
"Raya sakit!" Teriak Rasyid sambil berlari mengejar Raya.
Raya berlari kearah belakang rumah sambil mengejek Rasyid yang berada di belakangnya.
"Wek!" Raya menjulurkan lidah sambil meletakkan kedua tangan di samping telinganya, lalu di gerak-gerakkan.
"Awas kamu, kalau sampai kena, Ay!" Teriak Rasyid mengancap Raya.
Rasyid seketika lupa dengan rasa cemburunya kepada Beni tadi.
Raya berlari ke arah pohon di belakang rumah, memanjat pohon tempat biasanya dia mencari sinyaldulu, sebelum pemasangan antena. Raya duduk pada bambu yang di susun rapi untuk menjadi tempat duduk diatas sana.
"Ay, ngapain kamu diatas?" Tanya Rasyid panik.
"Naik ja, Id!" Ajak Raya.
"Turun!" Perintah Rasyid.
"Kamu naik sini, lihat pemandangan sore dari sini bagus banget!" Ajak Raya lagi.
"Turun, nanti kamu jatuh." Bujuk Rasyid.
" Kamu naik dulu sini, baru aku turun!" Tantang Raya.
Rasyid akhirnya mengalah dan naik keatas pohon, duduk di samping Raya.
"Sudah, ayo turun!" Ucap Rasyid setelah baru saja duduk di samping Raya, tanpa melihat apapun.
Raya memegang kepala Rasyid dan mengarahkan wajah Rasyid menghadap pemandangan matahari terbenam di balik bukit hijau di depannya.
Rasyid terdiam sejenak melihat pemandangan yang begitu indah di balik desa sederhana ini.
"Itu gunung?" Tanya Rasyid.
"Bukan, kata mak ngah itu bukit!" Jelas Raya.
Raya tersenyum memandangi semburat jingga yang mulai membenamkan matahari di balik bukit yang berjajar rapi di cakrawala.
Sedang Rasyid malah hanya diam memandang Raya yang begitu cantik ketika tersenyum bahagia.
"Cantik!" Ucap Rasyid sampai bisa di dengar Raya.
"Iya, Cantik ya pemandangannya!" Sahut Raya.
"Kamu!" Jelas Rasyid.
"Hah?" Raya bingung, mengerjapkan matanya berulang kali.
"Kamu lebih cantik dari pada pemandangan itu!" Jelas Rasyid.
Rasyid tersenyum lalu menggegam tangan Raya lembut dan hati-hati. Lalu memandangi pemandangan yang tersedia di depannya.
Semburat merah muncul di kedua pipi Raya. Tapi, itu hanya sebentar. Raya teringat bahwa Rasyid akan segera menikah dengan temannya.
Raya mencoba menetralkan detak jantungnya. Lalu tersenyum untuk menutupi sakit di hatinya.
"Kamu baru sadar aku cantik, Id?" Tanya Raya.
Rasyid memandang Raya bingung. " Maksud kamu?" Tanya Rasyid.
"Aku mah emang udah cantik dari dulu. Kemana ja kamu baru sadar kalau aku cantik?" Tanya Raya percaya diri.
" Dasar PD boros!" Omel Rasyid.
Raya hanya tersenyum menanggapi omelan Rasyid.
"Ini tempat apa?" Tanya Rasyid yang baru tahu ada tamat ini.
"Dulu tempat aku cari sinyal!" Ucap Raya.
__ADS_1
"Perasan selama aku disini sinyal aman ja, nggak separah itu?" Tanya Rasyid bingung.
"Sekarang sudah ada antena di rumah kepala desa buat bantu sinyal, waktu aku jatuh dari sini mana ada sinyal kalau udah turun!" Ucap Raya panjang lebar.
"O....!" Rasyid hanya mmengucapkan o saja menanggapi Raya.
"Bulet!" Ucap Raya.
"Lonjong kok!" Bantah Rasyid.
"Bulat !"
"Coba lihat mulut ku ya, O!" Rasyid menyebut huruf O dengan membentuk bibir nya panjang.
Raya tertawa menanggapi candaan Rasyid.
"Besok aku pulang duluan ke Jakarta ya, Ay!" Pamit
Rasyid.
"Pesawatnya jam berapa?" Tanya Raya.
"Siang sekitar jam 2." Jelas Rasyid.
"Oke!" Ucap Raya.
" Kamu nggak mau nahan aku gitu?" Tanya Rasyid iseng.
"Terus kalau aku tahan, kamu akan tetap di sini?" Tanya Raya berharap Rasyid akan terus berada di sampingnya.
"Nggak!" Jawab Rasyid cepat.
"Kamu nggak pengen sama aku terus gitu?" Tanya Rasyid.
"Ngapain juga Aku sama kamu terus, Ay?" Ejek Rasyid sambil mengusap rambut Raya.
"Kamu nggak mau sama aku terus?" Tanya Raya menggoda.
"Bener juga?" Raya tersenyum.
"Udah cukup, ayo turun." Ajak Rasyid.
***
Pagi-pagi sekali sekitar jam 3 Rasyid bangun, bersiap-siap untuk berangkat pagi dari desa ini. Karena perjalanan yang akan dia tsmpuh cukup panjang.
Raya terbangun ketika mendengar suara orang berlalu-lalang di ruang tengah. Raya keluar kamar masih dengan muka bantal dan juga mengusap matanya pelan.
"Id, ngapain belum subuh gini udah berisik banget?" Tanya Raya sambil menguap.
Rasyid yang melihat tingkah Raya seperti anak kecil itu tersenyum gemas.
"Kamu inagst pesawat aku berangkat jam berapa?" Tanya Rasyid balik.
"Kan masih jam 2 siang!" Ucap Raya.
"Perjalanan dari sini ke bandara berapa jam?" Tanya Rasyid.
Raya mencoba mengingat-ingat berapa jam perjalanan dari desa ini ke bandara dan menghitungnya dengan kedua tangan, seperti anak kecil.
"8 jam?" Tanya Raya sambil mengacungkan kedua tangannya menunjukkan angka 8.
Rasyid masih memperhatikan Raya yang bingung dengan memainkan sepuluh jarinya.
"Jadi, kamu kumpulkan nyawa kamu dulu!" Ucap Rasyid sambil kembali memasukan laptopnya ke dalam tas ransel.
"Nyawaku udah kumpul kok, kalau belum kumpul aku masih tidur!" Ucap Raya sebal.
"Bener?" Tanya Rasyid menggoda Raya.
__ADS_1
"Iya!" Ucap Raya tegas.
"Jadi kenapa aku harus berangkat dari sini ke bandara pagi-pagi sekali?" Tanya Rasyid sambil tersenyum.
"Karena perjalanan jauh jadi kamu harus berangkat lebih awal?" Ucap Raya ragu seperti orang bingung.
Rasyid tersenyum, lalu berjalan mendekati Raya dan mengusap kepala Raya dengan sedikit kuat, karena gemas.
" Pinter!" Ucap Rasyid.
"Kalau aku nggak pinter, nggak bakal aku jadi dokter sekarang ini, Id!" Ucap Raya sambil cemberut.
"Iya, tahu!" Rasyid hanya menanggapi santai Raya.
"Id, mau sarapan nasi goreng nggak, biar Ay buatin?" Tanya Raya.
"Boleh!"
"Ay, buatin dulu ya!" Ucap Raya senang.
Ketika Raya sibuk dengan peralatan masaknya dan juga bumbu-bumbu di dapur, Rasyid masih tersenyum membaayangkan masa depannya nanti bersama calon istrinya. Dia yang bersiap pergi bekerja dan istri yang berkutat di dapur dengan segala peralatannya.
Setelah selesai dengan semua barangnya, Rasyid memasuki dapur dan melihat Daya yang sedang melelahkan nasi ke mangkuk besar.
"Banyak banget masaknya, Ay?" Tanya Rasyid.
"Buat sarapan Beni sama Yan sekalian, Id!" Jelas Raya.
"Kirain buat aku semua." Canda Rasyid.
" Kalau kamu bisa ngabisin nggak pa-pa, Id!" Tantang Raya.
"Kalian ngapain pagi-pagi gini udah sarapan ja?" Tanya Yana yang memasuki dapur bersama Beni.
"Kan Rasyid mau pulang ke Jakarta hari ini!" Jelas Raya.
"Subuh-subuh gini?" Tanya Beni.
" Iya, soalnya jadwal pesawatnya siang!" Jelas Raya.
"Kirain kamu ambil yang penerbangan sore!" Ucap Yana.
Yana duduk di sebelah Raya, dan langsung mengambil nasi goreng ke dalam piring.
"Cuci mula dulu!" Ucap Beni sambil menarik Yana pergi ke kamar mandi.
"Laper!" Ucap Yana manja.
Setelahnya mereka sarapan bersama sambil bercerita banyak hal yang akan mereka lakukan setelah nanti bertemu di Jakarta.
Rasyid pergi tepat pukul 04.00 sebelum shalat subuh.
****
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (10 bab)
Brondong Meresahkan (10 bab)
__ADS_1