
Raya memasuki puskesmas sambil tersenyum ramah kepada keluarga yang akan berobat disana. Raya sengguh menikmati setiap momen keberadaannya di sini.
***
Aku tahu...
Mencintaimu adalah kesalahan
Mungkin pula sebuah kelalaian
Atau bahkan sebuah kesakitan
Tapi...
Biarkan aku memeluk lukaku
Menikmati rasa sakitnya, hingga ku tak mampu
Aku menolak untuk melepaskanmu
Maaf...
Bila cintaku membuat kamu terhalang
Ku kira dulu kita sama-sama berjuang
Ternyata, aku hanya bayang-bayang
Aku tahu...
Semua ini menyakitkan
Kamu hanyalah sebuah bayangan
Namun, hati ini tidak dapat ku kendalikan
^^^^^^Naraya, 21 desember ....^^^^^^
Andai aku bisa untuk sekedar memilih pemilik hatiku, aku pasti akan memilih untuk menempatkan hatiku yang begitu rapuh ini pada orang yang pasti membalas cintaku, yang mau melihatku terus menerus tanpa henti.
Butiran bening satu persatu berjatuhan dari salah satu sudut mata Raya. Mengalir membasahi pipi sebelah kiri Raya. Hal itu, menayadarkan Raya dari lamunan panjang tentang kisah kasih tak sampai yang kini terhalang.
Kisah yang mungkin memang hanya dia yang memiliki rasa, kisah yang memang hanya dia yang berharap. Berharap pada seorang yang pasti akan berubah rasanya.
__ADS_1
Raya mengusap sudut matanya, menyeka sisa air mata yang terus mengalir disana.
"Sesakit inikah kisah cinta yang harus aku jalani, yang harus aku miliki?" Tanya Raya pada dirinya sendiri.
Raya memukul dada sebelah kirinya, untuk mengurangi rasa sakit dan sesak di dadanya.
Raya menutup buku cacatanya, meletakkan buku itu di samping bantal tempat tidurnya. Lalu berbaring menatap langit-langit kamar yang ia tempati.
"Aku Tahu Engkau masih ingin bercanda dengan kisah cintaku, Tuhan." Ucap Raya perih. "Tapi, aku tahu Tuhan, mungkin ini yang memang terbaik untukku, terimakasih."
Raya lalu mengubah posisi tidurnya menghadapi dinding kayu yang berada cukup jauh dari tempat tidurnya. Dinding yang sudah mulai lapuk, karena dimakan usia.
Rumah ini mungkin jauh dari kata layak menurut Raya dulu, ketika pertama kali datang kesini. Namun kini, tempat ini adalah satu-satunya yang bisa membuat Raya sedikit merasa tenang dan damai dalam rasa sunyi. Tempat bersembunyi paling aman yang bisa Raya pikirkan.
Tempat yang Raya gunakan untuk besembunyi dari semua hal tentang cinta tak sampainya. Tentang rasa sakit pada cinta pertamanya, yang tak mungkin akan tergapai. Tentang cinta yang awalnya ia pikir akan ada harapan yang begitu nyata.
"Kalau memang tak memiliki rasa, kenapa harus kau datangi aku hingga peloksok negri ini?" Tanya Raya pada angin malam yang berhembus lembut, dan dingin yang mulai menusuk hingga tulang.
Raya kembali mengambil buku diarynya. Lalu memeluk erat buku tersebut dengan air mata yang terus mengalir dari kedua sudut pipinya.
"Ka...kalau akhirnya memang seperti ini, kenapa harus kau beri aku harapan setinggi langit?" Monolog Raya.
Raya mencoba mengalihkan rasa sesaknya dengan menatap langit-langit kamarnya yang langsung dapat melihat genting tanah liat yang di susun dengan begitu rapih, dengan pandangan mata buram, di penuhi oleh air mata yang menggenang.
"Tok, tok...tok" Ketukan di pintu menyadarkan Raya dari gejolak pikirannya sendiri yang begitu rumit.
"Dok!" Seru orang dari luar kamar yang di tempati Raya.
"Masuk ja bu, pintu belum saya kunci!" Pinta Raya setelah mengenali siapa pemilik suara di luar sana.
Tidak berapa lama daun pintu yang memang sudah sedikit rapuh itu terbuka sedikit demi sedikit. "Cit...cit.." Suara daun pintu yang memang sudah harus di beri pelumas, karena terlalu berisik.
Ketika pintu terbuka disana memperlihatkan seorang wanita paruh baya sekitar awal 50an. Namanya ibu Darsih.
Beliau seorang perantau dari daerah jawa yang ikut transmigrasi sekitar tahun 90-an ketika krisis moneter melanda dunia, dan beribas ke ekonomi negri yang merosot, serta gejolak isu yang begitu kental.
Hal itu, membuat keluga ibu Darsih harus pindah ke desa ini mengikuti program transmigrasi dari pemerintah, untuk terus bertahan hidup.
"Kenapa bu?" Tanya Raya lembut.
Sambil berjalan menghampiri bu Darsih yang sudah masuk ke kamar, Raya sesekali masih mengusap matanya agar tak terlihat terlalu sembab, karena akhir-akhir ini dia terlalu sering menangis. Menangisi sesuatu yang pasti sedang berbahagia dalam hidupnya.
"Kenapa matanya neng?" Tanya bu Darsih curiga dengan tingkah Raya yang terus mengusap matanya.
__ADS_1
Bu Darsih sudah menganggap Raya seperti anak perempuan sendiri. Karena Raya memang tidak memberikan batasan kepada bu Darsih, dan kebetulan bu Darsih tidak memiliki anak perempuan. Serta anak-anaknya memilih untuk menetap di tempat yang jauh darinya.
Raya tersenyum sambil menggelengkan kepala menjawab pertanyaan bu Darsih. Raya tidak ingin bercerita kepada siapapun, takut kalau semua ini malah akan menyakiti hatinya sendiri, dan membuat air matanya terus mengalir.
Raya takut, ketika nanti dia bercerita, maka air matanya akan terus mengalir deras dan malah akan membuatnya sakit lebih dalam lagi.
"Kalau ada masalah cerita ja neng, biar lega!" Ingat bu Darsih sambil menyentuh pundak Raya lembut, untuk memberikan Raya kekuatan.
Raya menggelangkan kepalanya. "Tidak ada bu, hanya sakit mata saja!" Jelas Raya.
"Kalau ada masalah cerita aja, jangan di pendam sendiri biar lega!" Ingat bu Darsih.
"Ibu tadi ke sini ada apa ya?" Tanya Raya mengalihkan pertanyaan bu Darsih.
"O, iya... sampai lupa ibu!" Ucap bu Darsih sambil menepuk jidatnya sendiri. " Di depan ada Bu bidan sama pak mantri. Katanya ada yang perlu di omongin sama Bu dokter!" Jelas bu Darsih panjang lebar.
"O... Di suruh tunggu sebentar ya bu, Raya ganti baju dulu, Nggak enak pakai baju begini!" Ucap Raya sambil menunjukkan bajunya yang hanya sebuah daster sederhana dan cukup terbuka, jika harus bertemu dengan orang luar.
"Siap komandan!" Ucap bu Darsih sambil mengangkat tangannya, membuat sikap hormat.
"Saya dokter bu, bukan polisi atau tentara!" Ucap Raya bercanda.
"Komandan Dokter!" Ucap bu Darsih sambil berlalu pergi.
Raya sudah selesai berganti baju. Naman, Raya ragu untuk keluar dari kamar ini. Raya merasa ketika dia keluar dari tempat ini, pasti ada kabar yang akan membuatnya sangat frustasi.
"Semoga semua ini hanya pikiran burukku saja, semoga semua baik-baik saja!" Rapal Raya berulang-ulang dari dalam hatinya.
***
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (12 bab)
Brondong Meresahkan (12 bab)
__ADS_1