, berfikir dengan begitu gundah. Dia tidak bisa begitu egois dengan semuanya. Dia tidak bisa mementingkan dirinya sendiri dalam hal ini.


Raya berfikir, kalau dia dengan egoisnya tidak mau pergi kesana. Maka akan banyak orang yang harus dia korbankan. Lebih baik dia yang berkorban untuk semua warga disini.


"Biasanya berapa lama waktu tang di perlukan untuk pengambilan obat?" Tanya Raya mengalah pada akhirnya.


"Biasanya berangkat dari sini tengah hari sore bu dokter!" Jelas Bidan dengan hati-hati.


"Kenapa tengah hari sore?" Tanya Raya bingung.


"Jarak tempuh dari sini ke kota kabupaten sekitar 8 jam, kalau berangkat dari sini pagi pasti akan telat mengambil obat disana!" Jelas mantri. "Lalu harus menginap di hotel dekat dengan tempat pengambilan obat-obat, dan juga alat medis." Lanjutnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak berangkat malam saja?, untuk menghemat pengeluaran dan biaya operasional?" Tanya Raya.


"Idealnya memang seperti itu!" Tegas mantei. "Tapi, pada waktu malam sudah tidak ada kendaraan yang berani keluar melalui jalur desa tempat tinggal kita ibi, karena jalanan yang licin dan gelap. Menyulitkan pengemudi." Jelas mantri.


Kondisi jalanan antar desa yang memang sangat buruk, tidak ada pengemudi yang berani melalui jalanan itu ketika hari sudah mulai gelap.


"Oke, saya bisa saja pergi ke kota kabupaten. Tapi, saya butuh teman yang tahu tempat itu!" Jelas Raya mengajukan syarat.


Mereka terdiam sejenak berfikir, siapa yang bisa pergi menemani Raya ke kota kabupaten. Karna, tidak mungkin salah satu dari mereka yang pergi keluar bersama Raya.


Puskesmas tidak mungkin di tinggal begitu saja oleh lebih dari satu tenaga medis. Karena, bisa saja ada keadaan darurat yang terjadi kapan pun.


"Bagaimana kalau bu Darsih saja?" Tanya bu bidan.


"Beliau tahu tempatnya?" Tanya Raya.


"Beberapa kali beliau ikut pergi kesana dengan dokter sebelum ibu!" Kata bidan antusias.


" Baiklah, saya pergi dengan bu Darsih besok pagi!" Lugas Raya.


Raya setuju untuk keluar ke kota kabupaten dengan di temani oleh bu Darsih. Raya butuh orang yang tahu tempat ini.


Setelah mencapai kesepakatan itu, kedua tamu Raya berpamit pulang. Raya sendiri masuk kedalam dan memberi tahu bu Darsih prihal kebernangkatan mereka besok pagi.


***


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (12 bab)




Brondong Meresahkan (12 bab)


__ADS_1



__ADS_2