JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
bab 30. perjalanan pulang


__ADS_3

Raya menatap keluar jendela mobil yang melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan yang di penuhi oleh truk-truk tambang batu bara, untuk menghantarkan mereka kebandara. Raya terus saja memandangi ponsel dalam genggamannya, yang tidak juga menunjukkan tanda ada satupun pesan masuk.


"Perasaan dari kemaren di lihatin terus itu Hp, kenapa?" Tanya Yana yang duduk tepat di belakang supir mobil, di samping Raya.


Yana tahu Raya pasti menunggu telpon dari Rasyid yang sudah pulang ke Jakarta terlebih dahulu. Namun, Rasyid tidak sedikitpun memberi kabar kepada Raya.


Raya hanya menggeleng menanggapi Yana. Lalu Raya memasukan ponsel genggamnya ke dalam tas selempang yang berada di pangkuannya.


"Kalau kangen telpon, aja Ra!" Usul Yana.


"Kangen siapa?" Tanya Raya.


"Siapa ja yang kamu kangenin!" Yana tersenyum sambil menurun naikkan alisnya.


"Nggak ada!" Sentak Raya.


"Kamu, kangen sama Rasyid!" Ucap Yana santai.


"Siapa bilang?" Tanya Raya.


"Aku tadi baru saja bilang kalau 'kamu kangen sama Rasyid' kan?" Tegas Yana.


Raya yang sedang tidak baik-baik saja, memilih untuk memalingkan muka dari Yana. Baru saja Raya hendak memejamkan mata, dia mendengar notifikasi pesan masuk dari dalam tasnya.


Raya cepat-cepat mengambil ponselnya, berharap itu pesan dari Rasyid. Raya kemarin sudah mengabari Rasyid bahwa ia akan pulang hari ini. Namun, sampai sekarang pesan itu tak kunjung di baca.


Setelah membuka ponselnya raut wajah Raya berubah kecewa. Itu bukan pesan dari Rasyid. Namun, malah nama Hani tertera disana.


'Untuk apa Hani menghubungiku' Pikir Raya mengerutkan keningnya. Pasalnya jarang sekali Hani menghubungi dirinya setelah mereka berpisah sewaktu SMA dulu. Mungkin hanya hitungan jari saja.


"Siapa Ra?, Rasyid ya?" Tanya Yana yang melihat Raya begitu semangat membuka pesan dari ponselnya.


"Bukan. Temen!" Jawab Raya singkat.


Raya membuka pesan dari Hani yang mengirimkan beberapa foto gaun pernikahan yang begitu cantik kepada Raya. Raut wajah Raya seketika berubah sedih. Gaun-gaun itu sangat manis menurut Raya.


Lalu panggilan masuk sebelum Raya sempat membalas pesan dari Hani.


"Raya tolong pilih gaun yang paling bagus menurut kamu!" Ucap Hani sebelum Raya sempat mengucapkan salam.


"Han, semuanya bagus kok. Lanjut nanti ja ya!" Ucap Raya pelan.


"Pilih satu ja yang menurut kamu paling bagus!" Pinta Hani.


Raya menarik nafas panjang, memejamkan mata sejenak. Lalu melihat kembali foto-foto gaun yang telah Hani kirimkan padanya tadi.


"Yang kamu kirim pertama itu yang paling bagus menurutku!" Ucap Raya akhirnya.


"Selera kamu emang sama persis kayak aku ya, Ra!" Ucap Hani antusias.


"Aku tutup dulu ya?" Pinta Raya yang masih menetralkan detak jantungnya.


"Emang kamu lagi sibuk?" Tanya Hani penasaran.


"Aku lagi di jalan!" Jawab Raya.


"Kamu mau pulang?" Hani antusias.


"Iya, i.." Belum sempat Raya menyelesaikan ucapannya sudah di potong oleh Hani.

__ADS_1


"Syukur banget kamu pulang, jadi aku nggak perlu repot-repot lagi nanti!" Ucap Hani senang.


"Maksudnya gimana?" Tanya Raya bingung.


"Han, maaf telat ya!" Dari sebrang sana terdengar suara Rasyid yang sepertinya baru saja tiba di tempat Hani.


"Kamu ya!"


"Ada urusan penting di kantor tadi. Kamu lagi telpon siapa?" Tanya Rasyid.


Raya masih mendengarkan percakapan mereka. Rasyid sedang sibuk dengan semua persiapan pertunangan mereka. 'Jadi dia tidak ada waktu untuk hanya sekedar membalas pesanku?'. Pikir Raya.


"Ini Raya, aku lagi nanya gaun yang bagus sama dia." Jawab Hani santai.


"Matiin dulu ja!" Perintah Rasyid.


"Tap..." Hani hendak membantah, namun ponselnya di rampas oleh Rasyid.


"Ay, nanti lagi ya!" Ucap Rasyid singkat.


"I.." Belum sempat Raya menjawab apapun sambungan telpon telah terputus.


Raya menatap telpon genggamnya dengan perasaan bercampur aduk. Butiran bening dari pelupuk matanya sudah mendesak ingin keluar. Rasanya Raya ingin menangis saat ini juga.


Selama sisa perjalanan Raya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Hingga akhirnya mereka sampai bandara Raya masih tetap bungkus seribu bahasa. Hal itu membuat Beni dan juga Yana sedikit aneh.


"Ra!" Panggil Beni, namun tidak di respon sama sekali oleh Raya.


"Raya?" Panggil Yana sambil menepuk pundak Raya pelan.


Akhirnya Raya merespon. Namun hanya sebuah tatapan, tanpa suara.


"Kamu kenapa?" Tanya Beni pelan sambil menatap Raya.


Raya hanya menggeleng sambil tersenyum.


"Kamu perasaan habis terima telpon yang awalnya semangat empat lima, berubah jadi moster pendiam, Ra!" Jelas Yana.


"Telpon apa?" Tanya Beni yang tidak tahu menahu tentang telpon yang di bahas oleh Yana.


"Nggak tahu juga!" Ucap Yana.


"Aku nggak apa-apa, cuman capek aja perjalanan jauh kan?" Jelas Raya menenangkan kedua temannya.


"Yakin cuman capek?" Tanya Beni penasaran.


Raya menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.


"Nggak yakin!" Ucap Yana sambil memicingkan mata ke arah Raya.


"Terus aku harus gimana biar kamu yakin Yana cantik?" Ucap Raya sambil mencolek dagu Yana.


"Salto di bandara sepertinya bukan ide yang buruk?" Ucap Yana sambil bergaya seolah-olah sedang berfikir keras.


"Boleh juga, bisa viral ini!" Tambah Beni sambil mengeluarkan ponselnya.


"Dasar pasangan gila, nggak waras!" Bentak Raya sambil memukul lengan kedua orang didepannya.


"Hahahah...." Yana dan Beni tertawa puas melihat reaksi Raya yang kesal kepada mereka.

__ADS_1


"Tapi boleh juga di coba!" Ucap Raya tiba-tiba setelah tawa Beni dan juga Yana berhenti.


"Coba apa?" Tanya Yana.


"Salto di bandara, kalau bisa di lapangan terbangnya nanti!" Usul Raya aneh.


"Aneh!" Ucap Yana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi artinya dia udah normal!" Jelas Beni menepuk pundak Yana.


Setelah itu mereka bercanda bersama sambil menunggu jadwal terbang mereka. Sesekali Beni dan Yana menanyakan kabar Rasyid yang di jawab Raya dengan bercanda saja.


Ketika waktu penerbangan tinggal 5 menit lagi. Raya mendapatkan panggilan dari Rasyid, Raya langsung saja mengangkatnya.


Didalam hati Raya mengucapkan matra 'Ingat hanya teman, jangan baper!' Pikirnya.


"Halo!" Ucap Raya sesopan mungkin.


"Ay, maaf ya tadi aku matikan!" Pinta Rasyid lembut.


"Nggak perlu minta maaf kali!" Ucap Raya pelan.


"O, Iya aku juga nggak sempet bales pesan ataupun kirim pesan ke kamu!" Pinta Rasyid lagi.


"Aku tahu kamu pasri lagi sibuk!" Jawab Raya menenangkan.


"Iya, aku lagi mempersiapkan pernikahan!" Jelas Rasyid.


"Pernikahan?" Tanya Raya kaget.


Pasalnya Seingat Raya, beberapa hari yang lalu ketika Raya mendengar Rasyid sedang berbicara di telpon dengan Hani, mereka berdua membahas pertunangan bukan pernikahan.


"Iya, pernikahan. Kenapa?" Tanya Rasyid.


"Nggak ada. Selamat ya!" Ucap Raya sambil mencoba tersenyum.


" Kasih selamanya nanti ja, kalau kamu sudah di jakarta!" Pinta Rasyid.


"Oke, aku tutup dulu ya. Aku sudah harus masuk pesawat!" Pinta Raya sambil langsung mematikan ponselnya.


Dari sudut mata Raya mengalir butiran bening yang sudah tidak dapat lagi terbendung oleh semua kata-kata yang coba Raya susun dalam otaknya, agar dia tetap waras.


*****


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (11 bab)




Brondong Meresahkan (11 bab)


__ADS_1



__ADS_2