
Raya kembali ke Puskesmas dengan senyum yang masih mengembang di kedua sudut bibirnya. Raya sangat bahagia bisa bertemu Rasyid kembali setelah sekian lama tidak berjumpa dengan sahabat sekaligus cinta pertamanya. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin meloncat keluar sangking bahagianya.
" cie...yang pujaan hati udah datang!" goda Yana sambil bersiul-siul, membuat Raya yang mendengar itu langsung mencoba menormalkan expresi wajahnya.
" apaan sich?" tanya Raya jutek, yang sebenarnya tidak bisa menutupi senyum yang di sembunyikan Raya.
" jadi itu cinta pacar kamu Ra?" tanya Beni penasaran.
" bu..kan!" jawab Raya cepat.
" kalau bukan, buat aku ja ya Ra?" goda Yana sambil mencolek dagu Raya.
" eh..kok gitu?" tanya Beni agak emosi.
" marahin ja Ben!" kata Raya mendukung Beni.
" lah emang kenapa?" tantang Yana.
" ya kan kamu sama aku Yana ku sayang!" rayu Beni sambil ingin memeluk Yana, yang malah mendapat sentilan di dahinya.
" kamu kok disini Ra?" tanya Yana yang sadar kalau Raya tidak kembali bersama Rasyid.
" la aku kan mau kerja?" jawab Raya cuek.
" eh, kamu izin ja!" jelas Yana antusias.
" kok gitu?" Raya tidak mengerti pikiran Yanan yang malah menyuruhnya izin, padahal hanya tinggal sebentar lagi mereka akan tutup.
" pacaran dulu Ra, udah lama nggak ketemu juga!" jelas Yana dengan antusias. sampai membuat beberapa staf di puskesmas itu berkumpul disana.
"pacaran apaan sich?" jawab Raya sebal. Raya sudah dibuat malu oleh Rasyid, sekarang Yana menambah lagi daftar hal menyebalkan.
Ketika mereka masih berdebat menyuruh Raya untuk izin saja siang ini, sampai mereka akan membuat Raya tetap masuk full asal pergi dengan cowok ganteng yang menggemparkan seisi puskesmas itu. Rasyid datang merangkul Raya sambil menyapa semua orang yang ada disana.
" hai, semua!" ucap Rasyid sambil melambaikan tangan ke arah semua orang.
" Bu dokter kenalin pacarnya!" kata seorang staf administrasi disana.
" Rasyid" ucap Rasyid sambil mengulurkan tangan ke arah beberapa orang disana.
" pantes bu dokter nggak mau sama pak camat, orang pacarnya udah kayak artis, mulus, bening gini" celetuk kak Mala sedikit berbisik ke arah Yana.
"bukan pacar!" ucap Raya malas, sambil berlalu pergi masuk ke ruang praktiknya.
" kalau bukan pacar kamu, buat aku ja ya Ra!" teriak Yana sambil tersenyum menggoda Raya.
" kalau dia mau nggak pa-pa!" ujar Raya sambil melempar pena ke arah Yana.
__ADS_1
Rasyid mengambil pena yang Raya lempar dan izin kepada yang lain untuk masuk ke ruang Raya. karena siang ini mereka semua mengalihkan pasien ke Beni dan juga Yana.
" Ay...kangen!" ucap Rasyid sambil meletakkan pena di atas meja Raya.
" Id jijik ya aku lihat kamu ngegombal nggak jelas gitu..." ujar Raya merinding, karena lebih dari 10 tahun Raya mengenal Rasyid, dia tidak pernah melihat Rasyid seperti itu, biasanya Rasyid akan stay cool, dan hanya membuat orang bingung dengan tingkahnya.
" aku peluk kamu boleh nggak sich?" tanya Rasyid meminta izin memeluk Raya dengan muka datarnya.
" hah?" Raya bingung.
" aku pengen peluk kamu boleh nggak?" tanya Rasyid lagi.
" nggak!" jawab Raya cepat. 'hanya bertemu dan di goda saja Raya sudah seperti terkena serangan jantung, apalagi kalau sampai Rasyid memeluknya, bisa mati muda dia.' pikir Raya was-was.
Rasyid tersenyum mendengar jawaban Raya, wanita ini masih Raya yang di kenalnya dulu.
" cincin kamu mana?" tanya Rasyid yang tidak melihat cincin di jari Raya.
" cincin apa?" tanya Raya balik.
Rasyid mengangkat tangannya menunjukkan cincin di jari manisnya. cincin yang sama dengan cincin yang Rasyid pasangankan di jari Raya 5 tahun lalu.
" jadi beneran sepasang?" tanya Raya tidak percaya.
" iya, punya kamu mana?" tanya Rasyid lagi.
" kok nggak dipakai?" tanya Rasyid.
" kegedean!" jawab Raya.
Rasyid menyentil jidat Raya gemas." kan bisa di kecilin Rayaku..!" jelas Rasyid, membantu Raya melepas kalung dan mengambil cincin itu, lalu memaksakan kalung itu lagi.
" masak?" tanya Raya ragu.
" gini ja lho!" jelas Rasyid sambil mengecilkan cincin untuk Raya.
" hehehe" Raya hanya tertawa untuk menutupi kegugupannya.
" sini tanganny!" pinta Rasyid.
Raya memberikan tangannya lau Rasyid memakaikan cincin itu di jari manis Raya. " kan cantik kalau kayak gini!" ucap Rasyid sambil mengelus tangan Raya. kelakuan Rasyid itu membuat Raya seperti tersengat aliran listrik berjuta volt, sangking terkejutnya. ketika Raya hendak menarik tangannya untuk menetralkan degup jantung yang kian ingin keluar daro tempatnya. Rasyid dengan sengaja menarik Raya ke dalam pelulanya.
Rasyid memeluk Raya dengan erat hingga Raya kebingungan dan juga kaget, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.
" Id, lepas!" ucap Raya setelah beberapa menit Rasyid tak berniat melepaskan pelukannya.
" isi stok dulu, Ay udah lima tahun ini!" jawab Rasyid masih memeluk Raya erat.
__ADS_1
" aku nggak bisa nafas, Id!" jelas Raya yang sejak tadi menahan nafasnya, ketika dipeluk oleh Rasyid.
" nafas ja,Ay nggak ada yang ngelarang!" ucap Rasyid cuek. Rasyid tahu Raya menahan nafasnya karena gerogi, Rasyid hanya tersenyum melihat tingkah lucu Raya, yang akan menahan nafas ketika dia syok, ataupun gerogi.
" nggak bisa, Id!" jawab Raya seprti orang sesak nafas.
"maaf!" ucapa Rasyid sambil melepaskan pelukannya. tersenyum melihat wajah Raya yang memerah karena menahan nafas dan juga gerogi.
Raya seketika lemas dan hampir jatuh ketika pelukan Rasyid benar-benar lepas.
" kamu kenapa?" tanya Rasyid menggoda Raya, sambil menangkap Raya yang hampir jatuh.
" kakiku baru sembuh, kemaren jatuh dari pohon!" jawab Raya membela diri. menyembunyikan Rasa gugupnya.
" coba lihat!" ucap Rasyid sambil berjongkok, melihat pergelangan kaki Raya.
" bukan yang itu, Id!" ucap Raya sambil mengulurkan kakinya yang sakit ke arah Rasyid.
" udah di obatikan?" tanya Rasyid cemas.
Raya hanya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Rasyid.
" masih sakit?" tanya Rasyid lagi sambil melihat pergelangan kaki Raya.
Raya mengangguk lagi, sambil memasang muka sedih dan sakit.
" kok bisa sich Ai?" tanya Rasyid lagi khawatir.
" cari sinyal!" jawab Raya.
" kamu kalau nelpon aku harus manjat pohon?" tanya Rasyid sedikit kaget.
" iya.." jawab raya sambil mengangguk.
" kata kamu aman, kalau tahu gini aku mendingan nggak telpon kamu Ay!" ucap Rasyid menahan emosinya.
" tapi kan aku kangen!" ucap Raya seperti anak kecil yang tidak di beri permen.
Rasyid lalu berdiri dan memeluk Raya lagi dengan erat, membenamkan kepal Raya di dadanya.
" aku nggak mau tahu, selesai tugas dari sini, kamu keluar ja!" ucap Rasyid tegas.
" kok gitu sich, Id?" tanya Raya tidak terima.
Rasyid hanya diam tidak menjawab pertanyaan Raya masih terus memeluknya dengan erat, dan mengelus kepala Raya lembut, sambil mencium puncak kepala Raya dengan penuh rasa rindu yang mendalam.
***
__ADS_1
terkadang pelukan sejenak, dapat mengobati rindu yang begitu dalam.