
Pagi-pagi sekali Rasyid sudah sibuk dengan berkas-berkas untuk sekolah, yang telah dia selesaikan semalam penuh. Rasyid juga menerima telpon dari salah satu temannya dari Jakarta. Rasyid menerima telpon di teras rumah, karena disana sinyal lebih bagus daripada di dalam.
Raya yang sedang menyapu ruang depan yang tidak jauh dari teras tempat Rasyid menelpon, tidak sengaja mendengar pembicaraan Rasyid dengan orang di sebrang telpon sana.
"Emang nggak bisa kamu urus dulu, Han?" Tanya Rasyid dengan sedikit gusar. "Tolonglah Han!" Rasyid memelas.
'Han siapa?, bukan Hani kan' Pikir Raya dalam hati.
....
Rasyid berdiam cukup lama, sepertinya sedang mendengarkan penjelasan orang dari sebrang telpon sana.
"Iya aku tahu han itu acara lamaran Aku sama ..."
Belum sempat Rasyid menyelesaikan kata-katanya kepala sekolah datang untuk mengambil berkas yang di kerjakan Rasyid tadi malam.
"Assalamualaikum.."
"Wa'laikum salam" Jawab Rasyid sambil menyambut kepala sekolah tersebut.
Rasyid menyalami kepala sekolah itu, lalu meminta izin untuk menyelesaikan telponya sebentar.
"Nanti aku telpon lagi ya Han!" Ucap Rasyid sedikit pelan.
...
"Iya Hani cantik, yang baik hati!" Tekan Rasyid.
Raya yang masih disana dapat mendengar jelas orang yang di telpon oleh Rasyid adalah Hani, teman mereka. Dalam pendengaran Raya kata-kata Rasyid seperti di ucapkan penuh perasaan dan rayuan.
Raya mencoba menerka semua kata-kata Rasyid secara utuh. Rasyid akan tunangan kemungkinan dengan Hani, karena Rasyid sedang membahas masalah itu dengan Hani. Lalu kenapa Rasyid menemuinya jauh-jauh kesini bila dia akan menikah dengan Hani. Kenapa dia harus memberikan harapan kepada Raya.
Raya meremas gagang sapu yang sedang di pakai untuk menyapu.
"Ai, kok ngelamun?" Tanya Rasyid ketika masuk kedalam rumah untuk mengambil berkas-berkas yang diperlukan kepala sekolah.
" Ehm, nggak pa-pa!" Ucap Raya.
"Ya udah aku ke dalam dulu ya!" Ucap Rasyid sambil mengusap kepala Raya.
Raya yang mendapat perlakuan seperti itu dari Rasyid malah meneteskan air mata. Raya lalu menyerahkan sapu yang di pegangnya kepada Yana yang baru saja keluar dari kamar.
" Ra, mau kemana?" Teriak Yana yang melihat Raya berjalan kebelakang rumah.
"Kamar mandi!" Jawab Raya sambil berlari menjauh menahan tangis.
"Kenapa?" Tanya Rasyid yang baru keluar membawa map di tangannya.
"Itu Raya!"
"Kenapa?" Ulang Rasyid.
"Nggak tau, sakit perut kali!" Jawab Yana cuek melanjutkan menyapu ruang depan.
Rasyid yang melihat itu mengerutkan keningnya, merasa heran dengan tingkah Raya yang cukup aneh dari dia masuk kedalam rumah barusan.
'Mungkin sedang nggak enak badan' Pikir Rasyid.
Raya masuk ke kamar mandi lalu membasuh mukanya agar tidak terlihat sebab. Raya memukul dadanya yang terasa sesak, air mata kembali mengalir deras dari sudut matanya. Raya sesegukan menahan sakit di dadanya.
__ADS_1
"Kamu maunya apa sih, Id?" Tanya Raya pada dirinya sendiri, sambil meremas baju di depan dadanya.
"Kalau emang mau tunangan sama orang lain ngapain kesini?" Ucap Raya pilu.
"Ra, kamu ngapain didalam, masih lama nggak?" Tanya Beni dari luar sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar.
"Ben...tar!" Ucap Raya masih menahan tangis.
"Cepet, aku kebelet!" Ucap Beni sambil menahan sakit perut.
"I..ya!"
Raya lalu cepat-cepat membasuh mukanya dengan air, lalu mencoba menetralkan nafasnya agar tidak terlalu terlihat. Raya keluar dalam keadaan yang tidak terlalu nampak habis menangis.
Beni dengan cepat masuk kamar mandi hingga tidak sengaja menyenggol Raya hingga jatuh. Beni yang tidak sadar telah membuat Raya terjatuh meninggalkan Raya begitu saja.
Raya yang memang sedang menahan tangis sadari tadi, tidak bisa lagi membendung tangisnya yang pecah seketika.
Yana yang berada di dapur untuk memasak mendengar Raya menangis menghampiri Raya cemas.
"Ra kamu kenapa bisa jatuh begini?" Tanya Yana sambil menolong Raya untuk berdiri.
"Be...e...ni ja...a..ha..t!" Ucap Raya sambil sesegukan.
Raya yang memang sedang patah hati seperti tidak mau berdiri menjadi berat untuk di angkat Yana sendirian.
"Ai, kamu kenapa?" Tanya Rasyid yang berlari kebelakang mendengar tangis Raya.
Raya tidak memperduliakan pertanyaan Rasyid, malah bertambah keras menangis. Melihat Rasyid yang seperti begitu perduli kepada malah membuat Raya semakin sesak.
"Jatuh gara-gara Beni!" Ucap Yana.
"Terus Beni nya kemana?" Tanya Rasyid lagi.
"Di dalam kamar mandi kali!" Ucap Yana.
Rasyid berlalu untuk mencapai Beni. Sedang Yana memeriksa kaki Raya yang tidak ada luka sama sekali.
"Yang sakit mana, Ra?" Tanya Yana.
"Si...ni!" Ucap Raya menunjuk dadanya.
Yana yang melihat itu mengerutkan keningnya. 'pasti ada yang salah sama ini orang' Pikir yana.
"Kayaknya tadi jatuhnya duduk!" Ucap Yana.
"Ya...na ja....h..at!" Ucap Raya sesegukan.
Beni masuk ke dapur bersama dengan Rasyid dengan tampang bingung melihat Raya menangis sesegukan.
"Kamu apain?" Tanya Yana menjewer telinga Rasyid.
"Nggak aku apa-apain, sumpah!" Ucap Beni sambil membentuk huruf v dengan tangannya.
"Terus kenapa nggak keluar waktu denger dia nangis?" Tanya Yana.
" Pakai ini!" Jelas Beni menunjukkan headset yang tersambung dengan Hpnya.
Rasyid berjongkok di depan Raya menanyakan mana yang sakit.
__ADS_1
"Mana yang sakit, Ai?" Tanya Rasyid pelan sambil menggenggam tangan Raya lembut.
Raya tidak menjawab hanya menggelengkan kepala pelan.
"Yakin?" Tanya Beni yang juga ikut khawatir.
Raya hanya menganggukkan kepala saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Aku cek di dalam ja ya, siapa tahu ada yang terbentur!" Saran Yana.
Raya hanya kembali menganggukkan kepala saja.
"Itu cewekmu kesambet kali bukan sakit karena jatuh, jadi aneh gitu!" Bisik Beni kepada Rasyid yang masih bisa di dengar oleh Raya juga Yana.
"Nggak usah kumat ngacoknya!" Hardik Yana sambil melempar sendok yang kebetulan dekat dengan jangkaun Yana.
Raya di papah oleh Yana menuju kamar. Setelah berada didalam kamar Yana mengunci pintu kamar agar 2 orang laki-laki di luar sana tidak bisa menguping pembicaraan mereka.
Yana hanya memeluk Raya selama lebih dari 20 menit, agar Raya dapat mengeluarkan semua tangis dan juga gundahnya. Setelah Raya sudah tidak menangis kencang lagi, Yana baru bertanya apa yang terjadi.
"Kamu sebenarnya kenapa, Ra?" Tanya Yana sambil mengusap rambut Raya.
Raya menggelengkan kepala sambil kembali memeluk Yana erat, dia hanya buruh tempat untuk menangis.
"Terus nanti aku harus ngomong apa ke mereka berdua kalau kamu nggak mau ngomong?" Tanya Yana lembut seperti ibu yang sedang menasehati anaknya.
Raya hanya diam seribu bahasa dengan air mata yang masih terus membasahi kedua pipinya. Dan hanya memegangi dada sambil sesekali memukulinya.
"Kamu sakit hati sama Beni karena jatuh tapi di tinggal pergi?" Tanya Yana lagi.
Raya hanya menggelengkan kepala saja.
"Kalau kamu nggak mau cerita nggak pa-pa, Ra. Tapi, kamu jangan nagis terus. Nanti aku bilang ja kaki kamu sakit lagi karena jatuh." Ucap Yana menenangkan
Raya kembali memeluk Yana dengan erat, seperti mengucapkan terima kasih.
***
Terkadang wanita hanya butuh menumpahkan air matanya sejenak saja, untuk menyelesaikan semua masalahnya.
***
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (7 bab)
Brondong Meresahkan (7 bab)
__ADS_1