
Raya sedang menikmati sejuknya semilir angin menerpa wajahnya, sambil menatap langit biru di tepi tebing karang. Raya menggenggam hp mmiliknya yang sudah 1 bulan ini dia matikan.
Raya mematikan semua akses komunikasi dirinya dari orang-orang yang dia kenal. Raya hanya ingin menenangkan diri sejenak dari patah hati yang melanda.
Sesekali Raya mengusap layar HPnya, Raya ingin sekali menghubungi ibu dan ayahnya, untuk hanya sekedar mendengar suara kedua orang tuanya. Tapi, Raya masih belum sanggup untuk sekedar menghidupkan hpnya dan mendengar berita bahagia dari sahabatnya. Sahabat tercinta.
Pada detik-detik terakhir keberangkatan pesawat, Raya memilih untuk berbaik dan tidak jadi menaiki pesawat yang akan membawanya kembali ke kota asalnya.
flashback
"Ra, kamu yakin?" Berkali-kali Yana dan Beni menanyakan keputusan Raya yang mereka anggap gila.
"Yakin!" Jawab Raya tegas tanpa ada keraguan sedikitpun dalam wajahnya.
"Ra, kalau kamu ambil tawaran ini." Yana sejenak terdiam menatap Raya lekat. "Artinya kamu akan menghabiskan waktu yang lebih lama lagi di desa yang pasti akses apapun akan sangat sulit." Ingat Yana sambil menggenggam tangan Raya.
Raya memilih untuk kembali ke desa terpencil lain, yang sangat membutuhkan dokter. Bukan desa kemarin, Raya memilih desa yang lebih jauh, dengan tawar yang lebih lama.
"Yakin!" Raya menjawab tanpa keraguan sedikit pun dalam setiap ucapannya.
Raya hanya ingin sejenak saja menenangkan hatinya. menyusun kembali kepingan hatinya. menyelamtakan hati dari luka yang mungkin akan lebih menganga lebar.
"Ra, kalau kamu kembali ke kota kita bisa buat klinik sama-sama!" Tawar Beni sambil melirik Yana, agar Yana juga mau membantu membujuk Raya.
Raya hanya tersenyum menanggapi perkataan Beni. Lalu menoleh ke arah Yana.
"Ra kita bisa kerja di rumah sakit besar impian semua dokter di kota kita. Ayahku kenal derektur rumah sakit itu!" Jelas Yana antusias.
"Lalu?" Tanya Raya sarkas.
"Kita bisa minta bantuan dia untuk membawa kita masuk ke rumah sakit itu?" Jawab Yana tidak begitu yakin. Yana tahu Raya tidak akan tergiur dengan tawaran seperti iti.
"Kamu saja tidak yakin untuk melakukannya. Lalu kenapa kamu mengajak aku untuk ikut dengan kamu, kalau kamu sendiri juga belum tentu mau melakukan itu." Tanya Raya sambil tersenyum. Lalu menggenggam tangan Yana erat.
Raya menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan melalui genggaman tangannya kepada Yana.
Yana melirik Beni, ia meminta kepada Beni agar pergi sebentar. Yana ingin Raya bercerita alasannya alasan sebenarnya, kenapa dia memilih untuk tidak kembali.
Beni meminta izin pergi ke toilet sebentar. meninggalkan kedua wanita itu di ruang tunggu bandara kecil itu.
"Aku tahu kamu punya alasan yang kuat untuk pergi kesana!" Ucap Yana, berhenti sejenak untuk menarik nafas yang cukup panjang. Menetralkan emosinya.
" Tapi kamu belum sedikitpun berpamitan kepada orang tuamu!" Ingat Yana.
"Aku akan memberitahu mereka nanti. Dan aku bisa titip surat lewat kamu!" Ucap Raya sambil masih tersenyum menutupi lukanya.
"Untuk Rasyid juga?" Tanya Yana penuh selidik.
__ADS_1
"Mung...kin .....ti..dak!" Ucap Raya ragu.
"Sebenarnya kalian sedang ada masalah apa?" Tanya Yana penuh selidik.
"Kamu akan tahu nanti!" Ucap Raya masih senyum menghiasi wajahnya.
"Semua ini karena dia?" Tanya Yana sambil menarik Raya kedalam pelukkannya.
"Aku tidak akan banya bercerita!" Ucap Raya.
"Tapi nggak harus pergi, Ra!" Bujuk Yana sambil masih memeluk Raya erat.
Raya mengurai pelukannya dan Yana. Ia mengambil Hp di dalam tas kecil yang dia bawa. Membuka aplikasi chat yang tadi ia gunakan untuk bertukar pesan dengan sahabat lamanya yang akan menikah dengan Rasyid.
"Ini!" Raya menyodorkan Hp dalam genggamannya.
Yana menerima HP tersebut dengan bingung.
"Lalu apa kaitannya ini dengan kepergian kamu ke desa itu?" Tanya Yana mulai geram dengan teka-teki yang di buat oleh Raya.
"Dia temanku, yang juga sudah menyukai Rasyid dari zaman sekolah dulu." Ucap Raya menahan tangisnya.
"Lalu kenapa?" Tanya Yana dengan tidak sabar. "Biarkan saja kalau dia juga suka dengan Rasyid, itu bukan masalah!"
"Itu jadi masalah terbesarku sekarang!" Ucap Raya.
Raya tersenyum melihat ekspresi Yana. Lalu mengambil Hp dalam genggaman Yana. menunjukkan foto lain disana.
"Mereka datang berdua ke butik itu. Butik pengantin!" Jelas Raya singkat.
"Mereka akan menikah?" Tanya Yana syok.
"Sepertinya begitu!" Jelas Raya.
"Tapi masih bisa kamu gagalkan itu!" Yana mulai geram.
"Apalagi yang harus aku perjuangkan, Yana?" Tanya Raya pasrah.
"Cinta kamu Raya... Ka...mu harus memperjuangkan itu!" Ucap Yana penuh semangat, agar Raya mau mencoba sekali lagi saja.
"Dari awal memang sepertinya hanya aku yang mencintai dia. Dia sendiri hanya menggapku teman baik yang harus selalu dia lindungi!" Ucap Raya masih dengan senyum menghiasi bibirnya.
flashback end
Ketika Raya masih menikmati rasa sakitnya. menikmati momen yang terkenang dalam memori otaknya, dia di kagetkan dengan suara seorang yang memanggilnya.
"Bu dokter!" Panggil seorang wanita paruh baya berjalan dengan cepat menuju Raya. Wanita itu adalah Bu Ayu seorang Bidan dari daerah ini yang sudah cukup lama mengabdi di Puskesmas tempat Raya melanjutkan pengabdiannya.
__ADS_1
Mendengar panggilan itu Raya menoleh kebelakang, lalu berdiri menjauh dari batu karang yang tadi dia duduki. Raya menepuk-nepuk celana yang ia kenakan dari pasir yang menempel.
Sambil tersenyum Raya bertanya kepada ibu yang memanggilnya tadi.
"Kenapa?" Tanya Raya lembut.
"Itu di Puskesmas sudah ada pasien yang datang!" Jelas Bu Ayu sambil mengatur nafas.
Raya yang asik dengan pikirannya sendiri tidak sadar bahwa matahari sudah beranjak meninggi, menjauhi ufuk timur peraduan.
Raya berjalan turun dari tebing dengan berpegangan dengan kayu yang sengaja di buat untuk memudahkan orang-orang desa yang ingin menaiki ataupun turun dari tebing itu.
"Maaf ya bu, saya keasikan melamun!" Ucap Raya sambil menunduk malu.
"Ini belum waktu kerja, Bu dokter!" Jawab Bu Ayu sambil tersenyum.
"Emang jam berapa?" Tanya Raya sambil mengangkat tangannya melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Masih jam 7 lewat bu dokter!" Jawab Bu Ayu dengan menggandeng tangan Raya.
"Apa pasien gawat ya bu?" Tanya Raya sambil mepercepat langkahnya, agar bisa cepat sampai di puskesmas yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Raya menghabiskan waktu di tepi pantai.
"Tidak, Sepertinya mereka dari desa sebrang. Makanya mereka sampai pagi-pagi sekali!" Jelas Bu Ayu.
"Kok pagi-pagi?" Tanya Raya bingung.
"Karena perjalanannya cukup jauh. Mereka berangkat sore kemaren!" Jelas Bu Ayu.
Raya memasuki puskesmas sambil tersenyum ramah kepada keluarga yang akan berobat disana. Raya sengguh menikmati setiap momen keberadaannya di sini.
****
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (11 bab)
Brondong Meresahkan (11 bab)
__ADS_1